Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 23 September 2024, “Dapat Melihat CahayaNya”
Pada tanggal 20 September 1918, saat berdoa di balkon tempat ibadahnya, penglihatan tentang Kristus kembali hadir.
Oleh: Bruder Pio Hayon, SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 23 September 2024, “Dapat Melihat Cahayanya”
Hari Senin Biasa Pekan XXV
PW. Sto. Padre Pio, Imam
Bacaan I: Ams. 3: 27-34
Injil: Luk. 8: 16-18
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai sejahtera untuk kita semua. Cahaya itu dapat terlihat kalau ada penerang karena sumber cahaya itu adalah penerangnya. Jika tak ada penerangnya maka pasti tak ada cahayanya. Maka kalau kita mau melihat cahaya maka harus ada sumber penerangnya. Dari penerang itulah cahanya memancarkan cahaya bagi semua yang ada di sekitarnya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 21 September 2024, “Berdirilah Mateus, Lalu Mengikuti Dia”
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Di hari pertama di pekan ke XXV ini, gereja secara khusus memperingati santo Padre Pio, seorang imam. Padre Pio dilahirkan pada 2 Mei 1887 di Pietrelcina, sebuah desa kecil yang terletak di bagian selatan Italia. Orang tuanya memiliki nama Guiseppa dan Gracio Forgione.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 21 September 2024, Pesta Santo Mateus, Rasul dan Pengarang Injil
Ia menerima sakramen baptis satu hari setelah ia lahir, dengan nama baptis Francesco. Francesco memiliki seorang saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan. Keluarga Forgione adalah suatu keluarga yang religius, yang mengutamakan Tuhan di atas segala hal.
Mereka mengikuti Misa setiap hari, melaksanakan doa Rosario setiap malam, dan berpuasa tiga kali dalam seminggu. Walaupun tidak dapat membaca, orangtua Francesco mampu mengingat isi Kitab Suci dan menyampaikan cerita-cerita dari Kitab Suci kepada anak-anak mereka.
Meskipun tidak memiliki kekayaan materi, keluarga Forgione sangat berlimpah dalam iman dan kasih kepada Tuhan. Sejak kecil, Francesco sudah menunjukkan indikasi ketakwaan yang luar biasa. Pada saat berusia 5 tahun, ia mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus. Francesco merupakan seorang anak yang pendiam dan suka beribadah serta mengunjungi gereja. Ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan malaikat pelindungnya, serta dengan Tuhan Yesus dan Ibu Maria.
Pada usia 10 tahun, Francesco merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam dan ia pun mengungkapkannya kepada orang tuanya. Orangtuanya kemudian mendatangi komunitas Capuchin di Morcone, yang terletak 13 mil di sebelah utara Pietrelcina, untuk menanyakan apakah mereka bersedia menerima Francesco. Francesco diterima, tetapi ia harus menyelesaikan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi di sekolah umum terlebih dahulu. Oleh karena itu, ayahnya pergi ke Amerika untuk mencari nafkah, sehingga dapat membayar guru yang akan mengajar Francesco.
Pada akhirnya, di usia 15 tahun, Francesco bergabung dengan biara Capuchin. Ia memilih nama Pio sebagai bentuk penghormatan kepada Santo. Pius V, santo pelindung dari Pietrelcina. Ia disebut dengan nama Fra (saudara), hingga ia ditahbiskan sebagai seorang imam.
Padre Pio menerima tahbisan sebagai imam pada 10 Agustus 1910. Baginya, perayaan Ekaristi merupakan inti dari hidupnya. Dalam banyak kesempatan saat memimpin perayaan Misa, ia sering masuk ke dalam ketenangan kontemplatif di berbagai bagian, sehingga Misa berlangsung hingga beberapa jam. Pada tanggal 20 September 1918, saat berdoa di balkon tempat ibadahnya, penglihatan tentang Kristus kembali hadir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pio-Hayon-SVD-Bruder_01.jpg)