Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 5 September 2024, Kami Tidak Menangkap Apa-apa
Simon dan Andreas pernah alami kegagalan dalam menangkap ikan, pada hal mereka adalah para nelayan berpengalaman.
Oleh: Pastor John Lewar, SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 5 September 2024, Kami Tidak Menangkap Apa-apa
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor
Teresa dr Kalkuta
Lectio: 1Korintus 3:18-23; Mazmur 24:1-2.3-4ab.5-6
Injil: Lukas 5:1-11.
Meditatio
Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan. Misalnya, mengalami kegagalan dalam menjalankan sebuah usaha seperti berdagang, beternak atau bertani. Orang bisa mengalami kegagalan dalam studi, mengerjakan soal ujian, dalam menyelesaikan tugas sekolah, skripsi atau tesis dan sebagainya. Orang bisa mengalami kegagalan dalam pilkada, pilgub atau pilpres.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 3 September 2024, Membawa Afirmasi Positif untuk Mengubah Lingkungan
Dari Injil Lukas hari ini kita tahu bahwa Simon dan Andreas pernah alami kegagalan dalam menangkap ikan, pada hal mereka adalah para nelayan berpengalaman. Mereka tahu di mana biasanya ada banyak ikan.
Namun, malam itu mereka gagal total. Kata Simon kepada Yesus yang memberi perintah supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap
apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:4).
Seorang nelayan berpengalaman seperti Simon, ternyata bisa gagal. Bersama nelayan yang lain, Simon telah bekerja keras sepanjang malam namun tidak berhasil menangkap ikan seekor pun. Belajar dari pengalaman Simon, kita dapat memetik dua pesan berharga:
Pertama, tidak patah semangat. Kegagalan menangkap ikan setelah sepanjang malam bekerja keras, tidak membuat Simon trauma dan tidak mau melakukannya lagi, tidak. Ia tidak patah semangat. Simon dapat menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar Ketekunan dan kesabaran selalu memberikan dampak positif dalam setiap usaha, apa pun itu.
Kedua, mau taat. Bekerja keras sepanjang malam pasti menguras energi, emosi dan budi. Simon pasti merasa lelah setelah bekerja keras sepanjang malam. Namun, ia mau taat kepada Yesus, Sang Guru. Itulah sebabnya, kepada-Nya Simon berkata, “Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (ay. 5).
“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” didengar, ditangkap dan dimengerti oleh Simon bukan hanya sebagai sebuah permintaan, tetapi lebih sebagai perintah. Karena sifatnya perintah, maka Simon mentaatinya. Ia menebarkan jala juga. Bersama para nelayan lainnya dia bersedia untuk melakukannya sekali lagi, bukan di tempat yang sama, tetapi di tempat yang lain, di tempat yang dalam, yang Yesus tahu di situlah ikan-ikan sudah berkumpul.
Orang mengatakan, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.” Dan sebagian orang mengalami keberhasilan yang tertunda tersebut dalam kurun waktu yang (terlalu) lama. Mengapa? Karena mereka terlalu cepat menyerah setelah sekali gagal. Mereka tidak segera mencobanya lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Lewar-SVD.jpg)