Kunjungan Paus Fransiskus
Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia Diharapkan Bisa Menyuarakan Perjuangan Masyarakat Adat
Kunjungan Paus Fransiskus pada September mendatang diharapkan menyuarakan kegelisahan dan kian meneguhkan perjuangan mereka.
Banyak pihak berharap kunjungan Paus, secara politik dan sosio-ekologis, bermanfaat bagi semua, tidak hanya masyarakat adat. Kemudian, menumbuhkan kesadaran para pengambil kebijakan serta meneguhkan perjuangan masyarakat adat.
Pengamatan Kompas di Kalimantan Barat 10 tahun terakhir menunjukkan, masyarakat adat, khususnya masyarakat Dayak, memiliki hutan adat yang kaya tanaman obat dengan kearifan lokal pengobatan. Penelitian yang dilakukan sejumlah akademisi Universitas Tanjungpura, Pontianak, menemukan, jumlah sub-etnis Dayak di Kalimantan Barat mencapai 158 subsuku Dayak. Masing-masing memiliki pengetahuan dan tradisi pengobatan memanfaatkan tanaman di hutan. Di subsuku Dayak Uud Danum, misalnya, ada sekitar 100 tanaman obat yang diidentifikasi.
Kearifan lokal masyarakat Dayak dalam berladang di perbukitan juga membuat mereka memiliki ketahanan pangan. Saat masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kenaikan harga beras pada Februari, Igoh (59), warga adat Dayak Iban, di Rumah Panjang Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, justru memiliki stok beras melimpah di lumbung dari hasil berladang. Bahkan, stok panen tahun lalu belum habis saat itu.
Sejumlah masyarakat adat bahkan mampu berbagi beras kapada sanak keluarga di kota. Margareta (36), warga Kabupaten Kubu Raya, misalnya, mendapat kiriman beras dari orangtuanya di Kabupaten Sanggau dengan menyisihkan sebagian panen.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti (Persaudaraan dan Persahabatan Sosial) pada salah satu butirnya menyebut masyarakat adat. Dalam uraiannya secara tertulis, masyarakat adat tidak menentang kemajuan meskipun mereka memiliki gagasan berbeda tentang kemajuan.
Masyarakat adat dinilai sebagai kelompok yang lebih humanistis daripada budaya modern bangsa-bangsa maju. Intoleransi dan penghinaan terhadap budaya rakyat asli benar-benar bentuk kekerasan yang khas bagi ”para guru moral” tanpa kebaikan.
(kompas.id)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.