Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 16 Juli 2024, Bertobat dan Jangan Sok Suci
memulai pertobatan yang benar. Pikirkanlah sekiranya Yesus berada di hadapanmu, apa yang Ia akan lakukan kepadamu?
Oleh: Pastor John Lewar,SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Selasa 16 Juli 2024, Bertobat dan Jangan Sok Suci
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor
Hari Biasa Pekan XV
St. Perawan Maria dr Gunung Karmel
Yesaya 7:1-9; Mazmur 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8
Injil: Matius 11:20-24
Meditatio:
Dalam bacaan Injil Matius kali ini, sepertinya upaya Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah di wilayah Galilea dan sekitarnya tidak terkesan sukses, karena ini berakhir dengan semacam kutukan akan kehancuran wilayah itu.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 14 Juli 2024, "Anda dan Saya Dipanggil dan Diutus Tuhan"
Dari khotbah di bukit yang panjang lebar sampai Ia turun dan bahkan sepuluh kesembuhan dan mujizat lainnya sepanjang bab 9 injil Matius, tidak dapat sepenuhnya membuat mereka bertobat.
Namun apa yang terjadi bukanlah masalah sukses dan kegagalan, melainkan lebih pada peneguhan, segala apa yang diajarkan Yesus dari khotbah-khotbah dan mujizat kesembuhan bukanlah sarana Yesus untuk mencari kesuksesan atau meraup simpati sebanyak-banyaknya, namun segala upaya ini semata untuk menawarkan kabar Injil.
Tetapi apa yang menjadi penawaran akan menghasilkan pilihan, Khorazim, Betsaida dan Kepernaum telah menunjukkan pilihan mereka, mereka hanya mendengar dan takjub tetapi segera kembali
kepada kebiasaan mereka, mereka tidak bertobat.
Yesus mengatakan bahwa tanggungan kedua kota asing ini akan lebih ringan karena mereka bertobat dibandingkan dengan Khorasim dan Betsaida yang mengalami banyak mukjizat tetapi tidak mau bertobat. Yesus mengecam kedegilan hati mereka yang tidak mau bertobat dan percaya.
Kecaman Yesus pada Kapernum sangat keras, karena Kapernaum menjadi pusat pengajaran Yesus yang pertama dan bahkan telah dinubuatkan pula oleh Yesaya(Yes 8:23-9;1) sebagai negeri yang melihat terang, namun negeri
kegelapan yang mendapat kesempatan untuk melihat terang itu tidak bersinar melainkan mereka kembali pada kegelapan mereka. Ini seperti gelas yang dipecahkan, bukan jatuh dilepaskan dari tangan melainkan dibatingkannya ke bawah, begitulah Kapernaum jika tanpa pertobatan.
Mereka direndahkan secara ekstrim sampai ke dunia orang mati. Tanggungan mereka akan lebih berat pada
hari penghakiman terakhir dibandingkan dengan tanggungan Sodom yang pernah jatuh dalam dosa. Kota-kota ini tidak beragama, alias kafir, namun mereka lebih terbuka terhadap pewartaan Yesus.
Tuhan hendak menegakkan kota-kota-Nya untuk selama-lamanya (Mazmur 48:9d). Hal yang sama dilakukan oleh Yesus Putera-Nya dengan mengecam kota-kota yang disebutkan di atas karena mereka tidak bertobat. Mengecam
dengan kata “celakalah” menunjukkan kesedihan, derita dan rasa kasihan yang besar dari Yesus kepada mereka.
Yesus melihat orang-orang saat itu memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Mereka mengalami mukjizat tetapi tidak merasa apa-apa. Tidak ada rasa syukur dari dalam hati kepada Tuhan.
Pengalaman Yesus adalah pengalaman kita semua. Banyak kali kita juga merasa kecewa, dengan orang-orang yang kita layani. Kita merasa kecewa karena mereka tidak berubah menjadi lebih baik lagi, tidak memiliki rasa syukur atas
pelayanan kita. Kita juga bisa sampai ke titik ekstrim dengan mengatakan “Rasanya saya tidak berguna lagi”.
Kita membuang waktu saja untuk melayani mereka. Memang menyedihkan dan ini sangat manusiawi. Tetapi Tuhan Yesus membantu kita untuk tidak berhenti dalam melayani. Kita tidak boleh berhenti untuk melanjutkan mukjizat-mukjizat Tuhan bagi sesama.
Pada hari ini Tuhan mengubah mindset kita. Menjadi orang katolik saja tidak cukup. Menerima baptisan saja juga tidak cukup. Kita harus melakukan dan mengalami transformasi, perubahan arah hidup yang jelas dalam proses
pertobatan kita.
Bertobat berarti kita sadar diri untuk berbalik kepada Tuhan secara radikal dan total. Banyak kali kita puas sebagai orang katolik karena baptisan saja tetapi kita tidak mau bertobat. Kita tidak jauh berbeda dengan kota-kota yang dikecam Yesus ini karena menutup diri, tidak mau bertobat, merasa diri suci dan tidak merasa berdosa dalam diri kita.
Mari kita berubah menjadi lebih baik lagi dengan memulai pertobatan yang benar. Pikirkanlah sekiranya Yesus berada di hadapanmu, apa yang Ia akan lakukan kepadamu?
Missio:
Hidup tanpa iman kepada Yesus berakibat fatal bagi kelangsungan hidup kita. Kehadiran dan karya Yesus dalam hidup harus kita terima dan akui serta tanggap secara serius. Hidup tanpa iman kepada Yesus ibarat sebuah kota yang dijungkirbalikkan dan diubah menjadi kota mati. Hari ini kita membangun kepercayaan penuh kepada Kristus lewat sabda dan karyaNya.
Doa:
Bapa yang Kudus, kami menyembah Engkau dan bertobat dengan air mata kami atas perbuatan kesalahan kami. Kami memohon pengampunan-Mu atas iman kami yang kecil dan lemah. Bebaskan kami dari kebodohan dan sucikan niat kami agar pantas dan layak di hadiratMu yang kudus. Demi Kristus Tuhan
kami...Amin.
Sahabatku yang terkasih. Selamat hari Selasa. Salam, doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.(*)
Ikuti Berita POSKUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.