Liputan Khusus
Lipsus - Penumpang Membeludak Antre Tiket di Pelabuhan Tenau Kupang
Seperti pada Kamis 4 Juli 2024 malam, terjadi penumpukan penumpang Kapal perintis rute dari Pelabuhan Tenau Kupang ke Sabu dan beberapa pulau lainnya.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sejumlah penumpang meminta layanan kapal perintis Tol Laut ditingkatkan. Sebab, seringkali terjadi penumpukan penumpang akibat pelayanan yang tidak maksimal.
Seperti pada Kamis 4 Juli 2024 malam, terjadi penumpukan penumpang Kapal perintis rute dari Pelabuhan Tenau Kupang ke Sabu dan beberapa pulau lainnya.
Penumpang berdesak-desakan mengantre tiket di loket yang berada di Terminal Penumpang, Pelabuhan Tenau Kupang. Banyaknya penumpang membuat antrean mengular.
Baca juga: Ombudsman RI Perwakilan NTT Soroti Gap Taxi Online Dilarang Masuk Pelabuhan Tenau Kupang
"Kalau bisa layanan jual beli tiket itu diperbaiki. Memang, kalau kejadian seperti kemarin itu, mungkin karena loket yang tidak dibuka semua, mungkin saja," kata Ignas Lanang (48), Jumat (5/7), warga yang pernah menumpang kapal perintis ini dari Kupang.
Diceritakan, layanan kapal perintis terlebih pada penjualan tiket kerap menjadi persoalan. Jika layanan tiket diberlakukan secara manual, sebaiknya loket penjualan dibuka beberapa unit. Sisi lain, para petugas juga harus ada di loket.
"Kadang-kadang, loketnya kelihatan terbuka, tapi petugasnya tidak ada. Otomatis kita hanya antre di satu loket. Kan itu juga tambah persoalan lagi," kata dia.
Persoalan berikutnya, kata Ignas, pola untuk check in atau tanda masuk ke kapal. Sebaiknya, tanda masuk bisa dilakukan ketika membeli tiket sehingga penumpang hanya menunjukkan identitas dan tiket ke petugas jaga.
Baginya, beberapa hal sederhana itu akan menjadi masalah besar jika mekanisme untuk naik ke atas kapal dilakukan dengan lebih maksimal.
Apalagi, Tenau sebagai pelabuhan paling lama kapal sandar, juga memperhatikan waktu, terutama pelayanan ke penumpang di loket tiket.
"Maksud saya, kalau kapal itu berangkat jam 5 sore, maka layanan tiket harusnya sudah bisa dibuka sejak pagi. Petugas sudah disiagakan di loket-loket tiket. Begitu juga penumpang, agar tahu jadwal yang ada," ujarnya.
Dia menyarankan, layanan tiket online yang selama ini diterapkan Pelni bisa dimanfaatkan penumpang. Ia meminta Pelni agar mengevaluasi layanan itu seperti pada penerbangan udara.
Kata dia, penumpang bisa memesan tiket dan langsung check in dalam layanan tiket online itu. Tujuannya agar tidak terjadi penumpukan di pelabuhan ketika hendak berangkat.
"Bisa saja penumpukan karena mereka antre mau check in atau lainnya. Kalau seperti di bandara datang kita tunjuk kode booking dan check in, petugas lihat identitas, langsung masuk. Saya pikir ini lebih baik kalau digunakan," ujarnya.
Menurut Ignas, persoalan semacam ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pengelola seperti Pelni. Calon penumpang, juga harus membiasakan diri untuk tertib. Demikian juga, kata dia, dengan waktu keberangkatan. Ia menyarankan agar bisa datang lebih awal untuk pemeriksaan tiket dan barang bawaan.
Hal yang sama disampaikan Gabriel Dura, penumpang lainnya yang pernah menggunakan kapal perintis dari Dermaga Wulandoni ke Menanga, Solor. Dia bilang, fasilitas yang ada di kapal itu terbilang bagus.
"Kapalnya bagus. Kalau sempat naik itu memang bagus. Penumpang jarang. Jadi tidak ramai," kata Gabriel Dura.
Dia hanya menyarankan agar kapal-kapal seperti perintis bisa memaksimalkan pelayanan. Sebab, kapal ini salah satunya untuk memperlancar distribusi barang dari provinsi kepulauan ini.
Menurut dia, calon penumpang juga perlu memperhatikan waktu operasional kapal sehingga bisa menyesuaikan dengan tiket yang dibeli. Dia yakin, kalau semua komponen bekerja sama, layanan bisa lebih baik.
"Kita sarankan, penjualan tiket, terutama untuk agen juga jangan dibatasi sehingga penumpang langsung beli ke agen, tanpa harus ke pelabuhan. Di pelabuhan itu hanya datang, check in langsung ke kapal. Kalau bisa loket atau petugas check in juga perlu banyak, sehingga tidak ada penumpukan," ujarnya.
Musim libur
Kepala Kantor PELNI Cabang Kupang, Harianto Sembiring merespons keluhan penumpang yang terjadi pada Kamis malam. Dia mengaku, penumpukan itu karena bersamaan dengan musim liburan.
"Jadi pas saat itu, banyak transportasi lain, banyak yang nggak jalan. Jadi salah satunya yang terdekat untuk masyarakat pulang ke daerah, hanya kapal (Tol Laut) itu," kata dia, Jumat (5/7).
Dia mengatakan ada dua kapal perintis yang beroperasi di NTT dan dikelola Pelni. Dua kapal itu berkapasitas 500 penumpang. Terhadap kejadian viral Kamis malam, ia mengaku sebetulnya kapal itu sudah sesuai kapasitas.
Bahkan, karena masih banyak penumpang yang hendak berangkat, pihaknya berkoordinasi dengan regulator atau pemberi izin berlayar agar kapal perintis itu mendapat tambahan penumpang. Kebijakan itu terpaksa dilakukan karena penumpang yang sudah berada di pelabuhan.
"Adanya antrian penumpang kemarin, kita koordinasi sama regulator. Awalnya kapal sudah full, jadi diizinkan untuk tambah sekitar 100 lagi," ujarnya.
Sekalipun sudah mendapat tambahan jelasnya, ternyata masih banyak juga penumpang yang tidak bisa berlayar
karena kapasitas penumpang sudah berdasarkan izin yang dikeluarkan. Harianto memaklumi adanya luapan emosional dari orang lain atau calon penumpang akibat hal itu.
Dia membandingkan dengan pola yang ada di penerbangan, justru lebih ketat. Malah, kebijakan di transportasi laut lebih fleksibel, namun tetap memperhatikan faktor keselamatan.
Harianto mengatakan, harusnya penjualan tiket kapal perintis dilakukan di atas kapal dan SITOLAUT. Kejadian viral itu, kata dia, terpaksa dilakukan pihaknya menjual tiket di loket karena penumpang yang banyak. Jika penjualan tiket di atas kapal, maka penumpang tidak tersaring penumpang yang memiliki tiket atau tidak.
Konsekuensi dari penjualan tiket di atas kapal dengan penumpang yang banyak, juga berpengaruh ke layanan kapal yang dinilai tidak baik. Bisa jadi, penumpang akan saling berdesak-desakan di atas kapal hingga jumlah penumpang melebihi manifest kapal.
"Hingga kemarin di pelabuhan kita jualannya di terminal. Sebenarnya bukan tempat jual tiket, banyak penumpang yang serbu naik ke atas kapal, kita tidak bisa saring. Sehingga kita saring dari darat," ujarnya.
Harianto mengaku, kejadian itu baru pertama terjadi. Selama ini jumlah penumpang paling banyak tercatat 200-an orang. Dia menduga, membludaknya penumpang ke kapal perintis bersamaan dengan beberapa operator pelayaran lainnya yang tidak diizinkan otoritas karena cuaca buruk.
Sehingga, ujar dia, kapal perintis menjadi satu-satunya pilihan para penumpang ketika situasi seperti saat ini. Selama ini, Pelni sebetulnya sudah menyediakan layanan pembelian tiket online yang ada di Pelni Mobile atau SITOLAUT. Penumpang bisa memesan tiket dengan sistem yang ada.
"Jadi beli tiket lewat aplikasi ini bisa lebih mudah. Kemarin itu memang soal kapasitas kapal saja. Yang diizinkan hanya 500 dan kita minta tambahan juga hanya 100. Diskresi kebijakan. Apalagi kondisi lapangan, cuaca buruk lagi kemarin," ujar.
Harianto menjelaskan, penambahan armada bisa dilakukan oleh Pelni jika saat tertentu. Itu pun dilakukan koordinasi sejak beberapa bulan sebelumnya. Bila seperti situasi seperti kemarin (Kamis, Red), kemungkinan besar tidak bisa dilakukan penambahan armada.
Menurut dia, tambahan armada akan sangat memungkinkan dilakukan jika saja penumpang sudah memesan tiket jauh hari. Dari situ, manajemen akan melihat dan melakukan persiapan sehingga adanya penambahan armada.
Sejauh ini, hanya ada dua kapal perintis yang dioperasikan Pelni yakni KM Sabuk Nusantara 90 dan 108. Harianto mengingatkan calon penumpang bisa menggunakan layanan penjualan tiket online di sistem dan aplikasi milik Pelni.
"Jangan terlalu memaksakan kehendak apabila kapasitas kapal sudah penuh. Kemarin itu memang situasional. Membeli tiket juga jauh hari, harap menjadi perhatian kita semua. Bisa pesan tiket lewat SITOLAUT dan PELNI Mobile," ujarnya. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.