Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 7 Juni 2024, “Mengalirlah Darah Serta Air”
Marguerite Marie Alacoque, yang mengatakan bahwa ia mengetahui devosi ini dari Yesus dalam suatu pengelihatan.
Para pendahulu dari devosi ini hadir dalam bentuk-bentuk tertentu pada Abad Pertengahan di berbagai sekte mistis Kristen.Dalam tradisi Katolik Roma, Hati Kudus Yesus berhubungan erat dengan Tindakan Reparasi pada Yesus Kristus.
Dalam ensikliknya Miserentissimus Redemptor, Paus Pius XII menyatakan: "semangat untuk memperbaiki kesalahan atau mengganti rugi kesalahan (reparasi) selalu menempati posisi yang terpenting dan terdepan di dalam penyembahan yang ditujukan kepada Hati Yesus yang Paling Kudus".
Pada abad ke sebelas dan ke duabelas, devosi kepada Hati Kudus Yesus mulai dikenal yang bermula dari para biarawan. Tidak diketahui pasti siapa yang menyusun teks devosi ini atau siapa yang pertama kali melakukan devosi ini.Dari abad ke tigabelas sampai abad ke enambelas, devosi ini terus menyebar.
Banyak orang melakukan devosi ini baik secara pribadi bahkan juga oleh banyak kongregasi religius seperti Fransiskan, Dominikan, Karthusian, dan lainnya.
Devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus ini seharusnya mengingatkan kita untuk semakin menyadari betapa Allah sangat mencintai manusia melalui hati Yesus yang telah meneteskan darah dan air dari lambungNya yang Kudus itu.
Darah itu melambangkan korbanNya di atas salib dan air itu lambang pembaptisan yang dimeteraikan dalam Roh Kudus. Melalui darah dan air itu kita dibersihkan dan sekaligus disucikan dari dosa dan salah. Darah dan air itu tergambar jelas dalam kisah paling tragis yang dialami oleh Yesus sendiri yaitu penyaliban.
Kisah kasih Allah dalam penyaliban inilah yang disebut oleh St. Paulus : “Di dalam Dia kita memperoleh keberanian dan jalan menghadap kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.” Dan itu tergambar lewat lambung Yesus yang terbuka ketika ditikam dengan tombak oleh algojo.
Dan Pada saat itulah, Darah dan Air keluar. Allah telah membuka jalan bagi kita manusia melalui lambung yang terbuka oleh tombak algojo itu. Caranya memang terlihat sangat mengerikan tapi hanya dalam cara itulah Allah menunjukkan belaskasihanNya kepada kita umat manusia.
Teladan Yesus ini lalu menjadi sulit bagi kita untuk mencontohinya pada jaman kita sekarang ini karena kita manusia sangat egoistis yang mementingkan diri sendiri sehingga kita akan sangat sulit berkorban bagi orang lain. Kita lebih menuntut agar orang lainlah yang harus berkorban untuk kita dan bukan kita.
Sikap inilah yang membuat Allah tak segan-segannya turun tangan secara langsung melalui dan dalam Yesus. Marilah dalam pesta Hati Kudus Yesus ini kita belajar untuk siap rela berkorban bagi sesama di sekitar kita.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Pesan untuk kita, pertama: Darah dan Air yang telah memancar dari Hati Yesus yang mahakudus sebagai sumber kerahiman bagi kami, Engkaulah andalanku.
Kedua, hanya dengan cara inilah, manusia yang jatuh ke dalam dosa, dipulihkan dan diselamatkan.
Ketiga, maka kita harus selalu menghormati Hati Kudus Yesus dengan cara hidup suci dan siap memikul salib-salib hidup kita dengan penuh cinta.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.