Berita Sabu Raijua
Kondisi Cuaca Pengaruhi Hasil Rumput Laut di Sabu Raijua
Orang Sabu Raijua umumnya menyebut bebijian itu Woke Lai Linga yang dalam bahasa Indonesia berarti Lagundi atau lada hutan.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Mata pencaharian masyarakat di sabu Raijua berbeda-beda tergantung pada kondisi desa masing-masing.
Masyarakat pesisir di Kolo Uju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua mayoritas penduduknya bermatapencaharian petani untuk bertahan hidup.
Saat air laut surut, setiap hari Agustina bergegas ke pantai membawa karung untuk mencari rumput laut. Kalau beruntung, Agustina membawa pulang sedikit rumput laut, kalau tidak, ia akan membawa pulang karung kosong.
"Kalau ada agar yang rusak di pinggir, kita pilih. Kalau tidak ada, ya pulang kosong,"ujar Agustina saat ditemui di Desa Menia pada Rabu, 15 Mei 2024.
Sekitar pukul 11.00 Wita, Agustina keluar dari pantai menuju jalan raya hendak kembali ke rumahnya. Ia menggendong karung biru berisi rumput laut sembari memegang potongan botol kemasan air mineral berisi bebijian.
Orang Sabu Raijua umumnya menyebut bebijian itu Woke Lai Linga yang dalam bahasa Indonesia berarti Lagundi atau lada hutan.
Lagundi yang disebutnya bisa dijual dengan harga Rp40 ribu sampai dengan Rp50 ribu per kilogram.
Sepertinya hari ini Agustina beruntung, 1/4 karung berukuran sedang terisi rumput laut yang dicarinya sejak pagi. Nantinya rumput laut ini dikeringkan dan dijual atau diolah menjadi pangan lokal.
Baca juga: Pilkada Sabu Raijua, Tidak Ada Bakal Calon Independen Daftarkan Diri di KPU Sabu Raijua
Ketua RT 002 Kolo Uju, Anis Ipir mengatakan, untuk pembudidayaan rumput laut ini, mereka harus membentuk satu kelompok dengan SK Bupati. Kemudian mendapatkan bantuan dari Dinas KKP sebagai pendamping serta bantuan pemerintah daerah berupa bibit, tali dan sebagainya. Namun semenjak kehadiran tambak garam, banyak petani rumput laut, dan petani sawah beralih menjadi petani garam.
Ia menuturkan, sejak lama warganya membentuk kelompok tani budidaya rumput laut atau agar-agar (agar) lazim orang Sabu Raijua menyebutnya untuk menunjang kebutuhan hidup mereka. Hingga saat ini masyarakat pembudidaya rumput laut di Kolo Uju masih aktif.
Namun karakter rumput laut yang berbeda juga sangat dipengaruhi kondisi air laut dan cuaca di Sabu Raijua. Jika terlalu panas, rumput laut rentan terkena penyakit seperti ubah warna menjadi merah kemudian hancur. Jika curah hujan terlalu banyak maka bisa menyebabkan kerusakan pada rumput laut. Kualitas dan keberhasilan produksi rumput laut sangat bergantung pada kadar air.
"Kadang kondisi bagus kadang kondisinya kurang bagus. Kalau bagus itu kita panen banyak,"ujar Anis yang juga menjadi anggota kelompok tani rumput laut ini.
Menurutnya, kondisi yang baik untuk pembudidayaan rumput laut biasanya periode Januari sampai dengan Maret kemudian pada Desember sampai dengan Januari.
Sementara periode Mei sampai dengan November kondisi cuaca kurang mendukung untuk pembudidayan rumput laut. Biasanya pada periode ini, hasil rumput laut yang diperoleh para petani sangat sedikit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rumput-laut-sabu.jpg)