Minggu, 3 Mei 2026

Stok Gula Pasir Langka, Aprindo Sebut Distribusi Terlambat sebagai Biang Keroknya

Banyak distributor gula yang enggan menyalurkan produknya karena harga jual jauh lebih tinggi dari harga beli.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
ILUSTRASI
Gula pasir mengalami kelangkaan dalam beberapa waktu belakangan ini. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia ( Aprindo) mengungkap biang kerok langkanya suplai gula pasir belakangan.

Ketua Umum Aprindo, Roy Nicholas Mandey menjelaskan, salah satu penyebab gula langka itu karena berbenturan dengan musim libur Lebaran. Alhasil distribusi gula mengalami perlambatan.

"Orang sudah mulai mudik, ada pembatasan dan juga transportasi (logistik) tidak boleh masuk ke tol. Jadi itu setelah Lebaran ini baru bergerak (distribusi gulanya)," jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jumat (26/4/2024).

Disamping itu, selama bulan Ramadan harga gula juga mengalami kenaikan. Sedangkan, harga acuan pemerintah (HAP) yang ditetapkan hanya sebesar Rp 16.000 per kilogram.

Banyak distributor yang enggan menyalurkan produknya karena harga jual jauh lebih tinggi dari harga beli.

"Satu hal, kalau harga belinya di atas harga jual ya pasti barang akan langka. Berarti harus ada relaksasi terhadap harga acuan dan Harga Eceran Tertinggi (HET). Sehingga supaya harga belinya di bawah harga jual karena kalau gak ada pelaku usaha yang mau beli mahal. Belinya tinggi karena jualnya HET atau acuan, itu yang menyebabkan langka," katanya.

Baca juga: Rayakan HUT ke-8 , PT MSM Lepas Gula Pasir Kristal Untuk Kebutuhan Jatim dan NTT

Seiring dengan hal itu, pemerintah pada awal April tahun ini telah menetapkan kenaikan HAP gula melalui Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Gula Konsumsi lintas Kementerian/Lembaga.

Mengacu pada input kondisi harga gula yang wajar, harga gula konsumsi di tingkat ritel atau konsumen ditetapkan sebesar Rp 17.500/kg.

Khusus untuk wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan wilayah 3 TP (Tertinggal, Terluar, Terpencil, dan Perbatasan) harganya sebesar Rp 18.500 per kg.

Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yadi Yusriadi mengungkapkan, menipisnya stok gula konsumsi ini karena banyak produsen yang belum berproduksi dan menunggu musim giling.

"Stok saat ini insayaallah hanya cukup sampai minggu kedua Mei," jelas Yadi pada Kontan.co.id, Senin (22/4/2024) lalu.

Yadi mengatakan, menipisnya stok ini menyebabkan harga gula konsumsi di tingkat pasar tradisional melonjak.

Sementara di pasar modern ada keterbatasan stok karena terikat dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP). "Beberapa daerah bahkan mengalami kelangkaan," ungkap Yadi.

Menurutnya, kondisi saat ini sulit diintervensi dengan kebijakan pemerintah, mengingat instrumen stok gula yang dikuasai oleh BUMN pangan sangatlah kecil.

Untuk itu, saat ini yang bisa dilakukan adalah mempercepat realisasi impor oleh Id Food sambil menunggu musim giling dari pabrik gula dalam negeri berproduksi.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved