Wisata NTT
Wisata NTT - Kampung Adat Praimadita: Serpihan Surga di Selatan Sumba Timur
Secara geografis luas wilayah Desa Praimadita, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur kurang lebih 50,51 kilometer persegi, dengan ketinggian ±10 m
BERI DAKU SUMBA
Oleh Taufik Ismail
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana Matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdiri di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku tanah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
Sepenggal puisi di atas menggambarkan situasi Pulau Sumba yang kaya padang
sabana dan ternak, tempat Umbu dan Rambu merenda hidup dalam kesederhanaan. Puisi ini
dibuat oleh Taufik Ismail pada tahun 1970 sebagai tanda rindu dan harapannya untuk bisa
menginjakkan kaki di tanah Sumba.
Taufik dengan apik menampilkan bayangannya tentang Sumba meski belum pernah menginjak tanah Marapu.
Berbekal kisah tentang Sumba dari sang Sahabat Umbu Landu Paranggi, Taufik mampu menorehkan pena tentang Sumba yang kharismatik. Baru 20 tahun setelah puisi ini digubah, Taufik akirnya benar-benar menginjakan kaki di pulau eksotis ini. Puluhan tahun setelahnya, Pulau Sumba ditahbiskan menjadi Pulau Terindah di dunia versi majalah Focus terbitan Jerman.
Dunia pelan tapi pasti mulai mengarahkan pandangnya ke Pulau Sumba sebagai salah satu destinasi tujuan pariwisata dunia. Pemerintah, LSM, pemerhati pariwisata mulai gencar berbagi informasi dan mempromosikan tentang Sumba di mata dunia. Titik-titik destinasi di Pulau Sumba mulai viral dan dikunjungi banyak wisatawan tak terkecuali para selebriti dunia seperti David Beckham bersama istri dan anak-anaknya.
Sumba mulai berkembang dari dua menjadi empat kabupaten yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Kabupaten Sumba Timur menjadi satu dari beberapa kabupaten lain yang mulai mengembangkan pariwisata sebagai fokus utama pembangunan di wilayan tersebut. Salah satu spot yang belum banyak diketahui namun menyimpan banyak kekhasan budaya dan panorama alam yang indah yakni Desa Praimadita, di selatan Kabupaten Sumba Timur.
Budaya Marapu yang kental, hamparan pantai dan pulau yang indah, kehidupan Raja Karera dan keturunannya serta dan adat-istiadat di wilayah tersebut menjadikan wilayah Sumba Selatan sebagai destinasi baru yang layak untuk dikunjungi wisatawan dunia.
Secara geografis luas wilayah Desa Praimadita, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur kurang lebih 50,51 kilometer persegi, dengan ketinggian ±10 meter di atas permukaan laut. Desa Praimadita memiliki posisi strategis di Pantai Selatan yang tepat menghadap langsung dua pulau terdepan NKRI di wilayah Kabupaten Sumba Timur, yakni Pulau Salura dan Manggudu.
Mengeksplor keistimewaan Desa Praimadita tak lengkap rasanya bila tidak sejenak mengelilingi beberapa destinasi wisata saat tiba di Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Anda bisa mulai dengan melakukan city tour, karena perjalanan ke Desa Praimadita cukup jauh dari kota. Beberapa kebutuhan dasar pun seperti snack, minuman, atau obat-obatan bisa dibeli di kota Waingapu sebelum keesokan harinya pergi ke Desa Praimadita.
City Tour
Saat tiba di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Anda wajib menikmati suasana kota kecil ini dengan segala sudut kota yang unik. Di Kota Waingapu Anda bisa mengunjungi Taman Sandelwood yang khas dengan patung kuda Sandelwood yang terkenal sebagai kuda tangguh dari Pulau Sumba. Suasana taman yang indah dengan aneka tanaman penyejuk mata bisa menjadi tempat yang indah untuk jogging di pagi atau sore hari atau sekedar berfoto ria.
Di beberapa sudut kota, Anda bisa mengunjungi pasar tradisional dan menikmati makan malam berupa seafood di Dermaga Kota Waingapu. Jika ingin bersantai, Anda bisa menikmati kuliner pinggir jalan seperti nasi goreng, jagung bakar sambil minum kopi atau wedang jahet di Taman Kota Waingapu. Bila Anda ingin lebih suka menikmati makan siang atau malam di retaurant maka Anda bisa memilih Mr. M Cafe. Di sana tersedia aneka makanan, roti dan jus.
Sementara bagi Anda yang ingin menikmati makan malam dengan interior ruangan yang lebih cozzy dengan live music maka PC Corner Waingapu menjadi tempat yang cocok untuk menikmati malam. Tak hanya makanan, ada pula snack dan aneka minuman yang bisa Anda nikmati. Di beberapas sudut Kota Waingapu juga ada beberapa spot yang menjual tenun ikat dan aksesoris khas Sumba yang bisa Anda beli sebagai oleh-oleh.
Selain menikmati suasan Kota Waingapu, Anda bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata sebelum menuju ke Desa Praimadita yang cukup jauh. Beberapa destinasi wisata di sekitar Waingapu diantaranya:
Kampung Adat Prailiu
Kampung Adat Prailiu terletak dua kilometer dari Kota Waingapu.
Meski berada di tengah Kota Waingapu, masyarakat di kampung ini tetap menjaga dan melestarikan adat dan budaya leluhur Sumba. Masuk ke kampung ini, Anda disuguhkan dengan tatanan puluhan rumah khas Sumba dengan atap menjulang tinggi. Di ujung kiri kampung terdapat sebuah galeri tenun ikat khas Sumba Timur. Para ibu dan wanita muda di kampung ini secara berkelompok menjual hasil tenunan dan aksesoris untuk meningkatkan perekonomian mereka.
Di tengah kampung terdapat batu kubur besar para raja dan bangsawan kampung tersebut. Selain melihat aktivitas menenun para waninta, Anda juga bisa menyaksikan proses pintal benang secara tradisional yang dilakuka kaum pria, peragaan tarian tradisional, proses pewarnaan kain tenin serta melihat dari dekat arsitektur bangunan rumah Sumba dan bagian dalam rumah. Wisawatan bisa masuk gratis tanpa dipungut biaya.
Bukit Persaudaraan
Bukit Persaudaraan Mau Hau cukup unik dari segi nama dan pemandangannya. Hanya sekitar 3 km dari Bandara Umbu Mehang Kunda. Lokasi ini juga menjadi salah satu lokasi shooting film Pendekar Tongkat Emas.
Saat tiba di bukit ini, Anda akan dimanjakan dengan perbukitan dan sawah milik penduduk sekitar yang luas. Dari puncak bukit, Anda bisa melihat panorama Kora Waingapu dan eloknya aliran sungai Kambaniru. Tak ada fasilitas penunjang apapun di sekitar bukit ini, sehingga bekal atau minuman harus dibawa dari Kota Waingapu bila dibutuhkan.
Waktu terbaik untuk pergi ke tempat ini yakni saat pagi hari menikmati matahari terbit atau matahari
terbenam. Di siang hari sangat terik namun peson bukit tetap luar biasa.
Bukit Tanau
Bukit Tanau bisa ditempuh sekitar 20-30 menit dari Kota Waingapu. Jalan menuju bukit ini cukup baik. Sejauh mata memandang, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan sawah masyarakat di sisi kanan dan kiri menuju bukit. Bagi Anda yang rindu dengan ketenangan, maka bukit ini bisa menjadi salah satu referensi untuk dikunjungi. Hamparan bukit berwarna coklat di musim kemarau menambah semarak keindahan wilayah ini.
Tak ada fasilitas apapun di lokasi ini. Bagi Anda yang ingin menikmati sunset, maka jangan lupa membawa kain atau baju hangat karena angin kencang dan cukup dingin. Untuk menambah kenikmatan, Anda bisa membawa kopi hangat dalam termos kecil lalu menikmati sunrise lengkap dengan secangkir kopi.
Bila Anda memiliki kain tenun Sumba, maka bukit ini juga bisa menjadi lokasi foto yang menarik dengan menggunakan tenun Sumba.
Bukit Wairinding

Sumba memang terkenal dengan wilayah perbukitan yang indah. Salah satunya Bukit Wairinding. Sejak menjadi lokasi syuting Pendekar Tongkat Emas karya Mira Lesmana, Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai menjadi makin terkenal. Hanya berjarak 25 kilometer dari Kota Waingapu dan butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di lokasi ini.
Anda bisa menggunakan jasa travel, bis umum atau apabila ingin lebih fleksibel dapat menyewa kendaraan bermotor di Waingapu. Sewa mobil berkisar Rp 500-600 ribu sedangkan sewa motor Rp 100 ribu per hari.
Tidak ada pungutan tiket masuk resmi di Wairinding, namun setiap tamu yang datang disarankan untuk mengisi buku tamu dan memberikan uang seikhlasnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Anda juga bisa menyewa kain tenun Rp 50.000 per lembar untuk digunakan saat sesi foto di bukit. Bila Anda suka berkuda, maka bisa menyewa seekor kuda yang disiapkan warga sekitar untuk ditunggangi atau sekedar foto bersama.
Tak ada fasilitas penunjang apapun di sekitar lokasi. Hanya ada warung kecil di pinggiran bukit namun tidak lengkap.
Air Terjun Tanggedu
Selain bukit dan pantai, Sumba Timur juga kaya akan air terjun yang indah dan unik, salah satunya Air Terjun Tanggedu. Lokasinya berada di tengah hutan Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur. Akses ke lokasi ini cukup sulit namun bisa dilalui baik dengan kendaraan bermotor maupun mobil. Saat ini pemerintah setempat sedang memperbaiki beberapa ruas jalan menuju lokasi agar mudah diakses.
Butuh waktu sekitar dua jam dari pusat Kota Waingapu. Tiba di Desa Tanggedu, kendaraan bisa diparkir di halaman rumah warga dan Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menyebrangi kali kecil, lalu menanjak jalan kecil yang cukup sempit dan licin. Setelah itu, Anda harus melewati padang savana yang cukup terik dan panas di siang haru lalu menuruni jalan sempir menuju air terjun yang cukup terjal. Pastikan kondisi Anda fit saat akan mengunjungi lokasi ini karena butuh perjuangan untuk bisa sampai. Namun, lelah akan terbayar setelah melihat hijaunya air terjun dengan bebatuan indah yang alami.
Tak ada sinyal sama sekali. Di sini Anda bisa menikmati beberapa titik sekaligus. Untuk berenang, Anda bisa menikmati bagian atas air terjun yang tampak seperti kolam alami dan tidak terlalu dalam. Bagi Anda yang mahir berenang dan suka tantangan maka Anda bisa melakukan lompat indah dari atas air terjun. Sementara bila Anda merindukan suasan yang lebih tenang maka di titik paling kanan saat turun ke lokasi, ada spot menarik seperti sungai kecil tempat aliran air terjun Tanggedu yang diapit tembok bebatuan yang eksotis. Lokasi ini juga menjadi spot foto menarik untuk Anda.
Tak ada tiket yang harus dibayar wisatawan di lokasi ini, namun Anda perlu mengisi buku tamu dan memberikan uang seikhlasnya kepada salah satu penduduk yang dipercayakan.
Tak ada warung, hanya ada beberapa warga sekitar yang menjual minuman seperti kopi khas Sumba atau jenis kopi lain, teh, kelapa muda, dan mie hangat. Warga juga membuat semacam ruang ganti pakaian di sudut-sudut lokasi air terjun dari kain dan bambu. Beberapa tempat duduk dan tempat berjemur pun disediakan dari potongan bambu yang disusun rapi.
Sungguh, Air Terjun Tanggedu tidak hanya indah namun membuat kita nyaman untuk berlama-lama di lokasi ini.
Pantai Walakiri
Pantai Walakiri merupakan spot favorit wisatawan ketika datang di Sumba Timur. Pantai pasir putih ini sangat tenang dan landai. Selain jejeran pohon kelapa yang tumbuh berdampingan dengan pohon cemara, ada juga tanaman bakau di sudut kiri pantai yang tampak sedang menari. Selain berenang, Anda bisa menikmati makanan sefood segar dan minum air kelapa. Saat sore, wisatawan bisa menikmati sunset sambil minum kopi bersama
teman seperjalanan.
Saking indahnya, tempat ini menjadi spot foto prewedding. Anda pasti tak akan kecewa dengan keindahan Pantai Walakiri terutama siluet yang dihasilkan saat sore menjelang malam.
Anda bisa menyewa motor atau mobil dari Waingapu untuk sampai ke tempat ini. Tak ada tarif masuk ke pantai ini, hanya ada uang parkir. Toilet dan kamar mandi yang disewakan pun tersedia di lokasi ini.
Tak ada warung, hanya ada beberapa warga sekitar yang menjual minuman seperti kopi khas Sumba atau jenis kopi lain, teh, kelapa muda, dan mie hangat. Warga juga membuat semacam ruang ganti pakaian di sudut-sudut lokasi air terjun dari kain dan bambu. Beberapa tempat duduk dan tempat berjemur pun disediakan dari potongan bambu yang disusun rapi.
Sungguh, Air Terjun Tanggedu tidak hanya indah namun membuat kita nyaman untuk berlama-lama di lokasi ini.
Pantai Tarimbang
Pantai Tarimbang berada di Desa Tabundung, Sumba Timur. Meski panas dan kering, namun pasir putih, laut yang bersih serta degradasi warna hijau tosca berpadu dengan langit biru membawa keindahan tersendi. Pantai ini juga masih sangat bersih dan jarang dikunjungi karena jalan yang masih cukup sulit. Berada di pantai ini serasa berada di pantai pribadi.
Butuh waktu sekitar tiga jam dari Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu ke Pantai Tarimbang. Harga sewa motor berkisar antara Rp150-200 ribu rupiah sementara dengan mobil Rp 500-600 ribu. Harga tiket masuk di Pantai Taribang masih gratis, namun setiap tamu atau wisatawan harus tetap menjaga kebersihan pantai. Bebas tapi bertanggung jawab.
Sebaiknya Anda membawa air dan makanan yang cukup sehingga tidak perlu kebingungan mencari makanan di sekitar lokasi.
Puru Kambera

Bukit Tana Rara
Sebelum tiba di Desa Praimadita, Anda akan melewati rangkaian perbukitan yang sambung- menyambung seperti tak ada akhir dan memancarkan pesona alam yang unik. Bukit Tana Rara, Kecamatan Matawai Waupau. Lokasi ini juga bisa dijadikan spot foto yang instagramable. Bagi Anda yang suka fotografi maka lokasi ini tak boleh dilewatkan, hasil foto di siang dan sore hari saat matahati terbenam sungguh luar biasa.
Bak Grand Canyon di Amerika, salah satu sudut Bukit Tana Rara persis setelah Desa Tanan Rara tepatnya di bagian kiri jalan, tampak jejeran gundukan tanah menyerupai bukit-bukit kecil berwarna merah keemasan. Tak heran lokasi ini dijuluki Tana Rara (Tanah Merah) karena memang warna tahanya yang cukup berbeda dengan warna tanah di lokasi lain.
Sungguh indah dan menyegarkan mata. Berada di tenag Tanah Rara membuat Anda serasa berada di taman merah.
Bukit Hiliwuku/Bukit Ferari
Setiap bukit di Sumba Timur bila dipandang dari atas pesawat maka akan tampak sama, namun nyatanya, setiap titik bukit memiliki daya pikatnya masing-masing seperti Bukit Hiliwuku, Desa Laindeha, Kecamatan Pandawai. Bukit ini juga dikenal dengan nama Bukit Ferari setelah pada Agustus 2019 lalu, perusahaan mobil Ferari mengunjungi lokasi tersebut dengan membawa satu mobil Ferari merah untuk kebutuhan iklannya.
Pantai Katundu
Terletak di ujung Desa Praimadita, Pantai Katundu bisa ditempuh dengan mobil atau motor sekitar 10-15 menit dari Desa Nggongi (desa tetangga Praimadita). Keindahan Pantai Katundu memang tak terbantahkan. Pantai selatan ini masih sangat alami dan bersih. Anda seperti berada di pulau pribadi. Belum banyak wisatawan yang datang ke tempat ini sehingga privasi dan ketenangan masih bisa Anda rasakan.
Di pagi hari, hanya tampah beberapa warga sekitar desa yang mulai melaut mencari ikan. Sementara beberapa pengemudi perahu lain sibuk mengantar barang dan orang dari Pantai Katundu menuju ke Pulau Salura.
Hanya di Pantai Katundu, Anda bisa menikmati puluhan bahkan ratusan kerbau yang melintasi pantai menuju ke padang gembalaannya. Pemandangan yang tidak biasa dan wajib Anda abadikan. Bila beruntung, Anda bisa meminta bantuan sang penggembala kerbau untuk bisa membantu Anda merasakan sensasi naik di punggung kerbau.
Bila Anda selama ini hanya melihat burung jalak ada di atas punggung kerbau maka di tempat ini, Anda bisa
melihatnya secara langsung.
Di sore hari, suguhan sunset Pantai Katundu juga sangat mendamaikan. Suasana sunyi, tak mencekam namun hangat, jauh dari internet dan perkampungan warga, Anda bisa menikmati sekaligus memaknai ketika malam akan tiba dan matahari kembali ke peraduannya.
Semuanya akan berpadu nikmat tatkala mata dimanjakan dengan warna merah keemasan dari ujung permukaan laut sejauh mata memandang.
Selain menikmati sunrise dan sunset, di pantai ini Anda bisa melakukan beberapa aktivitas lain seperti snorkling, berengang, bermain bola kaki bersama teman atau volly pantai, surfing, memancing, juga menikmati api unggun sambil menikmati kopi dan snack di pinggir pantai.
Bagi Anda yang membutuhkan suasana nyaman bersama pasangan, maka tempat ini sangat romantis untuk dinikmati berdua atau untuk keperluan video dan foto prewedding. Di ujung kiri pantai terdapat beberapa bongkahan batu besar yang menjadi sudut indah untuk mengambil gambar. Bila air laut surut, maka Anda bisa berjalan hingga ke tengah lautan.
Namun, tetap berhati-hati karena ada beberapa batuan licin karena lumut. Anda juga bisa menikmati berkuda di area Pantai Katundu yang luas dan cukup panjang. Dari Pantai Katundu pula, Anda bisa naik perahu menyusuri beberapa lokasi pantai lain di antara tebing-tebing batu di sepanjang arah kiri Pantai Katundu. Menikmati wisata bahari sambil berlayar ke Pantai Malaikababa, Pantai Watu Tutuk, Pantai Waihungu, Watu Karanjang (nusa. pulau kecil) hingga ke Pulau Salura, Pulau Kotak, Pulau Manggudu di (Desa Praisalura), dan Watu Parunu di belakang Pulau Salura. Bila beruntung Anda bisa melihat Penyu di Pantai Malaikababa.
Bukit Malaikababa
Bukit Malaikababa, bukit batu yang berada di sudut kiri Pantai Katundu. Untuk sampai di atas bukit, Anda hanya butuh waktu 7-10 menit dengan berjalan kaki. Dari atas bukit Andabisa menikmati pemandangan yang sempurna. Seluruh susut Pantai Katundu di sebelah kanan dan lautan lepas sementara di bagian kiri bukit Anda bisa menikmati bukit batu dan Pantai Malaikababa dari kejauhan. Ada pula beberapa batu besar di tengah lautan yang tampak dari atas bukit ini. Bila ingin menikmati sunrise dan sunset, maka puncak Bukit Malaikababa bisa menjadi spot utama.
Pastikan Anda membawa minuman hangat seperti kopi, teh dan gitar sebagai pelengkap sempurnanya sunset di sore hari. Di sini Anda bisa merasakan anugrah Tuhan dalam hidup karena bisa menikmati lautan lepas tanpa jedah dan tanpa terganggu oleh apapun.
Pantai dan Bukit Waihungu
Pantai ini bisa ditempuh dari Pantai Katundu menggunakan perahu atau speed boat. Pantai Waihungu berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Di sisi barat pantai terdapat tebing batu yang menjulang tinggi. Pasir pantai sangat luas dan kita bisa menikmati burung camar yang siap menangkap mangsa saat gulungan ombak datang menghempas pantai.
Dari Pantai Wainhungu kita bisa melihat Pulau Manggudu dan Pulau Salura, dua pulau terluar Indonesia.
Pantai Waihungu masih sangat bersih, alami, dan sunyi. Bukit batu Wainguhu juga tak kalah mempesona. Latar bukit bisa menjadi foto eksotis yang indah.
Selain berfoto, wisatawan juga bisa menikmati keindahan laut dengan berjemur, minum dan makan kelapa muda dan menikmati ikan bakar. Tak ada kios atau warung kuliner, atau homestay di sekitar lokasi. Anda bisa menginap dan membawa bekal dari homestay di Pantai Katundu atau di Desa Praimadita. Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi menginap di pantai, maka Anda bisa membawa tenda portable dan kelengkapan lain.
Di malam hari Anda bisa menikmati api unggun dan pemandangan bintang di langit lepas tepat di hadapan lautan
lepas Samudra Hindia. Pengalaman yang tak terbayarkan dengan apapun.
Pulau Manggudu
Salah satu pulau terluar Indonesia ini juga tak kalah cantik. Selain pasir putih, keindahan dan kejernihan laut sangat terjaga. Bagi Anda yang suka diving, beberapa spot di Pulau Manggudu patut Anda coba.
Anda bisa menginap di homestay yang ada di Pulau Manggudu namun fasilitas sangat terbatas. Bila Anda datang dengan rombongan maka sebaiknya menginap di Desa Praimadita dan menghabiskan setengah hari di pulau ini. Bila tetap ingin menginap maka selain di homestay, Anda juga bisa membawa tenda portable. Agar tetap nyaman,
Anda harus tetap berkomunikasi dengan pemiliki homestay yang benar-benar paham tentang wilayah di Pulau
Manggudu termasuk untuk konsumsi dan kebutuhan dasar lainnya.
Percayalah, Anda tidak akan pulang dengan kecewa karena Pulau Manggudu menjadi salah satu dari sekian banyak pulau terluar Indonesia yang selalu mempesona dengan aura dan keindahnnya.
Suasana yang tenang, membuat Anda larut dalam keintiman dengan alam. Hidup di antara laut lepas dan langit luas juga alam yang masih sangat asri. Anda tentu tidak ingin kembali sebelum mengabadikan kehadiran Anda di pulau ini, sebagai tanda eksistensi Anda.
Pulau Kotak
Pulau Kotak berada tepat di samping kiri Pulau Salura. Hamparan pasir putih yang bersih dan warna laut biru serta hijau Tosca menambah pesona pulau terluar ini. Tak heran meski terik dan menantang, banyak wisatawan yang tetap ingin singgah di pulau ini.
Sebelum mengelilingi Pulau Salura, wisatawan/tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Salura harus mengunjungi sumur tua di tengah pulau. Sebelum masuk ke lokasi, wisatawan akan dikenakan gelang rotan. Setelah masuk, warga desa akan membantu menimba air dari dalam sumur tua lalu wisatawan harus membasuh wajahnya dengan air tersebut. Sumur tua tersebut tak pernah kering hingga saat ini. Berbeda dengan sumur lainnya, di dinding sumur terdapat 12 batu yang menandakan adanya 12 suku yang hidup di Desa Praimadita.
Selain sumur tua, desa ini juga memiliki sejarah masuknya agama Islam yang menarik. Ada satu mesjid tua dengan kubur muslim serta satu mesjid baru yang lebih besar dan sedang dalam proses pembangunan.
Tak ada sinyal internet di lokasi ini, namun listrik sudah masuk desa. Hanya ada satu homestay di pulau ini. Untuk produk makanan dan kebutuhan pokok lain, warga desa biasa membelinya di Kota Waingapu lalu dimuat menggunakan perahu ke Pulau Salura.
Sementara Pulau Kotak dan Menggudu juga memiliki keindahan laut yang hampir serupa dengan Pulau Salura, namun luas wilayah lebih kecil dibanding Pulau Salura dan Pulau Manggudu. Pulau Manggudu dan Pulau Kota bisa dikunjungi dengan perahu yang sama dari Pantai Katundu.
(https://parekrafntt.id)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.