Liputan Khusus

News Analisys PMI Ilegal Ditelantarkan Hingga Meninggal, Aktivis: Ada Pembiaran

Kasus tersebut, kata dia, memang telah dilaporkan kepada pihaka kepolisian namun belum ditindaklanjuti.

Editor: Ryan Nong
ISTIMEWA
Ketua Padma Indonesia, Gabriel Goa 

Pihak keluarga sempat menyampaikan YS via telepon seluler agar dirinya membantu biaya pemulangan jenazah Jodimus dari Balikpapan ke Kabupaten Sikka.

"Untuk pengiriman jenazah, pihak rumah sakit di sana minta Rp 24 juta, keluarga kemudian telpon Joker tetapi nomor Hp tidak aktif. Kemudian keluarga minta saya ke Balikpapan untuk mengurus jenazah. Saya kemudian jemput jenazah dan anaknya. Saat itu, kami telpon lagi Joker, dia janji mau kirim uang, tetapi tidak ada kejelasan sampai keluarga putuskan untuk makamkan jenazah di tempat kerja saya di Kutai Kertanegara," ungkap Trisanti.

Jenazah Jodimus dimakamkan di Kutai Kertanegara pada Jumat, 29 Maret 2024 pukul 17.00 Wita. YS yang berusaha dikonfirmasi Pos Kupang  melalui pesan WhatsApp, Rabu (3/4) sejak pukul 13.35 Wita belum memberikan jawaban. Begitu juga ketika ditelpon ke nomor WhatsApp YS namun belum direspon.

Selama berada di Kaltim, puluhan calon pekerja ilegal yang direkrut YS mengaku hanya diberi makan nasi basi.

Ari, calon pekerja ilegal asal Kampung Galit, Desa Hale, Kecamatan Mapitara mengisahkan, mereka ke Kaltim menggunakan kapal dari Pelabuhan Lorens Say Maumere hingga tiba di Pelabuhan Balikpapan.

TIba di sana, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju terminal bus. Dari terminal bus, lanjut Ari, perjalanan mereka berlanjut hingga memasuki Simpang Kalteng menggunakan bus. Di Simpang Kalteng itulah mereka semua turun dan dipisahkan menjadi dua kelompok.

"Sisanya kami yang 1 bus berangkat dari Simpang Kalteng ke tempat yang mereka sebut Kamp Baru. Kami turun di situ. Joker melalui suruhannya yang bernama Yanto yang membawa kami. Yanto sampaikan ke kami, kalau sampai di Kamp Baru, ada orang tanya bilang saja kami ini nyasar," kata Ari.

Sesampainya di Kamp Baru, mereka tidur di sebuah bangunan tanpa dinding. "Untuk makan minum kami mesti tunggu dari orang suruhan Joker mengantar makanan. Makan pagi kadang tunggu sampai malam baru diantar. Kami sampai dikasih nasi basi. Terpaksa kami tidak makan, barulah mereka mengambil nasi untuk kami makan," ungkap Ari.

Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa membantu pekerjaan memotong kayu untuk dijual. Saat itulah Jodimus Moan Kaka calon pekerja asal Desa Hoder, Kecamatan Waigete, terkena sakit.

 

Bayar Aparat Rp 5 Juta

Keluarga almarhum Jodimus Moan Kaka, calon pekerja yang direkrut YS untuk bekerja di perusahaan sawit yang meninggal dunia karena sakit akhirnya melaporkan YS ke Polres Sikka, Jumat (29/3) lalu.

Laporan keluarga almarhum Jodimus Moan Kaka sempat ditolak petugas SPKT Polres Sikka dan meminta keluarga almarhum membuat laporan secara tertulis dan melaporkan kembali ke Polres Sikka.

Ambrosius Nong Yoris, salah satu keluarga almarhum Jodimus Moan Kaka mengatakan saat ke Polres Sikka mereka berjumlah lima orang yang merupakan keluarga almarhum.

Guna meloloskan 72 calon pekerja ilegal asal Kabupaten Sikka, para calo tenaga kerja nekat membayar sejumlah uang kepada sejumlah oknum petugas keamanan di Pelabuhan Laut Lorens Say Maumere.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved