Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 29 Maret 2024 : Salib Tanda Cinta yang Sempurna
Menurut Sejarawan Roma, Herodotus, hukuman salib berasal dari Babilonia dan melalui Persia dan Fenesia diterima oleh hukum Romawi
Oleh : RP. John Lewar SVD *)
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik berikut ini ditulis RP. John Lewar SVD Hari Jumat Agung Pantang dan Puasa diberi judul, Salib Tanda Cinta yang Sempurna.
Renungan ini merujuk pada Bacaan I :Yesaya 52:13-53:12, Mazmur 31:2,6,12-13,15-16,17,25, Ibrani. 4:14-16; 5:7-9; Yohanes 18:1-19:42.
Berikut ini teks lengkap Renungan Harian Katolik yang ditulis oleh RP. John Lewar SVD hari ini
Hari ini kita merayakan wafat Yesus di salib. Di berbagai paroki dan komunitas diadakan ibadat Jumat Agung untuk mengenangkan wafat Yesus tersebut. Perayaan Ibadat Jumat Agung dikemas dengan penuh khidmat. Kisah sengsara (passio) dinyanyikan dan ada penciuman salib.
Passio berasal dari bahasa Latin “patior” yang artinya “sengsara”. Passio Yesus Kristus menunjuk pada sengsara yang diderita Kristus demi menebus umat manusia. Kisah ini berawal dari sakratul maut di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di Bukit Golgota atau Kalvari. Meskipun tidak bersalah, Yesus dijatuhi hukuman dan memikul salib.
Dalam Injil Yohanes, dikisahkan demikian, “Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa keluar kota, ke tempat yang bernama Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Di situ Yesus disalibkan, dan bersama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah”.
Menurut Sejarawan Roma, Herodotus, hukuman salib berasal dari Babilonia dan melalui Persia dan Fenesia diterima oleh hukum Romawi. Dari sinilah tradisi hukuman salib diterapkan di Kekaisaran Romawi untuk menghukum para budak, penduduk setempat, dan penjahat kelas rendah demi menjaga stabilitas dan keamanan.
Flavius Yosephus melaporkan adanya banyak penyaliban di Roma menghabiskan banyak kayu untuk penyaliban. Penyaliban merupakan bentuk hukuman atau eksekusi yang paling kejam, paling keras dan paling buruk di antara tiga hukuman (dibakar, dipenggal kepala, dan disalibkan) di Romawi waktu itu.
Yesus telah memberikan segala-galanya yang Ia miliki, punyai dan kuasai. Berjalan berkeliling sambil berbuat baik, menghadirkan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, membela orang kecil yang terbelunggu, mengusir setan, kuasa jahat dan iblis, membebaskan orang dari permusuhan dan ikatan-ikatan ketidakadilan.
Ia menjanjikan Firdaus dan hidup abadi, damai sejahtera di rumah Bapa. Puncak kasih penebusan-Nya ialah pemberian diri sampai tuntas, tanpa batas. Jiwa dan raga, lambung berlubang, tangan terentang dan teriakan doa di atas kayu salib „Eli Eli lama sabachtani‟ menjadi sebuah doa yang bukan saja
memelas dan merobek hati, tetapi juga yang merobek bait Allah.
Hari ini kita menundukkan kepala atas wafatnya Tuhan Yesus. Peristiwa yang mewarnai seluruh perjalanan iman kita sebagai seorang kristiani. Yesus memberikan diri-Nya sampai tuntas di kayu salib. Permenungan kita hari ini terarah kepada salib, tanda hina sekaligus menjadi tanda keselamatan. Di salib inilah kekejaman ditimpakan kepada Yesus.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 29 Maret 2024: Kisah Sengsara Tuhan
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 29 Maret, Selamat Merayakan Kamis Putih
Namun peristiwa ini membuka tabir baru, yakni tabir kasih dan persembahan diri total Yesus. Darah dan air yang mengalir menunjukkan seluruh diri Yesus yang tercurah bagi hidup kita. Itulah kehidupan yang diberikan Yesus kepada kita. Darah dan air itulah pemberian diri Yesus demi keselamatan
kita.
Pada zaman kita ini cukup banyak orang menyia-nyiakan kehidupan yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Berbagai kekejian telah menimpa hidup manusia dan pelakunya pun manusia. Pembunuhan, kerusuhan yang berakibat korban nyawa. Yesus telah wafat untuk keselamatan kita, maka kita harus menjaga keselamatan kita dan sesama dengan segenap tenaga dan kemampuan kita.
Apa makna Perayaan Jumat Agung bagi kita? Pertama, dalam iman, kita meyakini bahwa Tuhan rela menderita dan wafat karena cinta-Nya bagi kita. Karena cinta-Nya, la memberikan nyawa-Nya untuk kita, memberikan segala-galanya bagi kita, tanpa sisa. Kedua, Yesus setia pada tugas dari Bapa-Nya, yakni menyelamatkan kita umat manusia dari kubang dosa; Ia mengangkat kembali derajat kita manusia yang berdosa menjadi anak-anak Allah.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.