Opini
Opini: Rumah
Kampung adalah suasana kedekatan, tempat kenangan mengendap, impian ditata, dan harapan dipupuk.
Oleh Mario F Lawi
Pranata Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT
POS-KUPANG.COM - Setiap tempat adalah kampung bagi orang-orang yang menetap lama di dalamnya, serta meninggalkan hatinya di tempat tersebut. Bahasa Indonesia menyediakan istilah “pulang kampung” bagi kita.
Kampung adalah suasana kedekatan, tempat kenangan mengendap, impian ditata, dan harapan dipupuk.
“Pulang kampung” berarti kembali ke tempat asal dalam situasi berbeda, entah karena situasi di dalam diri seseorang telah berubah karena pengalaman-pengalamannya, atau justru karena kampung yang ia tinggalkan telah berubah mengikuti tuntutan zaman.
Kampung menjadi berarti, karena di sana kita pernah mengalami rumah melampaui batasan ruang. Rumah di kampung kita alami sebagai sebuah situasi, kondisi yang begitu akrab dengan keseharian kita, yang memungkinkan kita betah dan bahagia.
“Kampung” dalam “pulang kampung” adalah istilah yang melampaui dikotomi “kota-desa”, “pusat-daerah”, “di luar-di dalam”, dan sebagainya.
Ingatan akan rumah yang membahagiakan itulah yang kita bawa ke mana-mana ketika merantau, dengan harapan suatu saat nanti kita akan dapat kembali untuk mengalaminya.
Rumah sebagai situasi adalah pengalaman personal, yang bisa kita bagikan kepada orang lain melalui cerita. Ada orang yang mengalami rumah sebagai tempat menetap, dengan situasi yang meluas seiring interaksinya di tempat tersebut.
Ada yang mengalami rumah justru dalam perjalanan demi perjalanan, ia berdiam di dalam setiap ziarah yang dijalaninya. Atau, rumah semacam itu adalah perjalanan pulang setiap saat, dari masa lalu ke masa depan, untuk menengok masa lalu melalui perjalanan ke masa depan.
Sejumlah karya sastra merespons tema tersebut dengan kekhasan masing-masing.
Dalam rumusan penyair, cerpenis dan esais Sunlie Thomas Alexander, “Rumah bukanlah tempat fisik. Tetapi di mana kita menemukan cinta, perhatian, dan kedamaian yang hakiki; sebuah alasan untuk hidup. Ke sanalah kita selalu rindu untuk pulang.” Tiga kalimat tersebut membantu kita memasuki puisi sang penyair berjudul “Rumah”, yang dipilih sebagai judul buku puisi terbarunya (2023:96).
Rumah
—untuk yonetha
seperti ibuku, kau pun akhirnya
menjadi alasanku untuk pulang
dari setiap Lelah, dan tabah merayakan
hidup yang tak mudah
hingga kita sama mengerti, cinta adalah
sebuah kampung halaman berbeda
tempat tawa dan kesedihan
tak saling tepis-menepis
melampaui ibuku, kau bahkan
membuatku senantiasa betah,
juga percaya bahwa rumah
adalah rantau yang paling abadi;
tempat luka dan harapan
selalu saling menerima
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-rumah_20180703_203809.jpg)