Opini

Opini: Rumah

Kampung adalah suasana kedekatan, tempat kenangan mengendap, impian ditata, dan harapan dipupuk.

Editor: Dion DB Putra
KOMPAS.COM
Ilustrasi. 

hingga kelak anak-anak kita
bakal menyimpan rindu mereka
yang paling bengal
dalam bening doa

Yogyakarta, November 2022

Memiuhkan formulasi psikoanalisa yang dikembangkan Jacques Lacan, kita bisa menemukan bahwa perjalanan manusia saat berinteraksi dalam semesta simbolik adalah perjalanan untuk kembali.

Perjalanan “pulang kampung” ke kondisi rahim, asal pertama yang membesarkannya. “Pulang kampung” ideal dalam psikoanalisa tidak akan pernah mungkin dicapai oleh manusia, karena hanya dengan terus merawat konfrontasi antara keinginan untuk pulang dengan keinginan untuk terus berjalan, manusia bisa terus-menerus meraih, untuk meragukan, makna.

Berkomunikasi, dalam formulasi psikoanalisa, tidak dimaksudkan untuk memperoleh keberhasilan mutlak. Sebaliknya, karena selalu gagal dalam berkomunikasi, manusia terus-menerus berinteraksi. Manusia hanya bisa berusaha mengintip semesta makna melalui derau.

Rumah, kampung halaman, perjalanan pulang adalah juga tema yang telah ditempuh para penyair sejak periode klasik. Tema utama puisi epik Odysseia karya Homeros adalah nostos, pulang.

Kepulangan raja Ithaka ke rumahnya, ke kampung halamannya, adalah untuk merebut kembali rumahnya yang telah diduduki para pelamar. Kondisi rumah yang ia tinggalkan saat berangkat berperang tidak lagi sama seperti yang dialaminya saat pulang.

Aeneas, membawa sisa-sisa armada Ilium, setelah kalah dari pasukan Troia, untuk mencari rumah baru dalam puisi epik Aeneis.

Dante sang pengembara pun melalui dan menyaksikan berbagai ujian dan pengalaman untuk pulang ke rumah abadinya, mengalami Allah yang ia cari sepanjang pengembaraannya, sebagaimana bisa kita baca dalam Divina Commedia.

Dalam Doben, novela Maria Matildis Banda (2016), rumah Martinyo dan keluarga adalah ironi; dalam wujud bangunan, ia adalah tempat yang dihuni oleh istri dan anak-anaknya, tetapi rumah telah kehilangan situasi nyaman karena tekanan pemerintah kolonial Portugis, juga karena kepulangan Martinyo ke rumah adalah hal yang dirawat sepanjang novela, tetapi tak kunjung terjadi.

Doben, judul novela, merupakan nama kuda peliharaan Martinyo, tokoh yang dipenjara pemerintah Portugis di Bazartete karena dianggap merancang pemberontakan melawan penjajah. Rumah dan kehilangan, kehadiran dan ketidakhadiran adalah situasi yang diperhadapkan dalam Doben, serta memberikan kontras dan kekhasan pada plot.

Sepanjang novela, Martinyo dan Susana adalah tokoh yang dirindukan, tetapi tidak secara terang-terangan muncul di sepanjang novela. Martinyo hanya sekali muncul lewat percakapan dengan salah satu putranya di penjara untuk menandai kehadirannya sepanjang novela.

Sisanya, Martinyo dan Susana hadir lewat pengisahan narator. Ketidakhadiran kedua tokoh tersebut sepanjang novela menyisakan tragedi di akhir kisah: Martinyo dibunuh setelah gagal diloloskan dari penjara, dan Susana jadi tawanan seorang kapten Portugis. Ana Maria mengungsi dari kampung halamannya.

Para tokoh tersebut hadir dalam situasi yang menolak rumah: Martinyo tewas di tangan musuh, dan jasadnya yang dibuang ke laut tidak pernah ditemukan; Susana tetap menunjukkan kisah tragis meski tak pernah bersuara secara langsung sepanjang novela; dan Ana Maria merindukan pulang di tengah pelariannya menyelamatkan diri.

Di tengah situasi tak menentu di dalam novela, Doben, sang kuda, mewakili segala kerinduan untuk pulang, dan heroisme pihak-pihak kalah di tengah tragedi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved