Pilpres 2024

Yunarto Wijaya: Prabowo dan Gibran Tak Boleh Jadi Petugasnya Jokowi Kalau Sudah Dilantik

Pengamat Politik, Yuniarto Wijaya melontarkan pernyataan yang isinya menyindir secara halus petinggi partai politik di Indonesia.

Penulis: Frans Krowin | Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
TIDAK BOLEH – Kalau Prabowo dan Gibran sudah dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden, maka kedua figur ini tidak boleh jadi petugas. Sebutan itu tak boleh ada karena akan merendahkan martabat Presiden dan Wakil Presiden dan menempatkan yang lain sebagai yang lebih tinggi dari Presiden dan Wakil Presiden. 

POS-KUPANG.COM – Pengamat Politik, Yuniarto Wijaya melontarkan pernyataan yang isinya menyindir secara halus petinggi partai politik di Indonesia. Sindiran itu terkait kebiasaan menyebut petugas partai sebagaimana yang lazim diungkapkan belakangan ini.

Dia mengatakan, bahwa jika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sudah dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden, maka keduanya tidak boleh lagi berperan sebagai petugasnya Jokowi.

Pasalnya, lanjut Yuniarto Wijaya, kata-kata itu sejatinya merendahkan martabat Presiden dan Wakil Presiden sekaligus menempatkan seseorang sebagai yang paling tinggi dari Presiden dan Wakil Presiden RI.

Ke depan, tanda Yuniarto Wijaya, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka,  tidak boleh lagi menjadi petugas  seusai dilantik pada 20 Oktober 2024 mendatang.

Yang benar, adalah baik Prabowo maupun Gibran, adalah Presiden dan Wakil Presiden RI, yang dalam predikat tersebut berarti keduanya adalah yang paling tinggi di negara ini.

Dalam uraiannya di program Satu Meja Kompas Tv sebagaimana dikutip Pos-Kupang.Com, Sabtu 16 Maret 2024, Yunarti Wijaya menyebutkan bahwa ketika sudah dilantik, maka Prabowo dan Gibran mengusung semangat melanjutkan program pemerintah sebelumnya.

Itu artinya, yang dilaksanakan ke depan, adalah melanjutkan semua program yang sudah dirintis dan dilaksanakan pemerintah selama ini. Bukan melanjutkan sosok Presiden Jokowi-nya.

“Kenapa ini menjadi sangat penting dalam demokrasi? Karena ketika kita bicara keberlanjutan, maka apa pun istilahnya, Indonesia emas, Indonesia maju, berdaulat dan lain-lain, semua itu dalam nada programnya yang kita lanjutkan, nilai-nilainya yang kita lanjutkan,” tambah Yunarto.

Maka,  kata Yunarto Wijaya, apabila muncul isu di Tengah publik untuk menempatkan posisi Jokowi lebih tinggi dari seorang Presiden, maka hal tersebut nantinya akan merendahkan martabat Presiden terpilih.

“Ketika kita berbicara mengenai harus menempatkan Pak Jokowi dalam bentuk apa pun, ketua koalisi dan lain-lain, yang terjadi adalah menurut saya ini upaya untuk merendahkan presiden terpilih,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Yuniarto mengaku kasihan pada Prabowo sebagai presiden terpilih oleh rakyat langsung jika kemudian menjadi petugas Jokowi.

Sebab, ia mengaku tidak nyaman dengan adanya istilah petugas partai .

“Kita konsisten, jangan jadikan Pak Prabowo sebagai petugas Jokowi, jangan jadikan juga Gibran sebagai petugas Jokowi,” harapnya.

“Berikan marwah sebagai seorang presiden terpilih dalam sistem presidensial sebagaimana dia bisa bekerja.”

Diketahui hasil penghitungan pemilihan presiden (pilpres) dari organisasi Kawalpemilu.org menyatakan, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2024.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved