Berita Sumba Timur
Agas Andreas Titip Pesan untuk Penjabat Bupati Manggarai Timur: Jaga Pelita Harapan Tetap Menyalah
sebagaimana Ia bersama Alm Stefanus dan juga Siprianus mengajak untuk merumuskan mimpi bersama, menyalahkan pelita harapan.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, BORONG - Acara Temu Pisah Bupati-Wakil Bupati Manggarai Timur Periode 2019-2024 Agas Andreas, SH.,M.Hum dan Siprianus Habur, S.Sos dan Penjabat Bupati Manggarai Timur Ir Boni Hasudungan Siregar berlangsung di Aula Utama Setda Manggarai Timur, Senin 19 Februari 2024 kemarin.
Dalam acara temu pisah ini diawali dengan upacara adat penjemputan Penjabat Bupati dan juga Misa Oikumene.
Diawal sambutan Agas Andreas, Ia menyebut 'seringkali cinta tidak menyadari kedalamannya, sampai perpisahan itu datang'.
Bupati Agas mengatakan pada 14 Februari 5 tahun yang silam Ia bersama Alm Stefanus Jaghur dilantik menjadi Bupati-Wabup, persis di hari kasih sayang. Tuhan sungguh ingin mereka berdua memulai semua ini atas nama cinta, melakukan dengan cinta dan mengakhirinya dengan cinta.
Baca juga: Hari Ini Potensi Hujan di Wilayah Manggarai Timur dan Manggarai
"Kabinet kita bernama kabinet cinta. tidak ada air mata yang lebih berharga, dari air mata yang mengalir karena bahagia. dan jika hari ini, saya harus menangis, saya pastikan bahwa air mata itu, airmata bahagia," ujar Bupati Agas diawal sambutanya.
Menurut Bupati Agas, perpisahan itu memiliki rasa manis dan pahit. Pahit untuk perpisahan saat ini dan manis untuk kerinduan masa depan.
"semoga perpisahan ini hanya bertahan untuk waktu yang singkat. mulai hari ini saya mungkin mulai menjadi masa lalu, tetapi saya memastikan bahwa langkah kaki ini tidak pernah berhenti untuk melanjutkan perjalanan yang sudah dimulai. kita belum sampai. kita hanya berhenti sejenak untuk berlari lebih kencang,"ujarnya.
"Hari ini perasaan saya campur aduk antara rasa sedih dan bahagia,"sambungnya.
Menurut Agas, sedih karena harus meninggalkan kebersamaan, meninggalkan suasana kerja yang membahagiakan, mengambil jarak dari Lehong, berjedah sesaat untuk sebuah pengabdian.
"Sedih yang saya maksudkan bukan tentang air mata, tapi tentang waktu, kenangan dan pengabdian. kita telah melewatinya bersama dengan segala ceritanya, dengan cucuran keringat, dan mungkin dengan air mata. kita berhasil menyebrangi satu jembatan dan tahapan pembangunan. kita baru saja memulainya, baru saja menemukan ritmenya, baru saja meletakan dasarnya, baru saja mengatur temponya, baru saja merencanakan langkah berikutnya. semuanya seperti baru saja, tapi tiba-tiba dipaksa untuk memberi jedah, dan koma,"ujarnya.
Baca juga: Partai Demokrat Berpeluang Punya Kursi DPRD Dari 5 Dapil di Manggarai Timur
"Senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahaan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari,"sambungnya lagi.
Menurutnya, perasaan bahagia juga tak kalah kuatnya memenuhi hari-hari terakhir berada di Lehong. Setidaknya mereka bisa berjalan dengan kepala yang tegak, karena mereka telah melewati satu tahapan dalam menjawab mandat rakyat. Manggarai Timur telah banyak berubah kecuali sengaja menutup mata dan mengunci telinga serapat mungkin agar tidak melihat, mendengarkan dan merasakan pembangunan itu.
"Jika bapak ibu sepakat dengan saya bahwa Manggarai Timur banyak berubah, maka dengan hormat saya minta kita semua berdiri dan beri tepuk tangan dengan bangga untuk pencapaian kita semua,"ujarnya.
Menurut Agas, pencapaian ini bukan tentang Andreas Agas, bukan tentang Stefanus Jaghur, bukan tentang Siprianus Habur. Pencapaian ini tentang semua.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.