Liputan Khusus
Lipsus - Alam Dapat Hadiah Jaket Sumba dan Tenun Harapan untuk Ganjar
Anak dari Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo itu berkesempatan mengunjungi Kampung Raja Prailiu, Sumtim, Rabu (7/2).
Ancungi Jempol
Menanggapi hal tersebut, Alam mengatakan iklim Sumba yang panas, namun setelah menapakkan kaki di teras rumah adatnya terasa dingin dan sejuk, bahkan kekayaan budaya masih terjaga dan terpelihara oleh anak cucu.
Alam menambahkan, hasil karya tenun ikat sangat indah dan perlu dilestarikan, demikian pula penerimaan dan keramah-tamahan masyarakat adat pun sangat luar biasa dan patut diacungi jempol.
Terkait harapan yang disampaikan masyarakat, terkait pendampingan UMKM sangat perlu menjadi perhatian karena selama ini pengrajin melakukan produksi tenun ikat, namun terkendala pemasaran yang belum maksimal sehingga perlu didorong melebarkan sayap pemasaran melalui sektor-sektor lain di antaraya pemasaran digital, sekaligus mendorong peningkatan ekonomi bagi para pengrajin tenun ikat.
Terkait masalah duplikasi tenun ikat, pasti ada jalan keluar untuk menyikapi masalah tersebut, namun demikiak setiap daerah dengan kekhasan adat yang memberikan warna berbeda sekaligus tidak merugikan para pelaku UMKM pengrajin tenun ikat.
Alam juga berkesempatan menemui Komunitas Tuli di Kota Kupang. Alam bersama rombongan tiba di Bandara El Tari Kupang sekitar pukul 14.00 Wita dan langsung berkunjung ke Kafe Kopi SAa. Di sana, Alam melakukan diskusi bersama disabilitas (penyandang tuli).
Momentum itu, dimanfaatkan Komunitas Disabilitas Tuli Kota Kupang untuk bertanya dan berdiskusi banyak hal bersama putra Capres 03 RI itu. Suasana semakin hidup, di mana beberapa orang disabilitas tuli molontarkan pertanyaan dan langsung disanggah Alam.
Alam yang saat itu didampingi oleh Stevano Risky Adranacus dimintai para penyandang tuli bersama pemilik kafe untuk meracik kopi.
Salah satu penyandang tuli, Novel berharap, Alam dapat membantu kaum disabilitas, khususnya disabilitas tuli agar para pemberi kerja dapat menerima mereka tanpa melihat kekurangan yang dimiliki. "Kami memiliki kekurangan, tapi bukan kami tidak bisa kerja," ungkap Novel.
Dalam kesempatan itu Alam juga menjadi Barista dadakan di Kafe Kopi SAa. Kafe Kopi SAa mempekerjakan pegawai disabilitas. Alam memuji konsep kafe yang tak sekadar berorientasi bisnis, tetapi juga memberdayakan kelompok marjinal.
"Bisnis yang memberdayakan masyarakat, khususnya kelompok marjinal seperti penyandang disabilitas, memang bukan konsep baru. Tetapi, apa yang secara konsisten dilakukan pemilik Kopi SAa di tengah ketatnya persaingan usaha yang berorientasi keuntungan adalah hal yang patut dipuji," kata Alam.
"Apalagi saya mendengar bahwa banyak teman-teman penyandang disabilitas yang sebelumnya merupakan pegawai di sini sekarang sudah bisa berdiri di kaki sendiri. Pada usia yang masih muda, mereka ini membuktikan diri sebagai anak muda yang bisa berdaya di kaki sendiri," kata Alam.
Alam mengingatkan bahwa kondisi yang dialami tak perlu menjadi alasan untuk tidak menjalani hidup yang penuh. "Tuli bukan kekurangan, tapi gaya hidup. Tinggal bagaimana kita bisa bergandengan tangan dan berkolaborasi menciptakan hidup yang lebih nyaman buat semuanya," ucap Alam.
Adapun Stevano berharap upaya pemberdayaan yang dilakukan Kopi SAa bisa berkelanjutan. "Apa yang dilakukan Kopi SAa sangat luar biasa. Saya titip pesan untuk terus melanjutkan upaya pemberdayaan yang mereka lakukan selama ini," ucap Stevano.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.