Pilpres 2024

Ganjar-Mahfud Gelar Kampanye Akbar di Banyuwangi, Jawa Timur, Tidak Ambil Pusing Hasil Survei

Mereka meminta pendukungnya untuk tidak takut terhadap segala intimidasi dan tak mudah terpengaruh untuk memilih calon tertentu hanya karena bansos.

Editor: Agustinus Sape
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menyalami pendukungnya yang hadir dalam kampanye akbar di Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (8/2/2024). 

POS-KUPANG.COM, BANYUWANGI - Pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, sepakat tidak memercayai hasil survei yang menempatkan mereka pada posisi kedua di Jawa Timur. Sebab, hasil survei itu berlawanan dengan hasil riil atau kondisi sosiologis yang mereka temukan di lapangan.

Mereka juga meminta pendukungnya untuk tidak takut terhadap segala bentuk intimidasi dan tidak mudah terpengaruh untuk memilih calon tertentu hanya karena bantuan sosial.

Puluhan ribu pendukung pasangan Ganjar-Mahfud tumpah ruah di lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (8/2/2024). Meski hujan deras mengguyur, mereka tetap antusias menyambut Ganjar-Mahfud dan elite partai politik pengusung.

Elite parpol yang hadir adalah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy.

Dalam kampanye akbar kali ini, hadir pula dua Dewan Penasihat Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Puan Maharani dan Yenny Wahid.

Di depan para pendukungnya, Ganjar mengatakan, dirinya tidak terlalu ambil pusing dengan sejumlah hasil survei yang menempatkan Ganjar-Mahfud pada posisi kedua di Jawa Timur. Ia justru meyakini, dengan kondisi lautan massa pendukung Ganjar-Mahfud di Banyuwangi, ini menunjukkan realitas sosiologis bahwa Ganjar-Mahfud bisa memiliki tingkat keterpilihan yang tinggi di Jawa Timur.

”Ada kondisi konseptual, hasil pengambilan data dari survei, tetapi ada realitas sosiologis. Hari inilah realitas sosiologis yang saya dapat. Rasa-rasanya, kalau kita seperti ini terus kondisinya, kami haqqul yaqin apa yang menjadi sorotan mata rakyat, apa yang menjadi suara rakyat, apa yang menjadi optik dari kumpulnya rakyat, insya Allah itu sesuatu yang rill,” ujar Ganjar.

Ganjar juga percaya, dengan kerja keras parpol pendukung dan sukarelawan, Ganjar-Mahfud bisa menang di Jawa Timur. Ia menyadari, ada kekuatan lain yang terus-menerus mencoba melawan arus kekuatan rakyat.

Kekuatan yang dimaksud, lanjut Ganjar, salah satunya yang terjadi pada Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Ferdinandus Hindarto. Ferdinandus mengaku dihubungi oknum polisi untuk membuat testimoni positif keberhasilan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

”Maka, kalau ada Pak Rektor Unika diminta membuat video dan dia enggak mau, tetapi rektor yang lain kemudian mau, itulah kondisi yang kita sudah tahulah. Maka, kenapa kampus kemudian bersuara dengan kebebasan mimbar akademiknya. Itulah edukasi yang ada, yang membikin kami makin yakin, mana yang benar, mana yang salah, dan bagaimana demokrasi harus berjalan. Kalau saya, insya Allah optimistis terus," tambah Ganjar.

Ganjar-Mahfud di Banyuwangi_01
Pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, saat kampanye akbar di Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (8/2/2024).

Ganjar juga menyinggung alat peraga kampanye (APK) yang banyak diturunkan di sejumlah tempat, termasuk di Banyuwangi. Ia juga mengajak para pendukungnya berani melapor jika melihat langsung upaya penurunan APK Ganjar-Mahfud.

”Laporkan saja, apalagi kalau media tahu yang nyopot, laporkan dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) harus merespons dengan cepat. Kalau ada keluhan, cepat ditindaklanjuti,” kata Ganjar.

Seusai acara, Ganjar menyayangkan pernyataan Presiden Jokowi yang berubah-ubah soal bakal berkampanye atau tidak pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Baca juga: Soroti Masalah Lapangan Kerja, Alam Ganjar Berdialog Bersama Orang Muda di Kupang

Sebelumnya, akhir Januari 2024, di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jokowi menegaskan bahwa dirinya selaku kepala negara boleh berkampanye dan berpihak dalam Pemilu 2024. Namun, pada 7 Februari 2024, di Medan, Sumatera Utara, Jokowi menyatakan dirinya tak akan ikut berkampanye pada Pemilu 2024.

”Ada data, ada fakta, ada jejak digital yang berkali-kali keluar dan berkali-kali direvisi, maka saya katakan kalaulah kemudian pernyataan yang pernah muncul itu keliru, sampaikan dengan cara yang gentle. Tetapi, jika seandainya tidak, maka orang Jawa bilang, tidak boleh berbalik-balik. Esuk tempe, sore dele (pagi bilang tempe, sore balik lagi jadi kedelai), enggak bisa begitu. Maka begitu kita berbeda-beda terus, maka sulit rakyat memercayai itu, berlaku untuk siapa pun,” kata Ganjar.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved