Berita Belu
Ternak Sapi di Lamaknen Selatan Kabupaten Belu Mati Diduga Akibat Penyakit Ngorok
penyebab tingginya angka kematian ternak sapi tersebut adalah karena banyaknya sapi yang tidak dikandangkan saat kondisi cuaca ekstrem
Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Sebanyak 44 ekor ternak sapi di Desa Nualain, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu mati yang diduga disebabkan oleh Penyakit Ngorok atau Septicemia epizootica (SE).
Menurut Kepala Dinas Peternakan Belu Yoos Djami, disampaikan melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, Gusti, bahwa kematian ternak sapi tersebut terjadi sejak awal hingga akhir Januari.
"Kematian ternak ini terjadi secara bertahap sejak awal Januari hingga menjelang akhir bulan. Puncaknya terjadi pada pertengahan hingga akhir Januari, ketika cuaca ekstrem dengan hujan yang sangat deras," ungkapnya, ketika dihubungi Pos Kupang. Rabu, 7 Februari 2024.
Menurutnya, penyebab tingginya angka kematian ternak sapi tersebut adalah karena banyaknya sapi yang tidak dikandangkan saat kondisi cuaca ekstrem tersebut.
Gusti menegaskan bahwa saat vaksinasi dilakukan, sapi-sapi tersebut tidak bisa dikumpulkan untuk mendapatkan vaksin.
Gusti juga menambahkan bahwa berdasarkan investigasi lapangan dan wawancara dengan peternak di daerah sekitar, gejala-gejala yang ditemukan menunjukkan kemungkinan infeksi penyakit ngorok.
"Petugas peternakan sudah melakukan investigasi dan wawancara dengan peternak, dari gejala-gejala yang ditemukan menunjukkan kemungkinan infeksi penyakit ngorok. Gejalanya hampir sama yaitu mulutnya mengeluarkan busa dan pembengkakan dileher. Ini adalah penyakit yang sudah menjadi endemik di Kabupaten Belu ," jelas Gusty.
Baca juga: Pemkab Belu Dapat Kuota Tambahan Pengiriman Ternak Sapi Sebanyak 600 Ekor
Pemerintah daerah telah menyiapkan vaksin untuk mencegah penyakit ini, namun memang untuk tahun 2023, karena keterbatasan anggaran hanya 50 persen lebih yang melakukan vaksinasi dari jumlah populasi ternak sapi, sehingga tidak menjangkau seluruh ternak di Kabupaten Belu.
Ia juga menyampaikan bahwa terhadap hal tersebut, tindakan telah diambil dengan melakukan pengobatan maupun vaksinasi terhadap ternak yang masih hidup.
"Hingga saat ini, tidak ada laporan kematian tambahan setelah tindakan pengobatan tersebut. Namun demikian, pemantauan akan tetap dilakukan selama 14 hari ke depan," ujarnya.
Menyikapi hal ini, Gusty mengingatkan masyarakat akan tiga hal penting.
Pertama, pentingnya vaksinasi massal yang biasanya dilakukan pada bulan Agustus hingga November untuk mencegah penyebaran penyakit.
Kedua, saat kondisi cuaca ekstrem seperti hujan deras atau panas yang berlebihan, sebaiknya ternak dikandangkan untuk memastikan pemantauan yang lebih baik.
Ketiga, apabila terjadi kematian ternak secara mendadak, segera laporkan ke petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas. (cr23)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.