Berita Lembata
Sekolah Adat, Ruang Kolaborasi Lestarikan Nilai Hidup Orang Lamalera
diterbitkan 7 modul panduan sekolah adat Lamalera yang disusun oleh LSM Barakat bersama Dinas Pendidikan Lembata.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Melestarikan nilai-nilai kebudayaan dan tradisi bagi orang Lamalera adalah keniscayaan.
Namun, perkembangan zaman dan tantangan modernisasi merupakan tantangan untuk melestarikan nilai-nilai tersebut.
Kerja-kerja kolaboratif perlu dilakukan untuk mewujudkan tujuan mulia ini.
Lembaga swadaya masyarakat (LSM), Pertamina Foundation dan platform pemberdayaan BenihBaik.Com berkolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk membangun sekolah adat Lamalera di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata.
Program ini pun disebut Ruang Kolaborasi.
Baca juga: Alor dan Lembata Dapat Peringatan Dini BMKG: Waspada Hujan Sedang, Petir dan Angin Kencang Hari Ini
Pertamina Foundation dan Founder BenihBaik.Com Andy F Noya didampingi Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil juga sudah berkunjung ke Lamalera, 17 Januari 2024, untuk memastikan keberlangsungan program Sekolah Adat Lamalera.
Direktur Operasi Pertamina Foundation Yulius S. Bulo, menyebutkan Ruang Kolaborasi akan menjadi sebuah bangunan untuk mewariskan nilai-nilai adat Lamalera secara turun temurun.
“Hal yang kami lakukan di Lamalera ini bukanlah sekadar bangunan fisik tetapi membangun manusianya. Maka, sebelum bangunannya jadi, kami membuat modul panduan sekolah adat dan pelatihan kerajinan tenun untuk membentuk ekonomi alternatif masyarakat,” kata Yulius.
Ketika bangunannya sudah dibangun, tandasnya, semua orang akan berkumpul, berbagi pendapat, berbagi ide membahas bagaimana mewujudkan kehidupan yang lebih baik, belajar lebih mendalam tentang adat, dan hidup berdampingan dengan alam.
Tujuan dari pembangunan Ruang Kolaborasi ini, salah satunya untuk meningkatkan pariwisata di Lamalera dan masyarakat bisa menerapkan keberlanjutan melalui penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT).
Yulius berujar untuk mencapai tujuan tersebut, diterbitkan 7 modul panduan sekolah adat Lamalera yang disusun oleh LSM Barakat bersama Dinas Pendidikan Lembata.
Baca juga: BMKG Mencatat Gempa Bumi Hari Ini Baru Saja Guncang Lembata NTT, Cek Kekuatan dan Pusat Gempa
Modul tersebut berisi kondisi geografis, sejarah, tradisi, budaya, kuliner, hingga sastra Levo Lamalera. Selain itu, terdapat juga materi pengenalan energi baru dan terbarukan dengan memanfaatkan potensi alam sekitar.
Ruang Kolaborasi menyasar sekolah menengah pertama (SMP) sebagai sasaran pertama, kemudian masuk ke jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah atas (SMA). Yulius menjelaskan para guru kurikulum akan melatih guru-guru muatan lokal (mulok) setiap sekolah agar bisa memfasilitasi Ruang Kolaborasi.
Kemudian, guru kurikulum akan tetap mendampingi guru mulok seminggu sekali untuk memastikan apakah berjalan sesuai dengan kurikulum atau tidak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Andy-F-Noya-berpose-bersama-warga-di-Pantai-Lamalera.jpg)