Berita Kabupaten Kupang
Jembatan Nunpisa dan Kapsali Merana, Biaya Perbaikan Belum Masuk APBD 2024
Namun disaat hujan deras maka air sungai akan meluap dan butuh waktu berjam-jam hingga surut baru mereka bisa melintas.
Penulis: Yohanes Alryanto Tapehen | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Tapehen
POS-KUPANG.COM, OELAMASI - Jembatan Nunpisa di Desa Oelatimo yang menjadi satu-satunya penghubung ke wilayah Sulamu dan jembatan Kapsali yang meghubungkan wilayah Fatuleu Barat menuju Amfoang harus menunggu waktu lebih lama mendapat sentuhan perbaikan.
Kedua jembatan ini rusak dalam selang waktu 1 minggu dimana Jembatan Kapsali bagian oprit jebol diterjang banjir akibat luapan sungai Kapsali pada 24 Desember 2022 sementara Jembatan Nunpisa menyusul 1 pekan kemudian pada 1 Januari 2023 dimana bagian tengah gelagar jembatan bergesert terbawa banjir dan membuat jembatan patah menjadi dua bagian.
Pantauan POS-KUPANG.COM, Senin 15 Januari 2024 di Jembatan Nunpisa, tampak pelintasan bagi pejalan kaki yang dibuat oleh TNI Polri pasca jembatan ambruk mulai patah di beberapa pijakan akibat lapuk.
Di bagian ujung dari arah Kupang masyarakat sekitar mencoba membuat pijakan yang lebih baik dengan memasang papan kulit yang diambil dari sisa sengsor batang kayu.
Beberapa warga yang melintas juga nampak santai karena titikan yang dibuat tersebut juga masih nampak kokoh meski sudah sejak tahun lalu dibuat darurat demi membantu kelancaran lalulintas masyarakat.
Baca juga: Sungai Kapsali dan Taen Meluap, Warga Nekat Terjang Banjir
Sementara di bagian alternatif pelintasan juga tampak sungai yang dengan debit airnya sedikit dengan lancar dilintasi kendaraan baik roda dua dan roda empat.
Beberapa warga sekitar juga memanfaatkan air sungai yang jernih untuk sekedar mandi dan mencuci pakaian.
Salah satu warga yang ditemui, Desni Mudai mengaku kalau tidak hujan maka lalu lintas lewat jalur alternatif ini tidak mengalami kendala.
Namun disaat hujan deras maka air sungai akan meluap dan butuh waktu berjam-jam hingga surut baru mereka bisa melintas.
Kata dia dirinya yang juga harus berburu waktu dengan pekerjaan kantor tentu hatus pintar mensiasati alam disana, bila melihat awal tebal dan hujan di bagian gunung maka memilih segera melintas atau menahan diri terlebih dahulu.
"Tapi kalau sampai pas lagi baniir kita tunggu sampai air aggak turun terus kita minta orang pikul motor ke seberang sungai, itu biaya sekali pikul 20 ribu," ungkapnya.
Sehingga bila terjadi hujan lebat dan dia harus pulang pergi lewat sana maka harus merogok kocek hingga 40 ribu sehari demi membayar jasa sewa panggul motor.
Dirinya berharap agar pemerintah segera memperbaiki jembatan tersebut karena merupakan satu-satunya akses menuju wilayah sulamu dan sebaliknya.
Namun harapan agar diperbaiki dalam waktu dekat pupus begitu saja, sebab menurut Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Maxi Nenabu perbaikan kedua jembatan itu belum masuk dalam APBD tahun 2024.
"Belum masuk APBD 2024, Sama dengan jembatan Kapsali," ujarnya saat ditanya perbaikan kedua jembatan penghubung utama wilayah Pantura Kabupaten Kupang tersebut.
Namun kata dia usulan perbaikan kedua jembatan itu juga sudah mereka sampaikan ke pemerintah pusat agar bisa diakomodir.
"Kita sudah upayakan usul ke APBN., semoga bisa disetujui," tambahnya. (ary)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.