Berita NTT
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Gandeng Diskominfo NTT Gelar Diskusi Publik
Komunitas Sastra Dusun Flobamora juga bekerja sama dengan Seminari Tinggi Santo Mikael Kupang menyelenggarakan kegiatan
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG- Komunitas Sastra Dusun Flobamora menggandeng Dinas Kominfo Provinsi NTT menggelar diskusi publik dengan melibatkan 10 (sepuluh) komunitas literasi.
Diskusi Publik itu mengusung tema "Literasi di Era Digital dan Diskusi Buku Toko Buku Terakhir" yang berlangsung di Aula Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jl. Palapa, Kota Kupang, Sabtu 13 Januari 2024.
Selain bekerja sama dengan Diskominfo, Komunitas Sastra Dusun Flobamora juga bekerja sama dengan Seminari Tinggi Santo Mikael Kupang menyelenggarakan kegiatan.
Adapun 10 komunitas literasi di NTT yang berpartisipasi dalam kegiatan ini yaitu Komunitas Leko, Komunitas Buku Bagi NTT, komunitas Bacarita NTT, Komunitas Children See Children Do, Komunitas Lowewini, Perkumpulan Duta Bahasa NTT, Perkumpulan JPIT, Komunitas Sadar Literasi, Komunitas Literasi SMPK ST. Yoseph Kupang, dan UKIM.
"Kita menghadirkan perwakilan dari komunitas-komunitas itu untuk berbagi pengalaman mereka, serta pandangan mereka tentang ideal dari gerakan literasi dalam usaha untuk mendorong peningkatan literasi di NTT," ungkap Saddam PH selaku Ketua Panitia.
Melalui laporan panitia, Saddam HP menyampaikan kisah awal komunitas sastra dusun flobamora yang diiniasi oleh sekelompok anak muda di Kupang pada tahun 2011.
Komunitas Dusun Flobamora, kata Saddam, kemudian melahirkan jurnal sastra bernama Santarang, untuk merespons pemuatan karya sastra di media-media massa cetak NTT yang secara ruang terbatas karena tidak bisa mengakomodasi tulisan-tulisan yang lebih panjang dari standar karakter halaman koran cetak.
"Jurnal tersebut menjadi media banyak penulis, baik dari NTT, maupun dari luar NTT," katanya.
Saddam menyebut, sejak 2015, Dusun Flobamora juga menyelenggarakan Festival Sastra Santarang, mengundang para penulis dan seniman Indonesia untuk merespons sejumlah wacana mutakhir yang berkembang.
"Dua tahun terakhir, festival diselenggarakan secara bauran, daring dan luring," sebutnya.
Baca juga: Komunitas Sastra Dusun Flobamora Gelar Literasi di Era Digital dan Diskusi Buku Toko Buku Terakhir
Di ranah seni rupa, pada tahun yang sama (2015), kata Saddam, sekelompok perupa mendirikan Komunitas Kapur Sirih, yang mewadahi segala kegiatan, wacana dan interaksi antara para pegiat seni rupa di Kota Kupang.
Dari komunitas tersebut, lanjutnya, sejumlah karya dan pameran pun lahir. Yang mana, pada tahun lalu (2023 Dusun Flobamora bekerja sama dengan Kapur Sirih menyelenggarakan pameran Mereka Kota, sebuah pameran sketsa hasil respons visual terhadap deskripsi Kota Kupang yang ditampilkan dalam karya-karya sastra para penulis Indonesia.
"Memanfaatkan hari ulang tahun NTT ke-65, kami ingin menyatukan gerakan-gerakan literasi yang sudah ada menjadi gerakan lebih besar dan berkelanjutan," ungkapnya.
"Untuk memperkuat niat ini, kami sertai dengan diskusi buku “Toko Buku Terakhir” sebagai satu contoh bagaimana buku-buku fisik yang mewakili kemampuan literasi dasar, bertahan di tengah gempuran perangkat digital," terangnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.