Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Sinopsis Tarian Gawi: Tradisi Seni dan Olahraga

Tarian ini kemudian berkembang menjadi suatu seni tarian massal yang mempersatukan semua warganya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/TOMMY NULANGI
Anggota IKKEF menari gawi di GOR Oepoi, Kupang, Sabtu (21/7/2018) lalu. Hari ini, Sabtu (16/12/2023), IKKEF menyelenggarakan gawi massal di halaman depan Kantor Gubernur NTT melibatkan ribuan peserta. 

Oleh: Dr. Ir. Leta Rafael Levis, M.Rur. Mgnt
Tokoh masyarakat Ende, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang

POS-KUPANG.COM - Gawi awalnya sebagai tandak adat, ungkapan kegembiraan setelah menang perang antar suku untuk memperluas wilayah tanah ulayat. Juga syukur saat pesta adat khususnya seperti ‘Joka Ju’ (tolak bala atau tolah roh jahat).

Tarian ini kemudian berkembang menjadi suatu seni tarian massal yang mempersatukan semua warganya.

Baca juga: Hari Ini Ikatan Keluarga Besar Ende Flores Gawi Massal Melibatkan 1.500 Orang di Kota Kupang

Baca juga: Setelah Masuk Rumah Adat di Ende, Menkopolhukam Mahfud MD Diajak Gawi Bersama

Tarian gawi berasal dari Kabupaten Ende yang terletak di jatung Pulau Flores.

Ende dikenal luas sebagai kabupaten Tiga Warna serta sebagai rahim lahirnya Pancasila karena Bung Karno merenungkan nilai-nilai Pancasila di bawah rindangan pohon sukun bercabang lima yang terletak di Kota Ende.

Secara etnografis, Kabupaten Ende terdiri dari tiga etnis yakni etnis Lio, etnis Ende dan etnis Nage.

Etnis Lio merupakan etnis terbesar yang meliputi 15 kecamatan di Ende, menyebar dari wilayah Lio Selatan, Lio Utara hingga Lio Timur.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Leta Rafael Levis 
 
 
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Leta Rafael Levis      (POS-KUPANG.COM/HO-DOK.TRIBUN)

Di wilayah Lio inilah kebudayaan tarian massal bernama gawi ini dikreasi
dikembangkan dan diwariskan oleh para leluhur kepada generasi muda Ende sampai saat ini.

Simbol Bersatu dan Gotong Royong

Tarian gawi adalah simbol bersatu, dan semangat gotong royong.

Saling bergandengan tangan membentuk lingkaran menggambarkan suatu tekad bersama untuk memenangkan suatu perjuangan.

Semangat bersatu melalui bergandengan tangan serta hentakan kaki saat gai merupakan manisfetasi dari filosofi masyarakat Kabupaten Ende yakni semangat tau uju kunu (menyatukan keluarga), sa boka sa ate (sehati sesuara), boka ki bere ae (bergotong royong dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah atau pekerjaan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, singkatnya sama-sama susah sama-sama senang).

Nilai moral dalam gawi menginspirasi semangat menyatukan keluarga dan suku se kabupaten Ende, baik di Ende maupun masyarakat diaspora di mana saja berada, termasuk semangat untuk hidup rukun bersama orang lain dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itulah, dalam aksinya, peserta gawi harus bergandengan tangan, membentuk lingkaran, sama-sama menghentakan kaki, mengatur nada sehingga membentuk seni tarian massal yang indah yang menyemangati setiap peserta dalam semangat kebersamaan dan kegembiraan.

Dalam perkembangannya, gawi juga adalah tarian syukur atas panen melimpah atau hari ulang tahun, pernikahan dan lain-lain.

Lokasi dan Peserta

Gawi biasanya dipentaskan pada halaman yang luas, baik di sekitar rumah-rumah adat yang disebut Seka Ria (halaman di sekitar rumah adat) maupun di luar halaman rumah adat.

Halaman Kantor Gubernur NTT adalah Seka Ria bagi warga Ende sehingga pantaslah, jika kami orang Ende melaksanakan gawi massal di tempat ini.

Peserta gawi tidak dibatasi, semakin banyak semakin baik. Peserta gawiterdiri dari laki, perempuan, tua dan muda. Lingkaran dalam adalah para lelaki sedangkan lingkaran luar adalah para wanita.

Para wanita dalam posisi rapat tidak ada celah bagi pria untuk keluar dari laingkaran dalam. Wanita memberikan dorongan dan semangat kepada lelaki untuk tetap semangat, pantang mundur.

Secara struktural, gawi terdiri dari beberapa komponen yakni seorang Solis dalam bahasa Suku Lio disebut Sodha, Eko Wawi, Eko Ulu, Ana Jara, Simo Sau dan Tubu Musu.

Deo Eko Wawi

Deo Eko Wawi adalah salah satu peserta yang bertugas sebagai pemimpin tarian gawi.

Seseorang yang berperan Deo Eko Wawi memiliki keterampilan dalam gerak dan mampu memberikan semangat kepada peserta GAWI agar membuat tarian dan ‘olahraga’ ini lebih semarak, lebih semangat dan lebih ramai (bebu).

Seorang Deo Eko didukung oleh beberapa orang disebut Teke Eko, yang memiliki kemampuan gerak yang sama dengan pemegang ‘eko wawi’.

Seorang pemegang Eko Wawi harus dapat mengatur lingkaran peserta gawi mengelilimg ‘Tubu Musu' yang terletak di tengah lapangan atau Seka Ria alias Wewa Ria.

Oleh karena itu, barisan Eko dan Teke Eko biasanya tidak berpegangan tangan karena ada beberapa gerakan yang menuntut kebebasan bergerak dari mereka.

Gerakan-gerakan seperti gerakan ‘rem kaget’ dan gerakan memutar badan 180 derajat merupakan gerakan yanag agak sulit sehingga banyak orang tidak dapat mengikutinya.

Oleh karena itu, pemegang Eko Wawi dan orang-orang sebagai ‘teke eko’ harus memilki kemampuan melakukan kedua gerakan di atas.

Singkatnya, pemegang Eko Wawi harus menjadi inspirasi bagi semua peserta gawi termasuk memberikan semangat bagi semua peserta terutama pada barisan teke eko sehingga seorang pemegang Eko Wawi kadang-kadang posisi badan membungkuk tetapi kadang-kadang posisi badan tegak.

Deo Ulu

Seseorang berperan sebagai Deo Ulu tugasnya adalah menjaga agar gerakan GAWI pada ujung barisan tidak boleh terputus, tidak boleh memasuki area pemegang Eko Wawi dan Teke Eko serta mampu menjaga jarak agar jauh dari sentra batu persembahan atau Tubu Musu.

Dengan memegang Eko Ulu atau ada juga yang memegang parang, dia berusaha untuk tetap menjaga irama dan jarak peserta gawi agar tetap seirama dan tidak terputus barisannya.

Ana Jara

Seorang berperan sebagai Ana Jara bertugas memberikan semangat bagi semua peserta Gawi.

Oleh karena itu, seseorang yang berperan sebagai anak jara harus menari sambil mengelilingi lingkaran sekitar terdalam atau lingkaran Tubu Musu.

Simo Sau

Simo Sau adalah penari yang menari di tengah-tengah lingkaran peserta gawi.

Mereka terdiri dari beberapa orang wanita. Peserta Simo Sau adalah ibu-ibu yang pandai menari dan pandai mengikuti irama gawi.

Sentakan kaki para penari ini harus seiraama dengan sentakan kaki para lelaki.

Seseorang yang menjadi Simo Sau dapat juga memberikan semangat kepada peserta gawi. Kadang-kadang seorang Simo Sau memberikan tantangan kepada peserta gawi laki-laki, baik melaui lirik mata maupun dengan simbol gerak lainnya.

Ata Sodha atau Solis

Seorang solis akan berdiri di tengah-tengah di sekitar Tubu Musu (Tubu =tiang batu untuk persembahan, dan Musu= batu persembahan sehingga Tubu Musu merupakan satu frame kata dalam tradisi Lio bermakna satu yakni batu persembahan).

Ata Sodha akan menyanyi, berisi syair-syair yang berhubungan dengan lingkungan alam dan lingkungan manusia.

Seorang solis memiliki kemampuan menyanyi dengan syair-syair yang menarik, dalam kata-katanya, dia mampu merangkaikan hal-hal yang dia jumpai baik pada saat pelaksanaan gawi maupun hal-hal yang berkaitan dengan kosmos serta ekosistem di mana gawi itu dilaksanakan.

Seorang solis yang disebut Ata Sodha Gawi tidak bisa dipelajari karena hal itu merupakan bakat yang diwariskan oleh leluhur, ada ilham khusus bagi mereka.

Seorang solis bisa bernyanyi berjam-jam tanpa henti, kata-kata yang diucapkan muncul secara otomatis sehingga dia dapat menyesuaikan dengan ekosistem di mana gawi itu dilaksanakan.

Solis dapat mempengaruhi semarak dan ramainya suatu gawi. Ada syair dan nada untuk pemanasan, syair dan nada untuk inti (bebu) dan ada syair dan nada untuk pendinginan menjelang berakirnya acara gawi.

Oleh karena itu, gawi juga merupakan bentuk olahraga tradisional dalam bentuk tarian.

Biasanya, dalam tahap awal gawi seorang solis akan mengantar dengan syair-syair yang akan disambut oleh nyanyian dari peserta yang disebut Oro.

Oro ini penting dalam tradisi gawi sebagai ungkapan semangat dan partisipasi peserta dalam pelaksanaan gawi dan oro adalah menyanyi serempak dalam batas tertentu ada namanya Oro Ma’e Po’i artinya sambung menyambung tidak boleh putus.

Saat puncaknya, gawi terasa hening dan sakarl ketika hanya terdengar bunyi sodha, hentakan kaki (tanpa alas kaki) dan bunyi siulan pis-pis-pis oleh laki-laki. Gawi yang baik tidak ada suara berteriak.

Pada acara gawi massal yang dilaksanakan IKKEF tahun 2023, dalam rangka perayaan HUT NTT dan HUT IKKEF Kupang, Sodhaatau solis didatangkan secara khusus dari Ende tepatnya dari Desa Tenda yang dikenal sebagai gudang para solis yang selalu ada dari generasi ke generasi.

Solis ini dapat mengatur gerakan pemanasan, inti dan pendinginan. Nama solis yang dimaksud adalah Albertus Bale.

Pakaian

Pada saat gawi, laki-laki mengenakan pakaian tradisional Ende, yakni menggunakan lesu sebagai penutup kepala, luka atau selendang mengikat pinggang atau menyilang dari bahu kiri ke pinggang sebelah kanan dan ragi mite yakni kain atau sarung khas suku Ende bagi kaum pria.

Sedangkan wanita mengenakan baju bodo khas Ende yang disebut Lambu dan Lawo yakni kain khas Ende untuk para wanita.

Pada zaman dulu, semua baju atau Lambu wanita berwarna hitam, mereka seragam. Namun dengan perkembangan jaman, pemilihan warna baju sesuai selera. Tetapi biasanya, warna baju wanita menggambarkan Tri Warna Kelimutu yakni warna merah, hijau dan putih.

Gawi Simbol Emansipasi

Barisan pada gawi membentuk lingkaran atau spiral. Barisan paling dalam adalah barisan Deo Eko dan Teke Eko. Kalau peserta banyak maka jumlah lingkaran bisa mencapai empat atau lima lingkaran.

Lingkaran paling luar adalah barisan para wanita, baik muda maupun tua. Lingkaran para wanita juga bisa lebih dari satu.

Secara historis, barisan atau lingkaran paling luar adalah para wanita menunjukkan suatu nilai dan symbol emansipasi yakni para wanita mendukung para lelaki dari belakang.

Semangat, kekuatan dan keberanian seorang laki berkat dukungan para wanita yang selalu setia mendukung aktivitas kaum pria.

Hal ini menunjukkan bahwa secara kultural, emansipasi bagi orang Ende telah ada sejak zaman dahulu kala.

Penutup

Demikian sinopsis tentang gawi sebagai sebuah tradisi seni tari dan olahraga tradisional merupakan sebuah simbol budaya yang agung dari masyarakat Kabupaten Ende sehingga layak dijadikan sebagai
salah satu atraksi wisata yang menarik dan unik. Setiap orang Ende pasti menyukai tarian ini.

Semoga sinopsis ini bermanfaat bagi kita semua, pembaca dan sebagai diseminasi nilai-nilai kultural yang diwariskan leluhur kepada generasi muda Ende di mana saja berada. (*)

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved