Rabies di TTS

Kronologi Kematian Benyamin, Pasien dengan Gejala Rabies di Kabupaten TTS

Dikatakan, tim Dinas Kesehatan Kabupaten TTS pada tanggal 27 Oktober 2023, melakukan investigasi kasus.

Penulis: Adrianus Dini | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ADRIANUS DINI
Juru Bicara Penanganan Rabies Kabupaten Timor Tengah Selatan, Octas B Tallo, ST, MT. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adrianus Dini

POS-KUPANG.COM, SOE - Benyamin Atty (58), salah satu pasien dengan gejala rabies di Desa Oinlasi Timor Tengah Selatan dinyatakan meninggal pada Sabtu, 28 Oktober 2023, pukul 17.15 Wita.

Terkait kematian Benyamin, juru bicara Satgas Penanganan Virus Rabies Kabupaten Timor Tengah Selatan, Octas B. Tallo, ST, MT mengungkap kronologis lengkap berdasarkan laporan tenaga surveilans Puskesmas Oinlasi, Yimna Ome.

Dikatakan, tim Dinas Kesehatan Kabupaten TTS pada tanggal 27 Oktober 2023, melakukan Investigasi kasus. 

Baca juga: BREAKING NEWS: Satu Lagi Pasien Gejala Rabies Meninggal Dunia di Timor Tengah Selatan 

Pada hari Minggu, 7 Mei 2023 sekitar pukul 09.00 wita, Benyamin sedang berada di halaman rumahnya. Tiba-tiba muncul seekor anjing tidak dikenal menggigit betis kaki kanan pasien dengan luka sayatan. 

"Pasien kemudian mencelupkan luka tersebut ke dalam air kali tanpa menggunakan sabun atau detergen karena  luka tersebut kecil dan dianggap tidak berbahaya," ujar pria yang akrab disapa Adi ini. 

"Pasien kemudian, kembali beraktifitas seperti biasa. Sebelum menggigit Benyamin, anjing terlebih dahulu menggigit DM dan ibunya. Anjing yang menggigit pasien Benyamin kemudian dikejar dan dibunuh oleh tetangga sekitar," tambahnya.

Pada 15 Mei 2023, petugas kesehatan desa, kepala desa dan aparat Desa Oinlasi melakukan sweeping pemberian VAR bagi korban GHPR. Namun pasien tidak ditemukan dirumah karena pasien berada di kebun. 

"Petugas menitipkan pesan kepada istri pasien Benyamin agar setelah pulang dari kebun pasien ke puskesmas untuk mendapat vaksin anti rabies (VAR). Namun pasien menolak dengan alasan takut," tuturnya. 

Saat itu kondisi luka Benyamin berangsur-angsur sembuh dengan sendirinya. Pasien pun melakukan aktifitas sebagaimana biasa tanpa ada keluhan yang lain.

Pada tanggal 21 Oktober 2023 muncul gejala keram pada lokasi gigitan. Keluarga memberikan pertolongan dengan cara disembur (pengobatan tradisional). Setelah itu pada 22 Oktober 2023, gejala yang dialami oleh pasien Benyamin kembali berkurang.

Baca juga: Sosok Polisi di Amfoang, Tak Kenal Lelah Ajak Warga Berikan Vaksin Rabies untuk Anjing Peliharaan

Pada 23 oktober 2023 Benyamin mengalami gejala demam, meriang, nyeri tenggorakan dan badan asam-asam. Namum pasien tidak mencari pertolongan kemana-mana.

Dua hari setelahnya pada 25 Oktober 2023, keluarga pasien berencana mecari perawatan ke dokter praktek swasta, tetapi tidak jadi berangkat.

Menurut pengakuan keluarga, pada 26 Oktober 2023, korban yang hendak mandi mengalami rasa pusing, takut air hingga sesak napas.

"Saat berada di kamar mandi pasien mengalami gejala takut air, rasa pusing dan sesak napas. Kemudian pasien diantar ke Puskesmas Oinlasi untuk rawat jalan dengan keluhan demam, pusing dan sesak napas," jelas Adi.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved