Berita Belu
Tradisi 'Dada Tama We Fohon', Menyambut Peresmian Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus
Perjalanan menghantar air pemali ini kurang lebih menempuh jarak 1 km yang harus ditempuh di bawah terik matahari.
Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Jelang peresmian Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus, di Desa Foho Eka, Kecamatan Nanaet Duabesi pada 25 Oktober 2023 mendatang, sejumlah persiapan telah dimulai.
Salah satu acara yang menjadi bagian dari jelang peresmian adalah tradisi "Dada Tama We Fohon," yang merupakan persembahan air pemali ke gereja.
Tradisi ini mengandung unsur budaya dan agama yang di dalamnya, menampilkan ada nya inkulturasi antara budaya dan Agama dan juga menggambarkan masuknya Agama Katolik ke Kabupaten Belu, khususnya di wilayah Nanaet Dua Besi.
Air pemali ini diambil dari salah satu sumber mata air yang biasa digunakan oleh oleh masyarakat setempat untuk melakukan prosesi atau ritual adat.
Baca juga: BREAKING NEWS: Satuan Intelkam Polres Belu Amankan Pelaku Penyelundupan Tembaga Hasil Curian

Air pemali tersebut dibawah oleh tiga suku yakni suku Kukun rai lubu, Kukun mauluta mautefa dan suku Roman nanaet duabesi sebagai perwakilan dari 72 Suku yang dikawal oleh suku Kolo nahak sebagai pahlawan.
Sebelumnya, pada malam hari diadakan upacara adat dengan menyembelih hewan kurban berupa babi. Kemudian, pada pagi hari, air pemali ini dihantar ke gereja dengan diiringi tarian likurai dan juga nyayian adat setempat.
Perjalanan menghantar air pemali ini kurang lebih menempuh jarak 1 km yang harus ditempuh di bawah terik matahari.
Meskipun terik matahari menyengat, para penari dan sejumlah tokoh adat, agama, pemerintah dan masyarakat setempat tetap semangat dalam misi mereka untuk mengantarkan air pemali ini dari sumber mata air ke gereja. Ritual adat ini menjadi bagian penting menuju puncak upacara pentabisan gereja.
Ketika sampai di gereja, air pemali tersebut ditempatkan di atas mesba yang telah disiapkan di luar pelataran gereja.
Prosesi adat di pelataran ini kemudian diikuti oleh prosesi pengantaran air pemali ke dalam gereja, dimana air ini nantinya akan diberkati dan akan digunakan saat peresmian gereja, yang menggambarkan perpaduan antara keyakinan agama dan budaya.
Di dalam gereja, sejumlah proses adat masih terus berlangsung, termasuk penyembelihan seekor babi sebagai kurban. Darah hewan tersebut dicampurkan dengan air pemali, kemudian Pastor Paroki Kristoforus Tara OFM menggunakan campuran ini untuk membuat tanda salib di tempat penyimpanan hosti kudus atau tabernakel dan altar gereja.
Baca juga: Penutupan Program TMMD ke 188 Kodim 1605 Belu, Masyarakat Dirun Antusias Sambut Pasar Baru
Sebagai penutup dari semua acara, dilakukan penyembelihan kurban berupa seekor sapi. Proses ini didahului dengan penuturan adat oleh tokoh adat, dan dilanjutkan dengan pemberkatan hewan kurban oleh Pater Kristoforus Tara OFM sebagai pastor Paroki.
Dalam pernyataannya, Pater Kristoforus Tara OFM menyampaikan bahwa tradisi yang dilakukan ini merupakan bagian integral dari upaya untuk mengintegrasikan kepercayaan agama dan budaya.
Ia menekankan bahwa gereja dan budaya tidak dapat dipisahkan, dan kehadiran gereja harus memberikan makna dalam kehidupan budaya setempat. "Ini adalah suatu proses inkulturasi, yang mengajarkan bahwa di mana ada gereja, di situ ada budaya," ujar Pater Kristo.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.