Kamis, 7 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 15 Agustus 2023, Siapakah yang Terbesar?

Pio Hayon menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk bacaan pertama dari Kitab Ulangan 31: 1-8, dan Injil Matius 18:1-5.10.12-14.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
FOTO PRIBADI
RENUNGAN - Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Selasa 15 Agustus 2023 dengan judul Siapakah yang Terbesar? 

Maka satu hal yang perlu di sini seperti yang ditunjukkan oleh Musa adalah kerendahan hati untuk siap memberikan tongkat kepemimpinan itu kepada orang lain.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 15 Agustus 2023, Menjadi Seorang Anak Kecil

Di sini letak kebesaran hati dari Musa yang telah dengan rendah hati dan sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri untuk siap memberikan tugas kepemimpinan itu kepada Yosua yang lebih muda dan dipilih oleh Tuhan sendiri.

Ada banyak contoh di sekitar kita di mana orang sangat sulit untuk melepaskan satu tugas kepemimpinan yang sudah diembani apalagi sudah dijalankan selama bertahun-tahun.

Orang masih sangat melekat dengan apa yang diajalani dan merasa bahwa itu adalah kepunyaannya.

Kelekatan inilah yang kadang membuat orang tak membiarkan “kursi panas” kepemimpinan itu diambil atau digantikan oleh orang lain.

Itulah sifat dasar manusia. Apa yang sudah dia jalani seakan-akan semuanya adalah milik kepunyaannya.

Kelekatan akan pangkat, kuasa, bahkan untuk bisa mendapatkan uang itu tak mungkin akan diserahkan kepada orang lain.

Sifat dasar manusiawi inilah yang tidak akan begitu gampang untuk diatur karena manusia masih lekat dengan hal-hal duniawi.

Kelekatan ini selalu memberi konsekuensi bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang layak untuk menjadi pemimpin atau menjadi orang besar di tempatnya dan orang lain tidak punya kesempatan untuk itu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 15 Agustus 2023, Kuatkan dan Teguhkanlah Hatimu

Maka dia akan melakukan banyak cara termasuk cara-cara “jahat” untuk mempertahankan kursi panas itu dan menyingkirkan orang lain.

Lebih lagi, dia bisa hanya akan memberikan itu kepada anaknya atau keluarganya saja dan tak boleh diberikan kepada orang lain.

Semua sifat dasar inilah yang mau dikikis oleh Yesus ketika para muridNya bertanya kepadaNya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”

Yesus tahu tentang isi pikiran para muridNya itu. Bukan sekadar pertanyaan siapa yang terbesar dalam kerajaan surga, tapi juga satu motivasi yang melekat dalam diri para murid tentang siapa yang lebih layak di antara mereka ini akan masuk dalam kerajaan surga dan memimpin teman-temannya.

Bicara tentang kerajaan surga, tapi konsep dasarnya masih pada konteks keinginan manusiawi belaka.

Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata, “Jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini kalian tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.”

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved