Opini
Opini dr Adrianus Andri, Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya?
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
POS-KUPANG.COM - stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.
Stunting pada anak mengacu pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Kemenkes tahun 2021, Kekurangan gizi pada balita berdasarkan indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) meliputi kategori sangat pendek dan pendek.
SSGI tahun 2021 menyatakan bahwa persentase stunted (sangat pendek dan pendek) sebesar 24,4 persen.
Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati peringkat ke-2 sebagai provinsi anak balita dengan stunting terbanyak di Indonesia, sebesar 15,7 persen dari seluruh populasi anak dengan stunting di Indonesia.
Sedangkan di Kabupaten Manggarai Timur, angka stunting masih cukup tinggi dimana hingga Februari 2023 masih terdapat 9,20 persen anak balita yang tergolong stunting di Manggarai Timur.
Lalu apa yang dimaksud dengan stunting itu sendiri? Dan mengapa stunting menarik untuk dibahas?
Stunting, per definisi menurut WHO, adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Anak-anak dapat dikatakan mengalami kondisi stunting apabila dari hasil pengukuran indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) berdasarkan grafik WHO atau CDC berada pada titik -2 SD (perawakan pendek/stunted) dan -3 SD (perawakan sangat pendek/severely stunted).
Cara mudah untuk menentukan indeks TB/U adalah dengan melihat grafik tersebut pada buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dapat diperoleh dari Puskesmas terdekat.
Apabila tinggi badan anak saat pengukuran berada pada garis dibawah skor -2 SD, maka anak dapat dikatakan mengalami kondisi stunting.
Kondisi stunting berbeda dengan arti gizi buruk (malnutrisi) secara umum, sebab seorang anak dapat dikategorikan mengalami gizi buruk dengan melihat beberapa parameter lainnya dari status antropometri, yakni indeks Berat Badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).
Sehingga, dapat disimpulkan gizi buruk menyebabkan stunting, tetapi stunting dengan sendirinya tidak menunjukkan kekurangan gizi (gizi buruk).
Mengapa mengetahui bahwa anak mengalami kondisi stunting atau tidak menjadi hal yang penting?
Kita ketahui bahwa salah satu parameter yang digunakan untuk menilai status gizi anak adalah melalui pengukuran tinggi badan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Oleh-dr-Adrianus-Andri.jpg)