Berita Alor

Peringati Satu Abad Injil di Pulau Pura Alor, Bajher: Desa Dulolong Perintis Agama Islam & Kristen

pekabaran Injil di Pulau Pura yang dimulai dari Pantai Pakalang, tempat yang kemudian sebagian orang menyebutnya sebagai Kampung Raja.

Penulis: Rosalia Andrela | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
SEREMONIAL - Seremonial peringatan satu abad injil masuk ke Pulau Pura dimulai dengan penerimaan injil oleh Suku Lekaduli di Desa Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut sebelum diantar ke Desa Pakalang, Kecamatan Pulau Pura. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Else Nago

POS-KUPANG.COM, KALABAHI - Masyarakat Kabupaten Alor merayakan satu abad injil masuk ke Pulau Pura yang diperingati pada Sabtu, 10 Juni 2023. Sebelum menuju Kecamatan Pulau Pura, masyarakat Alor mengadakan seremonial yang dimulai dari Desa Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor.

Mohammad Bajher Kamahi selaku Perwakilan Kakang Aring pada pembukaan seremonial menyampaikan bahwa Desa Dulolong merupakan perintis agama Islam dan Kristen di Kabupaten Alor.

"Dulolong itu kampung persaudaraan, kampung toleransi, kampung perintis, kampung penyebaran agama Islam dan Kristen di Alor. Inilah An Bang, kampung lengkap sebagai sebutan tiga kampung di pantai yakni, Bang Mate (Alor Besar), Bang Atinang (Alor Kecil) dan An Bang (Dulolong),” ujar Kamahi.

Bajher juga menyampaikan napak tilas perjalanan injil masuk ke Desa Dulolong.

Baca juga: Potensi SAR Alor Praktek Teknik Water Rescue di Sabanjar

Diceritakan bahwa kehadiran seluruh rumpun keluarga di Uma Fatang Dulolong ini karena 100 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1923, seorang pendeta Pura bernama Romelus Rupilu Tulihere berada diatas batu permandian.

Kemudian Pdt. Romelus ditugaskan oleh pimpinan pendeta kala itu untuk diantarkan oleh Raja Nampira,  melaksanakan misi pekabaran Injil di Pulau Pura yang dimulai dari Pantai Pakalang, tempat yang kemudian sebagian orang menyebutnya sebagai Kampung Raja.

“Hubungan Pura dan Dulolong bukan hanya sebatas peristiwa ini. Peran Pura di kampung Dulolong sangat besar. Dari rahim perawan putri Pura, nenek Bepang Lapenangga yang bersuamikan moyang Dopu Nae telah melahirkan seluruh keluarga besar Uma Dopu, termasuk Raja Nampira. Peristiwa hari ini adalah jejak kaki para leluhur,” tutur Kamahi.

Menurut Kamahi, kehadiran keluarga besar Pura di Dulolong berjasa besar melahirkan seorang pejuang Islam dan Perintis Kemerdekaan yakni Haji Abdul Syukur dari keluarga besar Obi.

“Tempat ini memiliki nilai historis yang tidak bisa kita lupakan baik generasi saat ini maupun yang akan datang. Tempat ini adalah situs dari perjalanan sejarah daerah dan umat kristiani di kabupaten ini,” ucap Bajher.

Baca juga: Jelang Pembukaan Event Visit Alor 2023, Dinas Pariwisata Alor Beberkan Rangkaian Persiapan 

Bajher mengisahkan pada tahun 1911 pendeta Belanda berkebangsaan Jerman bernama William Bech melakukan kegiatan pembaptisan kepada kurang lebih 100 orang, yang salah satunya kemudian menjadi pendeta pertama di Alor, yakni Pendeta Lambertus Moata.

“Silahkan berpikir untuk menjadikan tempat ini sebuah situs sejarah, apakah itu situs kemerdekaan ataupun situs toleransi. Kita yang hadir dalam peristiwa hari ini juga adalah pelaku sejarah yang nantinya bisa diceritakan kepada generasi besok dan seterusnya. Kita telah melaksanakan napak tilas perjalanan sejarah 100 tahun Injil masuk di Pura. Kita berharap bahwa kelak 100 tahun mendatang, generasi ketika itu dapat melaksanakan hal yang sama,” pungkasnya.

Sementara itu, Marzuki Nampira selaju Raja Muda Nampira dalam sapaannya menyampaikan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari ada dua kelompok yang memiliki pandangan yang berbeda tentang perbedaan.

"Kelompok pertama memandang perbedaan sebagai rahmat, anugerah, sebuah kekayaan yang harus dipelihara agar bermanfaat bagi semua orang. Sementara kelompok kedua memandang perbedaan itu sebagai kebencian dan memaksa perbedaan itu disamakan, dan itu satu hal yang mustahil terjadi,” katanya.

Menurutnya, kebencian akan menjadi fitnah, dengki dan bisa berujung pada perpecahan, sehingga apabila kondisi tersebut tidak disikapi maka komitmen agung orang Alor yang kerap didengungkan Ite Teing Tou, Ating Tou, Furang Tou, Kubang Tou, akan kehilangan makna.

Baca juga: DPRD Alor Umumkan Pemberhentian Wakil Bupati Alor dalam Rapat Paripurna

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved