Berita Timor Tengah Utara

Setitik Berkat dari Gubuk Usang Sebastianus Sakunab di Desa Oesena Timor Tengah Utara

Dinding uzur dengan beberapa tiang yang sudah miring seakan mulai lelah menatang atap tersebut.

Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON
PENGUSAHA - Pose Sebastianus Sakunab pengusaha garam di Desa Oesena, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Jumat, 17 Maret 2023 

Sebastianus terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk membeli bahan baku garam dari Kabupaten Sabu Raijua dengan harga Rp. 300.000 perkarung.

Setelah diolah menjadi garam berkualitas, Sebastianus menjual satu karung garam seharga Rp. 400.000 kepada para pengecer.

Warga RT/RW, 009/006, Dusun 6 ini mengatakan, dirinya pertama kali menggeluti dunia usaha garam sejak tahun 1994 lalu.

Jatuh-bangun di bidang usaha pengolahan garam merupakan hal lumrah bagi ayah dari 6 orang anak tersebut. Meskipun demikian, pengolahan garam selalu menjadi pilihan paling utama dari usaha-usaha lain.

Baca juga: Anggota DPRD Timor Tengah Utara Sebut Warga Keluhkan Layanan Bank NTT Cabang Kefamenanu

Pasalnya, dari usaha garam tersebut, Sebastianus berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Ia mengisahkan, pada tahun 1994 lalu, warga Desa Oesena diperkenalkan oleh sebuah LSM perihal pengolahan garam.

Sejak itu, hampir seluruh warga Desa Oesena menggeluti usaha garam. Seiring berjalannya waktu usaha garam tersebut perlahan tidak diminati oleh warga setempat lantaran ketiadaan modal dan bahan baku garam yang mulai langka. Hingga saat ini, tersisa 4 hingga 5 kepala keluarga di Desa Oesena yang setia menggeluti usaha garam.

Menurutnya, proses pengolahan garam melewati beberapa tahapan yang cukup menguras tenaga. Bahan mentah garam dibeli kemudian dimasukkan ke dalam penyaring yang telah dirancang.

Setelah itu, air bersih dituangkan di atas garam dan dibiarkan larut dan disaring (menggunakan menggunakan karung yang sudah dijahit) sehingga menghasilkan air garam yang bersih yang ditampung pada salah satu wadah.

Air garam hasil penyaringan tersebut, dimasukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan di atas tungku kemudian dimasak.

Tahapan terakhir dari proses pengolahan garam ini adalah butiran garam yang perlahan membeku setelah dimasak, diambil kemudian dimasukkan di dalam penyaring yang sudah dirancang tepat di atas tungku dengan jarak 1/2 hingga satu meter dari tungku.

Suami dari Gemasia Hitu ini menuturkan bahwa, keuntungan yang diperoleh dari hasil mengolah garam ini bisa mencapai Rp. 3.000.000 perbulan.

Bupati Timor Tengah Utara, Drs Juandi David, saat diwawancarai mengatakan, para petani garam atau UMKM di bidang usaha garam menjadi salah satu fokus pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

UMKM di bidang usaha garam, salah satu usaha yang cukup berkembang pesat di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara.

Selain mendorong peningkatan produksi garam, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara juga telah bekerja sama dengan beberapa investor dari luar Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membeli garam milik warga Kabupaten Timor Tengah Utara.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved