Berita NTT

Yayasan Kemala Bhayangkari NTT Gelar Webinar Sosialisasi Cegah Stunting

khususnya perempuan sudah siap menghadapi konsekuensi setelah menikah terutama untuk mengandung dan melahirkan anak.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ ISTIMEWA
PENYAMPAIAN - Penyampaian materi oleh narasumber Webinar bertajuk Cegah Stunting, Generasi Muda Peduli Stunting di Mapolresta Kupang Kota, Kamis 16 Maret 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Christin Malehere

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang Se-NTT menggelar Webinar bertajuk Cegah Stunting, Generasi Muda Peduli Stunting di Mapolresta Kupang Kota, Kamis 16 Maret 2023.

Webinar dalam rangka memperingati HUT Ke-43 Kemala Bhayangkari tersebut dikuti oleh Pengurus dan Anggota Bhayangkari Cabang Polresta Kupang Kota secara offline, dan Pengurus Bhayangkari Cabang - NTT secara daring.

Dalam Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber yang berkompeten bernama dr. Erma Rantela'bi, sp.OG dan Psikolog, Theodora Takalapeta.

Baca juga: BPD HPRI NTT Gelar Pelatihan dan Training Digital Marketing Gratis

Dalam materinya, dr. Erma Rantela'bi, sp.OG dalam materinya menjelaskan Stunting menyebabkan seorang anak gagal tumbuh dengan perkembangan otak yang lambat, dan upaya pencegahan stunting harus dimulai dari penanganan 1.000 hari pertama kehidupan.

Salah satunya mempersiapkan para anak remaja yang siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan ketentuan usia matang untuk perempuan mencapai 21 tahun, sedangkan laki-laki sudah berusia 25 tahun.

Tujuannya pada usia matang tersebut, khususnya perempuan sudah siap menghadapi konsekuensi setelah menikah terutama untuk mengandung dan melahirkan anak.

Selain itu, laki-laki dan perempuan sudah siap secara mental menghadapi tekanan dalam pernikahan, dan siap secara ekonomi dan finansial keuangan.

Sedangkan jika remaja putri melakukan pernikahan dini maka resikonya tubuh akan mengalami Anemia atau kekurangan zat besi.

Baca juga: KPK Usut Dugaan Korupsi Bansos Beras, Periksa Pendamping PKH di NTT

Tanda anemia pada remaja putri ditandai tubuhnya mudah lesu, lelah, letih, lemah, dan lunglai dan gejalanya yang terlihat berupa mengalami kehilangan banyak darah saat menstruasi, kurang zat besi akibat melakukan diet yang keliru.

Dampak bagi remaja putri yang mengalami anemia saat hamil maka akan mengalami pendarahan saat melahirkan yang beresiko kematian ibu dan bayi.

Bahkan dampak lainnya, anak yang dilahirkan berpotensi terkena stunting karena sejak dalam kandungan telah mengalami kekurangan nutrisi.

Psikolog, Theodora Takalapeta menilai keluarga sangat berperan penting dalam memberikan motivasi yang mendukung perkembangan anak terutama remaja yang berusaha mencari identitas diri.

Pasalnya anak remaja rentan mengalami kekosongan hidup, sehingga peran orangtua sangat besar untuk mengarahkan anak melakukan berbagai hal positif, seperti memfokuskan anak pada pendidikan, pengembangan kemampuan dan keterampilan, serta memberikan motivasi dan dukungan bagi anak untuk berjuang meraih mimpi dan cita-cita yang menjadi pemanis di masa muda.

Theodora mengutarakan permasalahan usia anak remaja laki-laki dan perempuan kerapkali terlibat banyak konflik karena masih mencari identitas diri, dan membutuhkan pengakuan, sehingga jika tidak diimbangi dengan pola pengasuhan yang salah maka dampak negatifnya terjadi kenakalan remaja, menjadi korban bullying dan kekerasan fisik, pergaulan bebas hingga hamil di luar nikah.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved