Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka

Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. Steph Tupeng Witin SVD dengan judul Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RENUNGAN - RP. Steph Tupeng Witin SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Minggu 12 Maret 2023 dengan judul Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka. 

Orang-orang Samaria sangat anti-Yahudi. Akan tetapi mereka tetap mempertahankan lima kitab pertama dari Kitab Suci Perjanjian Lama (Taurat).

Maka orang Samaria dan orang Yahudi sama-sama mengharapkan dan menantikan kedatangan Mesias.

Perempuan yang dijumpai oleh Yesus di dekat sumur Yakub itu juga mempunyai ekspektasi tinggi akan kedatangan Mesias.

Bagi orang Yahudi, wanita yang datang ke sumur pada siang hari tidak lazim. Biasanya perempuan datang menimba air ketika hari masih dingin: pagi atau sore.

Boleh jadi perempuan tadi merasa malu bertemu para perempuan lain.

Memang kehidupan pribadinya tidak bisa dibanggakan secara sosial. Tapi bagi Yesus, kedatangan wanita itu sangat membantu, karena kedalaman sumur itu sekitar tiga puluh meter dan ia tidak memiliki tali atau ember.

Ketika meminta minum, wanita itu sangat terkejut bahwa seorang Yahudi meminta minum dari seorang Samaria.

Keterkejutan ini tidak hanya karena ia berasal dari kelompok buangan tetapi juga tabu bagi seorang Yahudi untuk berbicara dengan seorang wanita di depan umum dan meminta berbagi air dari ember yang sama.

Kadang kita berpikir bahwa hal yang paling penting adalah setia kepada semua aturan agar kita menjalani kehidupan iman kita dengan selamat dan pasti.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Air Sumber Hidup Abadi

Yesus yang kita ikuti tidak seperti yang kita pikirkan. Cerita ini buktikan kepada kita: Yesus menerobos tembok prasangka, permusuhan dan tradisi untuk membawa kabar baik tentang perdamaian dan rekonsiliasi kepada orang-orang Yahudi, Samaria dan bukan Yahudi, termasuk kita.

Dia menunjukkan universalitas Injil dalam kata, tindakan konkret dan kabar baik keselamatan. Hanya ada satu hal yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih penebusan-Nya yakni keangkuhan (spiritual?).

Dialog membuka tabir hidup Wanita Samaria itu bahwa ia telah menikah lima kali dan saat ini hidup bersama dengan seorang pria yang bukan suaminya.

Orang-orang yang angkuh pasti menarik Yesus agar segera menghentikan percakapan itu. Tidak hanya karena ia seorang wanita dari kelompok buangan, tetapi karena wanita itu diragukan secara moral dan reputasi sosial.

Tapi apakah kita tahu betul dan menilai benar latar belakang hidup perempuan Samaria itu?

Berapa banyak orang yang telah kita singkirkan hanya karena prasangka? Berapa banyak orang dalam Gereja yang diasingkan hanya karena curiga?

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved