Berita Kota Kupang
PDAM Kota Kupang Mulai Siasati Pengelolaan Air Hadapi Kekeringan
Di samping itu, bisa saja lewat kebijakan dari Pemerintah Kota mengarahkan masyarakat untuk memanen air hujan.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - PDAM Kota Kupang mulai menyiasati pengelolaan air untuk menghadapi kekeringan.
Direktur Utama atau Dirut PDAM Kota Kupang Daniel Frederik Maro, Selasa 21 Februari 2023 menyebut dari visinya ketika menjadi Dirut adalah menjadikan pengelolaan air bersih di Kota Kupang secara berkelanjutan.
Artinya, penggunaan air di Kota Kupang tidak hanya dimanfaatkan tetapi juga bisa dikelola dan dikembalikan ke tanah sebagai sumbernya. Hal itu agar ketersediaan air selalu ada.
Baca juga: Gree Indonesia Resmi Buka Proshop Terbesar di Kota Kupang, Beri Layanan Konsultasi
"Jadi konsepnya yang saya rubah. Saya mau kembangkan disini. Seolah kita kelola ini air hanya dipakai untuk minum saja, tapi kita bagaimana kita mengembalikan air itu ke tanah supaya dia bisa bermanfaat selanjutnya," kata dia.
Dengan begitu maka, persoalan kekeringan bisa teratasi. Untuk itu perlindungan terhadap sumber mata air atau konservasi mata air juga sangat diperlukan.
Menurut dia, pihaknya juga fokus untuk menata sumber mata air seperti di mata air Sagu. Ia optimis jika ini dilakukan maka masyarakat Kota Kupang bisa tercukupi kebutuhan air bersih saat musim kekeringan tiba.
Di samping itu, bisa saja lewat kebijakan dari Pemerintah Kota mengarahkan masyarakat untuk memanen air hujan.
"Kalau di sekolah-sekolah, semua kita serentak bergerak untuk memanen air, itu luar biasa. Itu nilai tambah untuk ketersediaan air di Kota Kupang," sebut dia.
Baca juga: Masyarakat Kota Kupang Akan Terima BPNT
PDAM, kata dia, berharap dengan melakukan konservasi sumber mata air maka debit air bisa terjaga sehingga adanya kecukupan air bagi masyarakat Kota Kupang.
Musim Kemarau Tahun Ini
Dikutip keterangan tertulis pada 27 Januari 2023, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut musim kemarau 2023 disebut akan lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengatakan, kondisi kemarau yang lebih kering ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya, yaitu 2020-2022. Sebab, pada tahun-tahun itu intensitas hujan cukup tinggi.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan semakin mudah terjadi.
Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi.
"Kalau tiga tahun terakhir ini saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka di tahun ini (2023), intensitas hujan akan jauh menurun," kata dia.
Menurutnya, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Terutama di daerah-daerah yang masuk ke dalam kategori rawan Kahutla, contohnya seperti di Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, ia mengungkap, saat ini intensitas La Nina terus melemah. Hal itu terlihat dari indeks El-Nino Southern Osciliation (ENSO) di 10 hari pertama Januari 2023.
El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik.
Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering serta permulaan musim hujan yang terlambat. Sedangkan ketika La Nina, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya.
La Nina juga menyebabkan hujan tetap terjadi saat musim kemarau. BMKG memprediksi kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga akhirnya indeks menjadi netral pada Maret 2023.
"Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek," imbuhnya.
Pada bulan Maret hingga Mei 2023, beberapa wilayah di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi atau peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau.
Dari periode peralihan musim ini, kata dia, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mewaspadai kemunculan fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang.
"Kewaspadaan yang lebih tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau yang diprediksikan lebih kering atau dengan jumlah curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan 3 tahun belakangan karena kondisi La Nina yang telah netral atau bahkan berubah menjadi El Nino lemah," kata Dwikorita.
Kepala BMKG itu mengatakan, hingga enam bulan ke depan, BMKG memprediksi bahwa curah hujan bulanan akan didominasi kategori normal.
Namun, secara volume, curah hujan bulanan tahun 2023 relatif menurun dibandingkan dengan curah hujan bulanan selama tiga tahun terakhir.
Curah hujan bulanan kategori di atas normal berpeluang terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara pada Februari dan Maret 2023.
Sementara itu, di Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara akan terjadi pada Februari 2023. Lalu, di Papua bagian tengah dan selatan akan terjadi pada Juni 2023.
Sedangkan curah hujan kategori di bawah normal berpeluang terjadi di sebagian Sumatera bagian tengah, sebagian Kalimantan bagian tengah, sebagian Sulawesi bagian tengah dan sebagian kecil Papua pada Februari hingga Maret 2023, dan sebagian besar Sumatera dan Jawa pada Mei dan Juni 2023. (Fan)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Daniel Frederik Maro
PDAM Kabupaten Kupang
Dirut PDAM Kota Kupang
POS-KUPANG.COM
Pos Kupang Hari Ini
Berita Kota Kupang
Kota Kupang
Gerakan Pungut Sampah di Kota Kupang, dari Gubernur NTT Hingga Warga Biasa Turun Langsung |
![]() |
---|
Dirut Perumda Kota Kupang Ajak Staf Kolaborasi Beri Pelayanan Air Minum |
![]() |
---|
Kota Kupang Jadi Tuan Rumah Rakorda Kominfo Provinsi NTT Tahun 2023 |
![]() |
---|
Dukcapil Kota Kupang Imbau Pegawai Untuk Instal IKD |
![]() |
---|
Komisi I DPRD Kota Kupang Sebut Outsourcing Bukan Solusi Bagi PTT |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.