KKB Papua

KKB Papua - Yulce Wenda Memilih Diam Saat Dicecar KPK Soal Aliran Dana ke KKB Papua

Yulce Wenda istri Lukas Enembe, memilih diam ketika ditanya Komisi Pemberantasan Korupsi soal aliran dana dari sang suami kepada OPM untuk KKB Papua.

Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM
BUNGKAM – Yulce Wenda, istri Lukas Enembe, tersangka kasus suap dan gratifikasi, memilih diam soal aliran dana ke KKB Papua. Saat ini, kasus aliran dana ke KKB sedang didalami KPK. 

"Saya orang Lani, keluarga kami berasal dari Tiom, sebuah distrik yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Lanny Jaya," kata Yulce, seperti dikutip Tribun-Papua.com dari buku berjudul Yulce Wenda Enembe Perempuan Inspirasional, Sabtu 15 Januari 2022.

Mama Yulce, sapaan akrbanya, adalah anak pertama dari pasangan Liwat Wenda dan Lince Ngurawe Kogoya.

"Kami enam bersaudara, semuanya perempuan," ujarnya.

Lima adiknya masing-masing bernama Irine Wenda (lahir 8 November 1983), Elisina Wenda (lahir 15 November 1987), Neri Wenda (lahir 22 Januari 1989) dan si bungsu Nopi Wenda (lahir 11 Oktober 1991).

Meski lahir di Tiom, ia tidak menikmati masa kecil bersama teman-teman sebaya dan masyarakat di kampung halamannya.

"Sejujurnya saya tidak tahu banyak tentang tempat asal saya sendiri. Saya menghabiskan masa kanak-kanak di Yali dengan lingkungan yang bertebing-tebing serta gunung-gunung,".

HENTIKAN PENERBANGAN - Manajemen Trigana Air menghentikan penerbangan ke Oksibil, Pegunungan Bintang Papua. Ini dilakukan pasca KKB Papua menembak pesawat kago yang hendak landing di Bandara Oksibil baru-baru ini. Hingga kini KKB masih terus beraksi.
HENTIKAN PENERBANGAN - Manajemen Trigana Air menghentikan penerbangan ke Oksibil, Pegunungan Bintang Papua. Ini dilakukan pasca KKB Papua menembak pesawat kago yang hendak landing di Bandara Oksibil baru-baru ini. Hingga kini KKB masih terus beraksi. (POS-KUPANG.COM)

"Ya, saya tumbuh dan besar di Yali, Kabupaten Yalimo," ungkapnya.

Diketahui, Orang Yali adalah salah satu kelompok suku utama di Papua yang menetap di sebelah timur Lembah Baliem, di dataran tinggi Bumi Cendrawasih.

"Saya melalui masa kecil di Yali karena ayah saya, Liwat Wenda, ditugaskan sebagai utusan Injil ke Panggema (nama suatu desa di Yali) sejak 14 Mei 1972, saat itu saya masih berusia 8 bulan," tuturnya.

Kata Yulce, empat bulan pertama di Panggema, kami sekeluarga dibimbing oleh pendeta Adam Roth dan istrinya Hannelore Roth-Flier yang mengajari kami berbahasa Yali.

Setelah itu, ayah saya ditugaskan ke desa lainnya yang bernama Homtonggo.

"Kami pun menjalani kehidupan di Homtonggo di mana ayah saya memberikan pelayanan kepada masyarakat di sana dari tahun 1972 hingga 1975," paparnya.

Baca juga: KKB Papua - Tokoh Muda Papua Ali Kabiay Tantang Sebby Sambom Bertemu Langsung di Pasar Skouw

Yulce Wenda menghabiskan masa Sekolah Dasar (SD) di daerah Pegunungan Papua.

"Saya menempuh masa sekolah dasar berpindah-pindah, sekolah dasar pertama saya adalah di SD Panggema yang berjarak cukup jauh di Kampung Sali,".

"Saya bangun tiap pagi Jam 4 subuh, dan satu jam kemudian berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki selama beberapa jam," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved