Berita Belu

Cegah Virus ASF, Dinas Peternakan Belu Perkuat Biosecurity

Biosecurty merupakan tindakan pencegahan yang efektif untuk mengurangi resiko penularan penyakit pada ternak babi seperti virus ASF dan hog kholera.

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Eflin Rote
POS KUPANG.COM/TENI JENAHAS
KADIS - Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri. 

Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas

POS-KUPANG. COM, ATAMBUA - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu terus memperkuat komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada peternak babi untuk selalu memperhatikan biosecurity untuk mencegaj virus ASF.

biosecurty merupakan tindakan pencegahan yang efektif untuk mengurangi resiko penularan penyakit pada ternak babi seperti virus ASF dan hog kholera.

biosecurity harus dilakukan mengingat, obat untuk menyembuhkan babi yang terkena virus ASF belum ada hingga saat ini. Kemudian, penularan virus ASF bukan melalui udara tatapi melalu orang dan bahan makanan sisa. 

Baca juga: SMKN 2 Belu Punya Program Smart Green House 

Dengan menerapkan biosecurity yang baik maka ternak babi bisa selamat dari ancaman penyakit, baik itu virus ASF maupun hog kolera. 

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri saat dikonfirmasi POS-KUPANG.COM, Rabu 18 Januari 2023.

Menurut Umbu, kasus kematian babi selama Januari 2023 di Kabupaten Belu hanya 4-5 kasus. Dinas belum bisa memastikan penyebab kematian babi tersebut akibat virus ASF atau tidak karena untuk memastikannya harus melalui uji laboratorium. 

Untuk sementara dinas menyimpulkan kasus tersebut sebagai suspek (gejala) ke virus ASF. Sebab dari hasil pemantauan petugas, kasus kematian babi terjadi secara sporadis dan jarak waktunya jauh. 

Baca juga: Bupati Belu Sampaikan Program Bantuan 2024 Untuk Masyarakat Lamaknen

"Hasil pemantauan kami, babi mati tidak banyak mungkin baru 4-5 kasus. Itu terjadi secara sporodis, artinya wilayahnya beda beda, bukan satu wilayah. Terus jarak waktu mati antara babi yang satu dengan yang lain jauh, tidak berdekatan. Kalau virus ASF, cepat dan hampir semua. Satu mati, maka satu kandang bisa mati semua", jelas Nikolaus. 

Menurut Nikolaus, upaya yang dilakukan dinas saat ini adalah memperkuat biosecurity di tingkat peternak, memantau dan memeriksa lalu lintas ternak antar daerah. Selain itu, petugas memantau dan mengecek gejala ternak babi di lapangan. Dari hasil pengecekan itu, petugas mendata dan segera mungkin sampel ternak akan dikirim ke laboratorium untuk memastikan jenis penyakitnya. 

Menurut Nikolaus, para peternak babi di Kabupaten Belu cukup paham dengan biosecurity setelah serangan virus ASF tahun 2021-2022. Dengan pemahaman itu, peternak juga mampu membedakan gejala babi mati akibat virus ASF dan penyakit hog kholera. 

Baca juga: Bupati Belu Yakin Modal Bank NTT Tembus 3 Triliun Tahun 2024

"Dengan kejadian babi mati banyak tahun lalu, peternak kita di Belu makin paham mengenai biosecurity. Mereka tahu, gejala babi yang mati akibat ASF dan mati akibat penyakit lain", tuturnya. 

Nikolaus menambahkan, dinas sudah mengeluarkan himbauan kepada pemerintah kecamatan, desa untuk sama-sama mengantisipasi virus ASF. Sebab, sesuai informasi, beberapa daerah di NTT seperti Flores sudah terjangkit ASF. (jen)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved