Opini
Opini: Paradoks Penyerapan Anggaran Akhir Tahun
Realisasi belanja merupakan salah satu indikator kualitas pelaksanaan anggaran (IKPA) bagi K/L/D.
Jika dilihat dari rincian anggaran, perjalanan dinas dengan pesawat dan acara di hotel adalah kegiatan-kegiatan paling efektif dalam menyerap anggaran secara cepat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan di luar kantor memberi multiplier effect ekonomi bagi pihak lain seperti pengusaha, pegawai dan masyarakat sekitar tempat tujuan.
Namun menjadi pertanyaan apakah kegiatan tersebut lebih penting daripada kegiatan lain? Pemerintah pusat perlu lebih memberikan perhatian dalam kegiatan-kegiatan akhir tahun agar keuangan negara bisa digunakan secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai dengan UU No 17 Tahun 2003.
Baca juga: Opini: Mencari Tuhan di Qatar
Namun jika pemerintah menggunakan realisasi anggaran sebagai salah satu indikator evaluasi kinerja, maka hal tersebut menjadi paradoks dimana satu sisi pemerintah menginginkan anggaran yang efektif dan efisien, namun di sisi lain pemerintah membuat K/L/D menjadi tidak efisien demi mencapai realisasi penyerapan anggaran. Bukankah masih banyak program atau kegiatan pemerintah yang masih kekurangan anggaran?
Koordinasi antar K/L/D/ menjadi penting dalam menetapkan prioritas kegiatan pemerintah yang harus diselesaikan setiap periode tertentu dalam satu tahun anggaran.
Selain itu, publik diberikan ruang atau sarana dalam memberikan masukan terkait kegiatan pemerintah yang perlu menjadi prioritas, khususnya pada akhir tahun. Collaborative governance merupakan kunci dalam menjalakan keuangan negara yang efektif dan efisien. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-uang.jpg)