Rabu, 27 Mei 2026

Perang AS vs Iran

Amerika Serikat-Iran Bahas Garis Besar Kesepakatan Damai

Amerika Serikat dan Iran berpeluang mengakhiri perang. Saat ini kedua pihak sedang membahas garis besar kesepakatan damai.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
KOLASE POS-KUPANG.COM
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Mohammad Bagher Ghalibaf. 

POS-KUPANG.COM - Amerika Serikat dan Iran berpeluang mengakhiri perang. Saat ini kedua pihak sedang membahas garis besar kesepakatan damai.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio optimistis bahwa perdamaian tinggal menghitung hari. 

Perkembangan situasi ini memicu gelombang kekhawatiran, kekecewaan, dan kemarahan yang meluas di Israel. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Februari 2026 lalu.  

Saat itu, keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran bersama Israel dipuji banyak pihak sebagai puncak kejayaan karier politik dan diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu

Namun, tiga bulan berlalu, rezim di Tehran rupanya masih kokoh berdiri.  Trump kini justru berbalik mengejar kesepakatan baru demi membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker minyak.

Langkah ini dinilai mengorbankan kepentingan keamanan Israel. Kritik pedas dari dalam negeri Israel pun tak terhindarkan. 

Kolumnis Ben Caspit, dalam tulisannya di harian Ma'ariv, menyoroti kegagalan strategi Netanyahu. Alih-alih menghancurkan program nuklir Iran seperti yang dijanjikan, dampak perang dan rencana gencatan senjata ini justru berisiko mempercepatnya. 

Baca juga: Qatar Dikabarkan jadi Lokasi Baru Pembahasan Kesepakatan Damai Iran - AS

"Kesepakatan yang muncul ini jauh lebih buruk daripada yang sebelumnya," tulis Ben Caspit.

Kekhawatiran ini diperparah oleh dampak gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama perang berlangsung. 

Di satu sisi, pembunuhan itu menyingkirkan sosok yang mendirikan program nuklir, sebagaimana dilansir The Guardian Selasa (26/5/2026).

Namun di sisi lain, hal itu juga menghilangkan figur yang selama ini menahan Iran untuk tidak melangkah ke fase akhir pembuatan senjata nuklir.

Kecaman serupa datang dari Nahum Barnea melalui harian Yedioth Ahronoth.  Dia menyebut strategi Netanyahu sebelum dan selama operasi militer, yang dinamai Operation Epic Fury oleh AS dan Operation Roaring Lion oleh Israel, telah berakhir gagal total.

"Israel sepenuhnya bergantung pada keputusan presiden Amerika yang tidak menentu, hampa, dan putus asa," tulis Barnea.

"Semakin besar kemarahan, semakin besar raungan, semakin besar pula kekalahannya. Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan jauh lebih buruk. Miliaran dana yang akan mengalir ke kantong rezim tersebut akan berdampak sangat luas," lanjutnya.

Menurut laporan The New York Times, posisi Israel dalam pusaran diplomasi ini sangat memprihatinkan.  Tel Aviv tidak hanya dikucilkan dari meja perundingan antara AS dan Iran, tetapi juga sama sekali tidak diberi tahu mengenai perkembangan prosesnya.

Baca juga: Iran Sembunyikan Mojtaba Khamenei, Hanya Bisa Dihubungi Lewat Kurir Rahasia

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved