Cerpen

Mala Peitaka

Mala Peitaka lahir dari pasangan suami-istri: Mila dan Peimo dengan status pekerjaan petani sederhana, kalau tidak mau dibilang miskin.

Editor: Agustinus Sape
Kompas.com
Ilustrasi sarjana harus siap menciptakan lapangan pekerjaan, termasuk menjadi petani atau peternak modern 

Bagusnya lakukan seleksi dari awal. Bibit-bibit yang jelek dibasmi secara total dan menyeluruh. Kemudian baru menebar benih unggul yang bermakna naikkan kebahagiaan dan harkat martabat bangsa.

Mungkin pernyataan itu dinilai kasar dan berlebihan. Mohon maaf, tetapi harap maklum bahwa hati ini sangat sakit. Kerja keringat darah selama 3 tahun.

“Saya yang tanam belum panen, orang yang tidak tanam justru panen duluan porang saya.”

Dengan terganggunya keamanan, maka Mala Peitaka panen sebelum waktunya. Kasarnya, baku rampas dengan pencuri, pihak yang tidak alami suka dukanya berusaha.

Setelah akhir masa panen, pembeli timbang hasil di tempat. Tercatat hanya 240 ton dari perkiraan awal 320 ton. Tidak main-main 80 ton jatuh di tangan orang yang tidak tanam namun rakus panen.

Dari 240 ton porang, Mala Peitaka peroleh uang Rp 4.800.000.000. Delapan puluh ton atau Rp 1.600.000.000 jatuh di tangan orang lain.
Ya, supaya tidak sakit hati, anggap saja amal pada sesama. Cuma saja sasaran amalnya tidak tepat. Masa beramal pada penjahat! Aneh tapi nyata.

Setelah seluruh pendapatan masuk ke rekening, Endang mulai aneh-aneh.

“Pulangkan aku pada ayah atau ibu!”

“Lho, ko gitu?” tanya Mala Peitaka.

“Gak tahan, Mas!”

“Mengapa?”

“Gudang melulu!”

“Aneh saja!”

“Ya, Mas. Satu miliar lebih bukan sedikit. Bikin apa hidup dalam gudang kejahatan?!”

Takut Endang pulang benaran, maka Mala Peitaka minta pamit kepada tuan tanah. Cukuplah sudah bertani 3 tahun. Kehendak hati ingin berlama-lama, namun kondisi wilayah tidak bersahabat. Siapa pun tidak mau kerja rugi. PT cengkeh saja bongkar lari, apa lagi yang usaha perorangan, seperti Mala Peitaka.

Dengan persetujuan Endang, Mala Peitaka beli lahan 1 hektar dan bangun rumah mewah di pusat kota kabupaten. Di tempat yang baru itulah keduanya akan memulai usaha yang baru pula.

Mala Peitaka dan Endang sudah 2 bulan hidup di kota. Endang merasa nyaman bertetangga dengan orang baik-baik dan tidak kepikiran lagi untuk pulang ke Jawa.

Setelah survei kecil-kecilan, disimpulkan bahwa di tempat yang baru cocok untuk peternakan. Mau ternak ayam, bebek, atau kambing sangat layak karena pemukiman warga belum padat.

Peternakan ayam pedaging menjadi skala prioritas pertama. Selain persaingan masih kecil, tetapi kebutuhan ayam kian bertambah. Otomatis keuntungan rata-rata normal sekali pun tidak setinggi keuntungan porang.

Panen perdana hasilnya menggiurkan. Keuntungan jauh lebih tinggi dari perhitungan awal. Hal demikian makin membakar semangat berusaha Mala Endang.

Karena itu mereka naikkan volume dari 2.000 jadi empat ribu ekor. Ayam sebanyak itu masih mampu diurus sendiri oleh Mala Peitaka tanpa bantuan karyawan. Anak petani kampung bikin apa gengsi, katanya.

Tingkat kematian ayam generasi kedua sangat kurang. Hitung-hitung hanya 50 ekor yang mati. Itu bukan masalah, wajar saja.

Namun ketika selesai penjualan, ayam yang tidak ada, selain yang mati, tercatat 200 ekor. Apa yang makan ayam sejumlah itu?

Mala Peitaka penasaran lalu pasang CCTV secara rahasia, tanpa satu pun yang tahu, selain Endang. Lagi dua tiga hari akan panen ayam generasi ketiga, maka terungkaplah bahwa hilangnya ayam selama ini karena ada predator.

Sangkanya ular, biawak, anjing atau kucing, ternyata manusia. Coba jauh-jauh mungkin masih wajar, tetapi ini tetangga terdekat yang setiap kali panen ikut kebagian satu dua ekor secara gratis.

Setelah diperlihatkan rekaman CCTV, guru Andre mati kutu. Alibi pembenaran diri rontok dengan sendirinya. Ia menyuruh Mala Peitaka lapor polisi.

Namun Mala Peitaka tidak sampai hati. Biar saja, kata Mala Peitaka. Selain tetangga, yang lebih utama karena pelakunya kelas 3 SMA. Takutnya, ada tekanan psikis kalau kawan-kawan dan guru dapat informasi.

Tetapi orang tua pelaku tetap keras kemauan ungkap masalah. Mereka sendirilah yang lapor ke polisi dengan dasar pikir, biar pelaku mendapat efek jera.

Depan aparat keamanan, anak-bapak baku jual. Guru Andre bilang, ia tidak sanggup lagi bina pelaku. Tolong hajar supaya bertobat. Pelaku juga tidak mau kalah. Ia lantang berkata, bahwa bapaknya tidak beri uang pulsa data internetan. Karena itu, ia curi ayam untuk pakai beli pulsa.

Dengan terungkapnya kasus anak guru curi ayam, maka orang lain mulai takut. Tidak ada yang coba-coba ganggu lokasi peternakan Mala Peitaka.

Merdekalah Mala Peitaka beternak di lokasi itu. Mala Peitaka akhirnya tidak hanya pelihara ayam pedaging, tetapi juga ayam petelur dan ayam jago taji.

Usia 4 tahun beternak, terlihat dengan jelas gerakan perubahan dan kemajuan Mala Peitaka. Mobil-mobil kelas kini beberapa unit bertengger di garasinya. Endang ke mana-mana tampilannya jauh lebih ok ketimbang masa lalunya.

Setiap hari lingkungan Mala Peitaka ramai dengan kokokan dan kotekan.Tamu-tamu yang datang, entah diundang atau tak terundang, angguk-angguk kepala dan kagum akan kemajuan Mala Peitaka.

Kemajuan usaha Mala Peitaka ternyata bermakna bagi banyak pihak sebagai ayam berkokok hari siang. Dengan berjuang terus-menerus tanpa henti, maka akhirnya Mala Peitaka mencapai sesuatu seperti yang diimpikannya.

Tambolaka, 25 November 2022

Keterangan

Dau malodo kina (tidak umur panjang)

Koka mewa mate manganga (esok lusa mati menganga)

Aster Bili Bora
Aster Bili Bora (Foto Pribadi)


Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 , Tanah Langit NTT tahun 2021, Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru berkesan tak lekang dari ingatan tahun 2022.

 

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved