Cerpen
Mala Peitaka
Mala Peitaka lahir dari pasangan suami-istri: Mila dan Peimo dengan status pekerjaan petani sederhana, kalau tidak mau dibilang miskin.
Cerpen: Aster Bili Bora
POS-KUPANG.COM - Untungnya Mala Peitaka berpendidikan dan kawin dengan perempuan luar pulau. Seandainya buta huruf, istri Wanita Tetangga Sebelah, dan tinggal di kampung yang jauh dari kemajuan, maka percayalah nama Mala Peitaka tidak akan melegenda sampai kapan pun.
Mala Peitaka lahir dari pasangan suami-istri: Mila dan Peimo dengan status pekerjaan petani sederhana, kalau tidak mau dibilang miskin.
Setelah Mala Peitaka umur 3 tahun Peimo meninggal karena kurang gizi. Sialnya 2 tahun kemudian Mila juga meninggal dunia.
Mila meninggal tidak jelas penyakitnya. Malam setelah makan, Mila masih bercanda ria dengan Mala. Keesokan hari ketahuan meninggal setelah mendengar Mala menangis hiteris. Kabar burung yang sulit dibuktikan: Mila mati oleh suanggi.
Setelah tiada kedua orang tua, Mala Peitaka tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada kakak dan tidak ada adik. Orang bilang, beginilah nasib anak tunggal!
Syukurnya ada adik laki-laki dari Mila bernama Male. Dialah yang menyekolahkan Mala Peitaka sampai sarjana. Dia pulalah yang jadi orang tua ketika Mala Peitaka nikah dengan Endang.
Mau tahu siapa Endang? Dia sarjana pula, anak Direktur Bank, warga Solo. Bercintaan dengan Mala Peitaka ketika masih mahasiswi di Universitas Gajah Mada.
Apa itu yang disebut cinta buta? Mala Peitaka dari orang tua buta huruf, miskin papa tetapi cinta ulam tiba kawin dengan anak orang besar.
Beda langit dengan bumi. Tidak hanya beda ekonomi, namun juga soal postur. Endang cantik dan putih mulus seperti artis, datang Mala Peitaka... Duh,tidak mampu omong lagi.
Namun kelebihan Mala Peitaka yang nyata, bahwa dia pengasih luar biasa persis ayahnya.Orang bilang buah jatuh tak jauh dari pohon. Dan mungkin itulah yang membuat Endang tergila-gila.
Setelah peroleh ijazah sarjana Mala Peitaka dan Endang cari peruntungan lamar ASN. Lamaran dikirim ke berbagai kontor dan instansi. Tetapi nasib bukan di situ. Menunggu 6 bulan tidak ada kabar berita.
Dengan nada kecewa mereka persetan jadi pegawai. Manusia tidak hidup dengan PNS saja. Keduanya bertekad jadi petani. Mengapa dulu kedua orang tua yang petani bisa hidup?
Mau jadi petani lahan di mana? Lahan peninggalan orang tua sudah dijual habis Male untuk biaya pendidikan dan biaya pernikahan Mala Peitaka dengan Endang.
Male tidak pada posisi yang disalahkan. Mala Peitaka menerima kenyataan itu. Karena menurutnya, jikalau Male tidak tempuh cara yang demikian, maka sudah pasti Mala Peitaka konyol dan keadaannya tidak seperti sekarang.
Untuk makan minum saja sudah kewalahan, apa lagi biaya pendidikan yang ratusan juta. Syukur kena bapak kecil yang berhati mulia sehingga Mala Peitaka bisa jadi orang.
Dengan tidak adanya tanah warisan, apa harus bunuh diri? Tidaklah! Burung yang tidak sekolah bisa makan, apa lagi Mala Peitaka yang sekolah tinggi. Tambah pula Endang, anak orang besar, maka pasti ia tunjukkan kebesarannya dengan bekerja untuk sukses.
Mala Peitaka akhirnya beruntung dapat lahan 4 hektar yang subur, rata tanpa bebatuan. Rina adalah tuan tanah di wilayah tersebut. Tanah miliknya berpuluh-puluh hektar. Kebanyakan telantar dan belum ada yang huni.
Dengan adanya Mala Peitaka sebagai penggarap, justru Rina bersyukur tanahnya aman tidak diklaim pihak lain sebagai milik. Karena itu kepada Mala Peitaka diberi hak garap tanpa imbalan. Gratis..!
Pinjaman gratis itu membakar semangat Mala Peitaka banting tulang siang-malam. Apa lagi dapat bantuan modal Rp 400.000.000 dari ayah Endang, maka Mala Peitaka peras keringat tanpa kenal lelah. Ketulusan orang jangan disia-siakan, kata Mala Peitaka.
Lahan 4 hektar setelah diolah sedemikian rupa akhirnya ditanami 160.000 pohon porang. Gila memang! Belum tahu apakah Mala Peitaka masih seberani itu jika tanpa bantuan bapak mantu? Entahlah.
Baru beberapa bulan olah lahan porang dan belum ketahuan hasilnya seperti apa, maka datanglah cobaan yang siap mematikan. Semoga saja hanya sekali berlalu!
Apa itu? Cari nama! Untuk dikenal, disegani dan dihormati orang lain, maka wajib pesta. Biar tidak ada kandang, bukan masalah. Utang sekali pun, jadilah!
Mala Peitaka dikira sudah kaya. Buka lahan 4 hektar bukan gampang. Maka datang sang Bapak Male dengan wacana pesta beri makan leluhur, termasuk beri makan Mila dan Peimo, ayah ibu Mala Peitaka yang sudah meninggal.
Mala Peitaka menolak, selain karena memang belum ada biaya, tetapi yang lebih utama pesta-pesta adat dengan biaya besar sudah bukan zamannya lagi.
Male tersinggung dan merasa tidak dihormati oleh anak yang telah dibuatnya jadi orang. Male marah dan bahkan kutuk Mala Peitaka.
“Dau malodo kina. Koka mewa mate manganga!”
Ketika tiba di rumah, Male lapor, bahwa ia kutuk Mala Peitaka. Harapan Male, bahwa istri berpihak dan ikut-ikutan sumpah. Tetapi ternyata sangat beda. Istri justru menyesali tindakan konyol dan bodoh.
“Kalau hanya berpikir hari ini, mengapa dulu bikin orang baik. Banggalah kalau anak sukses. Bangga pula bahwa anak sudah hidup mandiri. Mala Peitaka masih perang batin sukses apa tidak, datang kau dengan rencana gila!”
Memahami teguran istri, maka setelah satu bulan lewat Male temui Mala Peitaka untuk hapus sumpah. Ia peluk cium dalam kasih Tuhan dengan potong ayam, wujud perdamaian sejati.
Pada momentum itulah Mala Peitaka memperbarui diri ayahnya dengan pandangan baru yang efektif melahirkan masyarakat moderen sejahtera lahir batin.
“Bapak sudah bikin saya baik. Saya tidak mau sia-saikan kebaikan Bapak. Biar Bapak sudah jual habis tanah warisan, saya tidak menyesal, saya tidak kurang hati. Bapak jual bukan untuk judi. Semata-mata demi kebaikan masa depan saya.”
Male tidak bisa omong. Bibir gemetar, air mata leleh. Mala Peitaka juga demikian. Tetapi semangatnya untuk mengubah keadaan tambah menyala.
“Bapak, sekarang kita kerja dalam senyap. Setelah berhasil kita tetap dalam kesunyian. Pendidikan, ekonomi yang stabil, dan kehidupan sosial yang berkualitas jadi tuntutan masa kini. Bapak janji siap berubah?”
“Siiaap!” Male jawab dengan penuh semangat. Anak-bapak jabat tangan bukti setuju untuk berjalan menuju era baru.
Dengan rekonsiliasi anak-bapak, Mala Peitaka makin terbakar semangat. Cintanya pada porang lebih tinggi ketimbang istri. Pagi sampai magrib sudah pasti Mala Peitaka di lahan porang. Saking sayangnya pada porang, maka istri sering bercanda.
“Mas, istri kamu itu Porang atau Endang?”
Porang sudah 2 tahun. Tumbuh kembangnya luar biasa. Lahan yang awalnya berhiaskan rumput ilalang sekarang hijau subur nan indah oleh porang.
Banyak mata mengarah ke sana dan nama Mala Peitaka jadi alas bicara. Namun hanya omong doang. Semangat meniru belum kelihatan. Tidak tahu mengapa? Mungkin tunggu hasilnya seperti apa, baru mata copot dari kelopaknya.
Mala Peitaka dan Endang dalam masa menghitung bulan. Tiga belas bulan lagi akan tiba masa panen. Seperti apa hasilnya, tunggu tanggal main. Tetapi tetap bekerja dalam sunyi. Panen diam-diam saja. Heboh-heboh untungnya apa?
Informasi harga porang diikuti publik, tidak hanya para petaninya. Dalam tahun berjalan harga umbi porang naik di kisaran angka minimal Rp 15.000 per kg.
Empat bulan lagi tiba masa panen. Mala Peitaka dan Endang makin semangat menghitung bulan. Melihat hutan porang yang suburnya aduhai, hati keduanya macam tidak tenang.
Rasa-rasanya 4 bulan adalah waktu yang tidak lama. Sudah dapat dibayangkan berapa yang akan diperoleh. Kalau minimal tiap hektar hasilnya 40 ton, maka hati-hati saja jangan sampai patah tulang belakang gara-gara pikul karung uang.
Sebulan lagi akan panen, tiba-tiba dapat berita gembira. Harga porang melonjak Rp 20.000/kg. Hati Mala Peitaka dan Endang seakan melayang-layang di udara. Siap-siap kumpul tenaga supaya makin kuat dan tidak jatuh dalam perjalanan.
Namun apa yang dibayangkan belum tentu sama dalam kenyataan. Sikap iri dan mental dapat gratis tanpa cucuran keringat masih ada di mana-mana.
Sembahyang 10 kali sehari bukan jawabannya kalau mental jahat sudah tertanam dari rahim bunda yang melahirkan.
Bagusnya lakukan seleksi dari awal. Bibit-bibit yang jelek dibasmi secara total dan menyeluruh. Kemudian baru menebar benih unggul yang bermakna naikkan kebahagiaan dan harkat martabat bangsa.
Mungkin pernyataan itu dinilai kasar dan berlebihan. Mohon maaf, tetapi harap maklum bahwa hati ini sangat sakit. Kerja keringat darah selama 3 tahun.
“Saya yang tanam belum panen, orang yang tidak tanam justru panen duluan porang saya.”
Dengan terganggunya keamanan, maka Mala Peitaka panen sebelum waktunya. Kasarnya, baku rampas dengan pencuri, pihak yang tidak alami suka dukanya berusaha.
Setelah akhir masa panen, pembeli timbang hasil di tempat. Tercatat hanya 240 ton dari perkiraan awal 320 ton. Tidak main-main 80 ton jatuh di tangan orang yang tidak tanam namun rakus panen.
Dari 240 ton porang, Mala Peitaka peroleh uang Rp 4.800.000.000. Delapan puluh ton atau Rp 1.600.000.000 jatuh di tangan orang lain.
Ya, supaya tidak sakit hati, anggap saja amal pada sesama. Cuma saja sasaran amalnya tidak tepat. Masa beramal pada penjahat! Aneh tapi nyata.
Setelah seluruh pendapatan masuk ke rekening, Endang mulai aneh-aneh.
“Pulangkan aku pada ayah atau ibu!”
“Lho, ko gitu?” tanya Mala Peitaka.
“Gak tahan, Mas!”
“Mengapa?”
“Gudang melulu!”
“Aneh saja!”
“Ya, Mas. Satu miliar lebih bukan sedikit. Bikin apa hidup dalam gudang kejahatan?!”
Takut Endang pulang benaran, maka Mala Peitaka minta pamit kepada tuan tanah. Cukuplah sudah bertani 3 tahun. Kehendak hati ingin berlama-lama, namun kondisi wilayah tidak bersahabat. Siapa pun tidak mau kerja rugi. PT cengkeh saja bongkar lari, apa lagi yang usaha perorangan, seperti Mala Peitaka.
Dengan persetujuan Endang, Mala Peitaka beli lahan 1 hektar dan bangun rumah mewah di pusat kota kabupaten. Di tempat yang baru itulah keduanya akan memulai usaha yang baru pula.
Mala Peitaka dan Endang sudah 2 bulan hidup di kota. Endang merasa nyaman bertetangga dengan orang baik-baik dan tidak kepikiran lagi untuk pulang ke Jawa.
Setelah survei kecil-kecilan, disimpulkan bahwa di tempat yang baru cocok untuk peternakan. Mau ternak ayam, bebek, atau kambing sangat layak karena pemukiman warga belum padat.
Peternakan ayam pedaging menjadi skala prioritas pertama. Selain persaingan masih kecil, tetapi kebutuhan ayam kian bertambah. Otomatis keuntungan rata-rata normal sekali pun tidak setinggi keuntungan porang.
Panen perdana hasilnya menggiurkan. Keuntungan jauh lebih tinggi dari perhitungan awal. Hal demikian makin membakar semangat berusaha Mala Endang.
Karena itu mereka naikkan volume dari 2.000 jadi empat ribu ekor. Ayam sebanyak itu masih mampu diurus sendiri oleh Mala Peitaka tanpa bantuan karyawan. Anak petani kampung bikin apa gengsi, katanya.
Tingkat kematian ayam generasi kedua sangat kurang. Hitung-hitung hanya 50 ekor yang mati. Itu bukan masalah, wajar saja.
Namun ketika selesai penjualan, ayam yang tidak ada, selain yang mati, tercatat 200 ekor. Apa yang makan ayam sejumlah itu?
Mala Peitaka penasaran lalu pasang CCTV secara rahasia, tanpa satu pun yang tahu, selain Endang. Lagi dua tiga hari akan panen ayam generasi ketiga, maka terungkaplah bahwa hilangnya ayam selama ini karena ada predator.
Sangkanya ular, biawak, anjing atau kucing, ternyata manusia. Coba jauh-jauh mungkin masih wajar, tetapi ini tetangga terdekat yang setiap kali panen ikut kebagian satu dua ekor secara gratis.
Setelah diperlihatkan rekaman CCTV, guru Andre mati kutu. Alibi pembenaran diri rontok dengan sendirinya. Ia menyuruh Mala Peitaka lapor polisi.
Namun Mala Peitaka tidak sampai hati. Biar saja, kata Mala Peitaka. Selain tetangga, yang lebih utama karena pelakunya kelas 3 SMA. Takutnya, ada tekanan psikis kalau kawan-kawan dan guru dapat informasi.
Tetapi orang tua pelaku tetap keras kemauan ungkap masalah. Mereka sendirilah yang lapor ke polisi dengan dasar pikir, biar pelaku mendapat efek jera.
Depan aparat keamanan, anak-bapak baku jual. Guru Andre bilang, ia tidak sanggup lagi bina pelaku. Tolong hajar supaya bertobat. Pelaku juga tidak mau kalah. Ia lantang berkata, bahwa bapaknya tidak beri uang pulsa data internetan. Karena itu, ia curi ayam untuk pakai beli pulsa.
Dengan terungkapnya kasus anak guru curi ayam, maka orang lain mulai takut. Tidak ada yang coba-coba ganggu lokasi peternakan Mala Peitaka.
Merdekalah Mala Peitaka beternak di lokasi itu. Mala Peitaka akhirnya tidak hanya pelihara ayam pedaging, tetapi juga ayam petelur dan ayam jago taji.
Usia 4 tahun beternak, terlihat dengan jelas gerakan perubahan dan kemajuan Mala Peitaka. Mobil-mobil kelas kini beberapa unit bertengger di garasinya. Endang ke mana-mana tampilannya jauh lebih ok ketimbang masa lalunya.
Setiap hari lingkungan Mala Peitaka ramai dengan kokokan dan kotekan.Tamu-tamu yang datang, entah diundang atau tak terundang, angguk-angguk kepala dan kagum akan kemajuan Mala Peitaka.
Kemajuan usaha Mala Peitaka ternyata bermakna bagi banyak pihak sebagai ayam berkokok hari siang. Dengan berjuang terus-menerus tanpa henti, maka akhirnya Mala Peitaka mencapai sesuatu seperti yang diimpikannya.
Tambolaka, 25 November 2022
Keterangan
Dau malodo kina (tidak umur panjang)
Koka mewa mate manganga (esok lusa mati menganga)
Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 , Tanah Langit NTT tahun 2021, Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru berkesan tak lekang dari ingatan tahun 2022.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sarjana_66060.jpg)