Cerpen

Mala Peitaka

Mala Peitaka lahir dari pasangan suami-istri: Mila dan Peimo dengan status pekerjaan petani sederhana, kalau tidak mau dibilang miskin.

Editor: Agustinus Sape
Kompas.com
Ilustrasi sarjana harus siap menciptakan lapangan pekerjaan, termasuk menjadi petani atau peternak modern 

Cerpen: Aster Bili Bora

POS-KUPANG.COM - Untungnya Mala Peitaka berpendidikan dan kawin dengan perempuan luar pulau. Seandainya buta huruf, istri Wanita Tetangga Sebelah, dan tinggal di kampung yang jauh dari kemajuan, maka percayalah nama Mala Peitaka tidak akan melegenda sampai kapan pun.

Mala Peitaka lahir dari pasangan suami-istri: Mila dan Peimo dengan status pekerjaan petani sederhana, kalau tidak mau dibilang miskin.

Setelah Mala Peitaka umur 3 tahun Peimo meninggal karena kurang gizi. Sialnya 2 tahun kemudian Mila juga meninggal dunia.

Mila meninggal tidak jelas penyakitnya. Malam setelah makan, Mila masih bercanda ria dengan Mala. Keesokan hari ketahuan meninggal setelah mendengar Mala menangis hiteris. Kabar burung yang sulit dibuktikan: Mila mati oleh suanggi.

Setelah tiada kedua orang tua, Mala Peitaka tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada kakak dan tidak ada adik. Orang bilang, beginilah nasib anak tunggal!

Syukurnya ada adik laki-laki dari Mila bernama Male. Dialah yang menyekolahkan Mala Peitaka sampai sarjana. Dia pulalah yang jadi orang tua ketika Mala Peitaka nikah dengan Endang.

Mau tahu siapa Endang? Dia sarjana pula, anak Direktur Bank, warga Solo. Bercintaan dengan Mala Peitaka ketika masih mahasiswi di Universitas Gajah Mada.

Apa itu yang disebut cinta buta? Mala Peitaka dari orang tua buta huruf, miskin papa tetapi cinta ulam tiba kawin dengan anak orang besar.

Beda langit dengan bumi. Tidak hanya beda ekonomi, namun juga soal postur. Endang cantik dan putih mulus seperti artis, datang Mala Peitaka... Duh,tidak mampu omong lagi.

Namun kelebihan Mala Peitaka yang nyata, bahwa dia pengasih luar biasa persis ayahnya.Orang bilang buah jatuh tak jauh dari pohon. Dan mungkin itulah yang membuat Endang tergila-gila.

Setelah peroleh ijazah sarjana Mala Peitaka dan Endang cari peruntungan lamar ASN. Lamaran dikirim ke berbagai kontor dan instansi. Tetapi nasib bukan di situ. Menunggu 6 bulan tidak ada kabar berita.

Dengan nada kecewa mereka persetan jadi pegawai. Manusia tidak hidup dengan PNS saja. Keduanya bertekad jadi petani. Mengapa dulu kedua orang tua yang petani bisa hidup?

Mau jadi petani lahan di mana? Lahan peninggalan orang tua sudah dijual habis Male untuk biaya pendidikan dan biaya pernikahan Mala Peitaka dengan Endang.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved