Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 18 November 2022, Yesus Marah
Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. John Lewar SVD dengan judul Yesus Marah.
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. John Lewar SVD dengan judul Yesus Marah.
RP. John Lewar menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk bacaan pertama Wahyu 10: 8 - 11, dan bacaan Injil Lukas 19:45-48.
Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Jumat 18 November 2022 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
Pada hari kemarin Yesus menangisi kota Yerusalem, yang megah nan permai, yang dirobohkan oleh musuh.
Dan hari ini Yesus marah besar ketika masuk Bait Allah dan menyaksikan transaksi perdagangan. Yesus memarahi para pedagang yang berjualan di halaman Bait Allah.
Apakah Yesus marah karena barang yang dijual itu terlalu mahal atau karena penjualannya tak adil?
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 16 November 2022, Memuji Tuhan dengan Talenta
Berikut ini beberapa alasan yang membuat Yesus marah.
Pertama, Yesus berhadapan dengan praktik pasar yang justru merusak tujuan Bait Allah.
Yesus menunjukkan otoritasnya sebagai Anak Allah yang berkuasa penuh untuk menghentikan praktik-praktik kotor di Bait Allah, rumah yang diyakini-Nya sebagai tempat BapaNya, “Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh 2,16 kutipan Zak 14,21). Ada tertulis, ”RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikan sarang penyamun”.
Rumah ibadah adalah rumah doa, tetapi dijadian sarang penyamun. Penyamun adalah pencuri yang lihai sekaligus perampok serakah. Mereka lihai karena menyediakan barang untuk kurban bakaran, seperti merpati, kambing, lembu dan domba.
Tersedia juga uang penukar, karena Bait Allah mempunyai uang sendiri, yang berbeda dari uang yang dipakai sehari-hari.
Untuk urusan ini tidak masalah, karena memang dibutuhkan. Yang salah justru sistem dan akibat dari penyimpangannya.
“Perampok-perampok” tersembunyi memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan dari ketulusan para peziarah. Hewan-hewan itu dijual dengan harga yang mahal, bahkan sampai 20 kali lipat dari harga standar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Lewar-SVD_005.jpg)