KTT G20

KTT G20 Bikin Warga Bali Terganggu Aktivitasnya, Luhut Pandjaitan Minta Maaf

Imbas adanya pelaksanaan KTT G20 di Bali beberapa aturan dan kebijakan pun diberlakukan, salah satunya pemberlakuan ganjil genap.

Editor: Alfons Nedabang
TRIBUN BALI/ZAENAL NUR ARIFIN
GLADI - Suasana gladi mekanisme penyambutan kedatangan Kepala Negara anggota KTT G20 di The Apurva Kempinski Bali. 

Karena situasi geopolitik dunia sedang tidak kondusif, terutama akibat perang Rusia-Ukraina dengan rentetan dampaknya termasuk perkiraan resesi ekonomi global, ada kekhawatiran KTT G20 tidak akan menghasilkan komunike (pernyataan) bersama dari para pemimpin yang hadir.

Apalagi, dalam KTT G20 Bali kali ini, tidak lengkap seluruh 20 pemimpin negara G20 hadir. Ada 17 kepala negara dari anggota G20 yang dipastikan hadir, dan ada 3 kepala negara yang tidak bisa hadir.

Terhadap kekhawatiran itu, Menko Luhut selaku Ketua Bidang Penyelenggaraan KTT G20 mengakui dunia saat ini dihadapkan pada situasi yang rumit dan kompleks. Bahkan, kata Luhut, belum pernah dalam sejarah G20, situasi dunia begitu kompleks seperti sekarang ini.

Jika dihadapkan pada keadaan dunia yang rentan ini pada akhirnya KTT G20 Bali tidak menghasilkan komunike bersama para pemimpin G20 atau Leaders` Communique, bagi Luhut itu tidak masalah. Sebab, ungkap Luhut, dari sekian pertemuan termasuk side event (kegiatan sampingan) terkait G20 selama masa presidensi dipegang Indonesia, banyak hal yang dihasilkan.

Baca juga: Doa Harian Katolik, Doa Bersama bagi KTT G20 2022 di Bali Indonesia

Luhut menyebut ada 361 hasil dari rangkaian kegiatan G20 di Indonesia, yang nilainya dari sisi ekonomi mencapai miliaran dolar AS atau triliunan rupiah.

“Itu dari aneka macam bidang seperti kesehatan, dekarbonisasi dan masih banyak lagi lainnya. Misalnya juga berhasil membangun kerjasama dalam restorasi mangrove. Jadi saya melihat Leaders` Communique memang penting tetapi yang lebih penting lagi adalah hal-hal yang konkret yang bisa kita lihat hasilnya dari pertemuan negara-negara anggota G20 itu,” kata Luhut.

Luhut juga mengatakan, selain Presiden Rusia Vladimir Putin, dua kepala negara lainnya yakni Presiden Brasil dan Meksiko juga tidak bisa hadir secara langsung ke Bali'>KTT G20 Bali. Batalnya kehadiran dua presiden dari dua negara anggota G20 dari kawasan Amerika Latin ini, karena sejumlah alasan.

Brasil, jelas Luhut, baru saja mengadakan Pemilu pada akhir Oktober lalu dan hasilnya sudah diketahui. Berdasarkan pemberitaan, Lula da Silva terpilih sebagai pemenang Pemilu dan akan menjadi Presiden Brasil berikutnya yang akan dilantik pada 1 Januari 2023.

Dengan demikian Presiden Brasil saat ini memang akan segera berakhir masa jabatannya."Bisa dimaklumi pemimpin Brasil tidak hadir karena memang negara itu baru saja adakan Pemilu," kata Luhut, Sabtu sore.

"Kalau Presiden Meksiko, sejauh yang saya tahu, dia tidak pernah pergi jauh dari negaranya," kata Luhut yang menjawab pertanyaan wartawan asing.

"Sedangkan Presiden Putin tak bisa hadir karena ada urusan domestik yang harus ditekel. Tapi Presiden Putin akan ikut secara virtual," kata Luhut.

Belajar Daring

Sekolah-sekolah di Denpasar Selatan mulai belajar daring, Sabtu(12/11) terkait dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam KTT G20. Pelaksanaan PPKM dalam KTT G20 ini berdasarkan surat edaran nomor 35425/SEKRET/2022.

Di mana wilayah yang terkena PPKM saat G20 akan melaksanakan pembelajaran daring mulai 12 – 17 November 2022. Salah satu orangtua siswa, Made Sugiarta yang tinggal di Kelurahan Panjer Denpasar Selatan mengatakan, tidak masalah jika harus dilaksanakan pembelajaran daring.

Baca juga: Jelang KTT G20, Menko Luhut Binsar Pandjaitan Resmikan PLTS Terapung Milik PLN di Nusa Dua Bali

“Sebagai orangtua, saya ikut mendukung kesuksesan G20 ini, apalagi tempatnya di Bali dan ini luar biasa,” kata Sugiarta.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved