Lipsus

LPA NTT Minta Kasek SMAN 9 Kupang Tak Keluarkan Siswa Aniaya Guru di Sekolah

LPA NTT minta Kepala Sekolah SMAN 9 Kupang tidak mengeluarkan RJD, siswa aniaya guru di kelas dan bisa memperhatikan hak anak

POS-KUPANG.COM/ CHRISTIN MALEHERE
BERI ARAHAN - Kepsek SMAN 9 Kupang bersama Pengurus Komite memberikan penguatan psikologis kepada para pelajar di Kelas XII IPS 2 pasca kejadian penganiayaan siswa terhadap guru, Kamis 22 September 2022 

POS-KUPANG.COM, KUPANG -  LPA NTT dan DPRD NTT berharap Kepala Sekolah SMAN 9 Kupang tidak mengeluarkan anak pelaku penganiayaan terhadap gurunya itu.

Kasus Siswa Aniaya Guru itu terjadi beberapa hari lalu di SMAN 9 Kupang. RJD (17) menganiaya gurunya, Maria Theresia di dalam kelas.

Kasus Siswa Aniaya Guru itu mendapat respon dari Ketua Lembaga Perlindungan Anak atau Ketua LPA NTT, Veronika Ata, SH, MH kepada Pos Kupang, Kamis (22/9).

Menurut Ketua LPA NTT Tory, begitu Veronika Ata biasa disapa, karakter anak masa kini menjadi tantangan. Karena berhadapan dengan perubahan jaman dan era digitalisasi yang tentu butuh perhatian semua pihak.

Demikian diungkapkan Ketua LPA NTT Tory, saat dimintai tanggapannya terkait kasus siswa SMAN 9 Kupang, RDJ melakukan penganiayaan terhadap gurunya, Maria Theresia.

Menurut Ketua LPA NTT Tory, apa yang terjadi di SMAN 9 Kupang patut disesali dan semoga kedepannya hal seperti itu tidak terulang lagi.

Ketua LPA NTT Tory mengatakan, salah satu cara untuk mengantisipasi peristiwa tersebut butuh pendidikan karakter sejak dini dan pengasuhan postif.

Misalnya ketika anak melakukan kesalahan, orang tua atau guru membangun dialog yang baik dengan anak, bukan mencela, mengancam anak bahkan memukul. Perlu informasikan mana yang salah, mana yang benar.

"Satu tantangan lain, kebanyakan orang tua atau guru ketika melihat anak berprestasi, kurang dihargai. Dianggap biasa. Padahal, ketika kita mengapresiasi anak, dia akan berjiwa besar dan belajar untuk menghargai orang lain," kata Ketua LPA NTT Tory, Kamis (22/9).

Ketua Lembaga Perlindungan Anak NTT, Veronika Atta
Ketua Lembaga Perlindungan Anak NTT, Veronika Atta (POS-KUPANG.COM/CHRISTIN MALEHERE)

Terkait kasus pemukulan murid terhadap guru, merupakan sebuah tindakan pelanggaran atau perbuatan tidak terpuji.

"Kita menghargai hak anak, namun menolak semua bentuk kekerasan, baik murid terhadap guru, maupun sebaliknya guru terhadap murid ataupun kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa lainnya," tegas Ketua LPA NTT Tory.

Menurut Ketua LPA NTT Tory, anak mempunyai hak, namun anak juga memiliki kewajiban. Sesuai pasal 19 UU no. 35/ tahun 2014 tentang Perlindungan anak.

Setiap anak berkewajiban untuk menghormati orang tua, wali, dan guru. Kemudian mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; mencintai tanah air, bangsa, dan negara.

Juga menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya dan melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved