Berita Belu
KDS Minta Pendekatan Pelayanan ARV dan Hentikan Stigma HIV-AIDS dan ODHA
HIV-AIDS ODHA atau dalam istilah baru disebut Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) mengharapkan kepada pemerintah supaya memperhatikan hal prioritas
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS KUPANG. COM, Teni Jenahas
POS KUPANG. COM, ATAMBUA - Orang dengan HIV-AIDS ODHA atau dalam istilah baru disebut Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) mengharapkan kepada pemerintah supaya memperhatikan hal prioritas dalam penanggulangan HIV-AIDS.
Diantaranya, pemerintah terus mengajak masyarakat supaya hentikan stigma HIV-AIDS dan diskriminasi kepada ODHA. Pasalnya, stigma terhadap ODHA masih kental di tengah masyarakat dan hal itu berdampak pada psikis ODHA.
Kemudian, pemerintah juga memperluas layanan PDP (pelayanan, dukungan dan pengobatan). Sebab, pelayanan ARV masih terpusat di rumah sakit dan beberapa puskesmas saja.
Selain itu, pemerintah berupaya mencegah terjadinya kasus baru dengan rutin sosialisasi kepada masyarakat serta melakukan pemeriksaan rutin kepada kelompok beresiko HIV-AIDS .
Hal ini dikemukakan Ketua KDS Moris Foun, Budi saat dihubungi Pos Kupang. Com, Jumat 9 September 2022. Budi mengharapkan perhatian dari pemerintah kepada KDS dalam hal memberikan edukasi dan motivasi.
"Harapan kami KDS, pemerintah bisa memperhatikan KDS seperti memberikan edukasi dan motivasi supaya KDS bisa keluar dari stigma dirinya, bisa terbuka dan bisa berbaur dengan masyarakat", pintanya.
Menurut pengalaman Budi, pelayanan ARV ARV selama ini tidak ada kendala. Obat diambil di rumah sakit dan gratis.
"Dari 2012 sampai sekarang puji Tuhan sudah bagus. Kita ambil obat di rumah sakit dan gratis", katanya.
Budi mengajak ODHA yang masih tertutup supaya jangan takut mengakses obat karena obat sangat penting dan bila dikonsumsi secara teratur bisa meningkatkan kualitas hidup ODHA.
Saya ajak ODHA yang masih tertutup supaya jangan takut mengakses obat. Obat itu penting dan kalau konsumsi rutin bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Karena hak ODHA adalah hak untuk hidup, kalau hak untuk hidup sudah terpenuhi maka hak untuk sehat bisa diakses", ucapnya dengan nada mengajak.
Budi juga berharap kepada pemerintah supaya memperluas layanan ARV ke tingkat puskesmas. Hal ini bertujuan membantu ODHA yang ekonomi lemah sehingga mengurangi biaya transportasi saat pengambilan obat ke rumah sakit. Apalagi topografi wilayah di NTT, banyak fasilitas kesehatan yang jauh dari tempat tinggal masyarakat.
Budi juga meminta pemerintah supaya mendukung KDS supaya melakukan pendekatan khusus dengan ODHA yang masih sangat tertutup. Ini merupakan upaya pencegahan penularan kasus baru dan mencegah kematian.
"Mesti lakukan pendekatan khusus dan metode pendekatan tidak langsung ke inti tapi merangkul secara teman dulu, memahami karakternya. Yang penting kita yang sudah terbuka harus terbuka dengan dia. Dia mau diam saja tidak apa apa, kita lakukan pe dekatann. Kalau didekati terus pasti suatu saat terbuka", jelas Budi.
Terpisah Wakil Ketua KDS Moris Foun, Demitrianus saat dihubungi Pos Kupang. Com mengaku, kondisinya sehat-sehat. Semuanya
karena kemurahan Tuhan dan ia teratur mengkonsumsi obat ARV. pelayanan ARV
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/drs-dominikus-mali-1_20150907_102928.jpg)