Rabu, 10 Juni 2026

Sumba Timur Terkini

Harga Pertamax Naik Jadi Beban Baru bagi Driver Grab dan Maxim di Sumba Timur

Ia mengaku, pekerjaan sebagai driver aplikasi yang identik dengan warna kuning itu merupakan pekerjaan utamanya saat ini.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IRFAN BUDIMAN
MENGELUH DAN KAGET --- Dua driver ojek online (ojol) Grab dan Maxim di Sumba Timur, NTT, Kristianus Umbu Tay (35) dan John T. Jama (30) kaget mendengar harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mengalami kenaikan secara tiba-tiba pada Rabu 10 Juni 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Harga Pertamax naik menjadi beban baru bagi driver Grab dan Maxim di Sumba Timur
  • Kristianus Umbu Tay (35) dan John T. Jama (30) mengatakan, perubahan harga bahan bakar minyak tersebut semakin memberatkan kehidupan mereka di tengah kondisi ekonomi yang sulit
  • Berharap pemerintah mempertimbangkan kembali harga ini dan mencari solusi menyesuaikan harga dengan kondisi ekonomi masyarakat 

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Sejumlah driver ojek online (ojol) Grab dan Maxim di Sumba Timur, NTT kaget mendengar harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mengalami kenaikan secara tiba-tiba.

Kristianus Umbu Tay (35) dan John T. Jama (30) mengatakan, perubahan harga bahan bakar minyak tersebut semakin memberatkan kehidupan mereka di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

“Kita sangat terdampak. Kenaikan harga ini sangat mempengaruhi pendapatan kita yang tidak menentu,” kata John kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (10/6/2026).

John, pria asal Kecamatan Tabundung ini, telah bekerja sebagai driver ojol Maxim selama satu tahun.

Baca juga: Simak Daftar Harga BBM Terbaru per 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp 16.250

Ia mengaku, pekerjaan sebagai driver aplikasi yang identik dengan warna kuning itu merupakan pekerjaan utamanya saat ini.

Setiap hari, sejak pukul 07.00 pagi, ia sudah mengaktifkan aplikasinya untuk mencari orderan. Namun hingga pukul 23.00 malam, kata dia, pendapatan hariannya tidak menentu.

Sejak menjadi driver Maxim dengan Honda Beat terbarunya, ia menggunakan BBM jenis Pertamax. 

Ia jarang menggunakan Pertalite. Pilihan itu, kata dia, untuk memastikan kendaraannya tetap awet.

Namun karena kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, kini ia mulai berpikir untuk beralih menggunakan BBM subsidi itu.

John mengatakan, jika memaksa memakai Pertamax harga terbaru, tidak ada lagi uang yang bisa disimpannya. Pendapatan akhirnya habis untuk mengisi BBM.

“Sekarang pikir-pikir untuk isi Pertamax lagi. Pendapatan kita ini tidak pasti. Mau simpan berapa kalau minyak naik terus,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah membantu mereka dengan menurunkan kembali harga Pertamax tersebut. Menurut dia, pemerintah seharusnya menyesuaikan kebijakan kenaikan harga BBM dengan kondisi ekonomi masyarakat.

Saat ini, kata dia, kondisi ekonomi sedang sulit. Harga barang naik dan semakin susah mendapatkan uang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved