Artikel

Mendukung ASI Sebagai Langkah Investasi Bersama untuk Pembangunan Berkelanjutan

 Secara global, peningkatan pemberian ASI dapat menyelamatkan lebih dari 820.000 anak setiap tahunnya serta mencegah penambahan kasus kanker payudara

Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/HO
Apry Selwin Leokuna, Maternal Newborn Child Health and Nutrition (MNCHN) and Adolescent Development (AD) Specialist Save the Children 

Melalui pendekatan ini, setiap beneficeries dapat merasakan pelayanan yang berkualitas dan selalu tersedia bagi masyarakat. Misalnya, melalui sesi penjangkauan berkala yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan kader Posyandu setempat.

Ketiga, meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari guru, para kader, tenaga kesehatan, remaja putri dan putra serta lapisan masyarakat lainnya.

Save the Children juga berupaya mengatasi masalah kesehatan di masyarakat serta meningkatkan pemahaman dan kapasitas keluarga agar melakukan praktik baik untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. 

Keempat, penguatan lingkungan sosial dan kebijakan yang mendukung kelompok rentan demi mencapai perubahan-perubahan yang langsung dan berkesinambungan yang berpihak kepada pemenuhan hak atas kelangsungan hidup, perlindungan, pengembangan dan partisipasi anak.

Save the Children melakukan advokasi berbasis bukti, baik dari level desa hingga nasional untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, demi mencapai perubahan positif bagi kehidupan anak.

Strategi dan pendekatan yang tepat, tentunya dapat menghasilkan perubahan positif dan mendukung pembangunan berkelanjutan. 

Data midterm pada tahun 2019 dan hasil monitoring dan evaluasi berkala, Save the Children tahun 2022 menunjukkan, adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik dari orangtua di desa-desa intervensi kami.

Misalnya, terjadi peningkatan partisipasi anak ke Posyandu, yakni dari 83,3 persen menjadi 84 % . Tingginya angka partisipasi ini dikarenakan adanya manfaat yang diterima ketika berkunjung ke Posyandu.

Kader Posyandu terlatih, dapat dengan baik memberikan sosialisasi dan konseling terkait permasalahan kesehatan dan nutrisi ibu dan bayi, sehingga orangtua juga mendapat pengetahuan baru, seperti cara menyusun menu makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat dan bergizi. 

Selain itu, pengetahuan orangtua akan PMBA juga meningkat, dari 26,2 % menjadi 48,3 % . Data IMD dan ASI eksklusif juga menunjukjan adanya kenaikan. Prosentase IMD dari 13,5 % menjadi 24,83 % , selain itu, angka ASI eksklusif meningkat signifikan, dari 64,2 % menjadi 91,75 % .

Keberhasilan yang telah dicapai serta keberlangsungannya, harus didukung oleh komitmen dari berbagai pihak dan juga disertai dengan monitoring dan evaluasi yang konsisten.

Di komunitas, kunjungan rumah berkala, harus dilakukan kader Posyandu untuk menyosialisasikan pesan-pesan kunci terkait manfaat ASI serta memantau perubahan sikap dan perilaku masyarakat.

Di keluarga, perlu peningkatan partisipasi rumah tangga khususnya para ayah agar Ibu dapat sukses dalam menyusui bayi secara ekslusif pada enam bulan pertama kehidupan, tanpa tambahan makanan lain dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih, dengan didampingi makanan pendamping ASI yang sehat dan bergizi dari pangan lokal. 

Selain itu, perlu memastikan, ibu hamil dan menyusui tidak mendapat kekerasan dalam bentuk apapun dan tidak ada asap rokok di dekat ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak.

Melalui Pekan Menyusui Sedunia 2022, diharapkan setiap lapisan masyarakat BERPERAN LEBIH dan berpihak pada anak, khususnya dalam mendukung dan mengedukasi agar setiap bayi dapat memeroleh hak dasarnya akan ASI.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Komentar

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved