KKB Papua

Alex Sobel Gelar Pertemuan di Parlemen Inggris, Benny Wenda Serukan Tarik Militer dari Papua Barat

Upaya Benny Wenda agar Papua terlepas dari NKRI ini, satu di antaranya adalah dengan menghadiri pertemuan di Parlemen Inggris 14 Juni 2022

Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
FB Free West Papua Campaign
PERTEMUAN - Benny Wenda berfoto usai pertemuan di Parlemen Inggris, 14 Juni 2022. Benny Wenda menyerukan agar pemerintah Indonesia menarik kekuatan militer di Papua. 

Ia mendesak pemerintah Inggris menyerukan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia untuk mengunjungi Papua Barat

Benny Wenda juga meminta agar jurnalis internasional diizinkan masuk ke Papua Barat.

Selain itu, ia juga medesak pemerintah agar menarik militer dari Papua Barat.

Sementara terkait dengan kondisi alam Papua Barat, Benny Wenda menawarkan Visi Green State untuk memulihkan krisis daratan, lautan, hutan, dan iklim yang telah hancur di Papua Barat.

Biodata Benny Wenda

Merjuk pada Wikipedia, Benny Wenda lahir di Lembah Baliem, Irian Jaya.

Ia adalah pemimpin kemerdekaan Papua Barat dan Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (bahasa Inggris: United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)).

Dia adalah pelobi internasional untuk kemerdekaan Papua Barat dari Indonesia. Dia tinggal di pengasingan di Inggris Raya.

Pada tahun 2003 dia diberikan suaka politik oleh pemerintah Inggris setelah dia melarikan diri dari tahanan saat diadili.

Ia telah bertindak sebagai perwakilan khusus rakyat Papua di Parlemen Inggris, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Parlemen Eropa.

Baca juga: Bos KKB Papua Tawar Solusi Damai, Benny Wenda Ajak Jokowi Bahas Referendum Papua Barat 

Pada 2017 ia diangkat sebagai Ketua untuk Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), sebuah organisasi baru yang menyatukan tiga organisasi politik utama yang memperjuangkan separatis Papua Barat.

Biografi Benny Wenda

Sekitar tahun 1970, Wenda muda hidup di sebuah desa terpencil di kawasan Papua Barat.

Di sana, dia hidup bersama keluarga besarnya. Mereka hidup dengan bercocok tanam. Saat itu, dia merasa kehidupannya begitu tenang, "hidup damai dengan alam pegunungan".

Sampai satu saat sekitar tahun 1977, ketenangan hidup mereka mulai terusik dengan masuknya pasukan militer.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved