Opini

Sarjana Tidak Laku Oleh Isidorus Lilijawa

Lulusan Perguruan Tinggi mesti menjadi manusia yang mempunyai pengetahuan dan karakter yang baik

Editor: Sipri Seko
Sarjana Tidak Laku Oleh Isidorus Lilijawa
Istimewa
Isidorus Lilijawa

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Flores (Uniflor), yang digelar secara virtual, pada tanggal 2 September 2021 silam, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, menyebutkan, banyak sarjana-sarjana di NTT yang tidak laku.

Gubernur mencontohkan, sarjana yang tidak laku misalnya sarjana peternakan. Sebab, tidak banyak bidang peternakan yang berkembang di NTT.

Kemudian, banyak sarjana pertanian. Namun, sektor tersebut juga dinilai tidak bergerak.

Itu menunjukkan bahwa kualitas ilmu pengetahuan kita dengan kemampuan kita untuk mengaplikasikannya di lapangan itu tidak pernah sejalan. Ini penyebab hari ini Nusa Tenggara Timur masih terpuruk jauh. (Kompas.com, Jumat (3/9/2021).

Saya sependapat dengan pernyataan Gubernur NTT ini. Beberapa poin penting yang beliau sampaikan:

1) Lulusan Perguruan Tinggi mesti menjadi manusia yang mempunyai pengetahuan dan karakter yang baik, serta berani mengambil langkah-langkah di saat kondisi terburuk.

2) Kalau hanya cerdas tapi penakut tidak baik. Ada orang berani tapi bodoh juga tidak baik. Ada orang berani dan pintar tapi tidak mempunyai kepedulian terhadap sesama, juga tidak laku.

Pernyataan ini kemudian viral. Ada pro dan kontra.

Yang pro menyatakan pernyataan Gubernur itu merefleksikan fakta dan itu terjadi.

Yang kontra katakan, adalah tugas Gubernur untuk membuat para sarjana itu laku, dengan menciptakan lapangan kerja dan atasi pengangguran.

Termasuk merealisasikan janji pengiriman 2.000 pemuda setiap tahun ke luar negeri.

Pengganggur Intelektual

Sarjana tidak laku. Itu benar. Ketika banyak sarjana kita, tamatan perguruan tinggi kita malah menjadi penganggur terselubung dan penganggur intelektual.

Setiap tahun, kita menyaksikan banyak sarjana memperebutkan kursi pegawai negeri.

Kita melihat banyak sarjana berebutan peluang kerja di perkantoran. Sarjana tidak laku karena 2 hal: pertama, setelah mendapat gelar sarjana mereka kesulitan mendapatkan/menciptakan peluang kerja.

Kedua, ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah tidak bisa diaplikasikan dalam tindakan nyata. Teorinya mereka paham tetapi tidak ada aksi nyata.

Tidak terserapnya lulusan perguruan tinggi ke lapangan kerja memang tidak sepenuhnya disebabkan faktor tak adanya jiwa kewirausahaan.

Banyak faktor lain menjadi penyebab. Meskipun demikian, tampaknya faktor dan tantangan terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan berhasil membentuk atau menanamkan semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan.

Sebagai disiplin ilmu, kewirausahaan bisa diajarkan lewat sistem terstruktur, salah satu hasil penting dan utama praksis pendidikan.

Lembaga pendidikan tidak dapat memberikan pekerjaan, tetapi bisa memastikan agar hasil didik mampu menciptakan pekerjaan.

Untuk konteks NTT, angka kemiskinan 21,21 persen pada September 2020 dari jumlah penduduk 5,33 juta lebih merupakan suatu keprihatinan.

Di balik itu ada fakta yang menunjukkan rendahnya semangat berwirausaha. Ada anekdot, orang NTT jual pisang beli molen. Jual ubi beli keripik ubi. Jual mangga beli jus mangga.

Tak heran bila orang-orang yang berasal dari luar NTT lebih sukses secara ekonomis dibandingkan orang NTT sendiri karena mereka “tidak malu” berwirausaha apa saja.

Rendahnya minat berwirausaha ditunjang oleh belum jelasnya manajemen wirausaha yang dirancang pemerintah saat ini.

Ujung-ujungnya masyarakat dibiarkan berkelana dengan kemampuan ‘tradisionalnya’ untuk mempertahankan hidup.

Pertanyaan saya, apa kontribusi perguruan tinggi sehingga para sarjana selepas diwisuda tidak menjadi sarjana yang tidak laku?

Faktanya, sebagian besar lulusan perguruan tinggi kita lebih berminat sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Di sini, peran perguruan tinggi patut digugat.

Membongkar rasa malu para mahasiswa mesti dimulai sejak berada di bangku perguruan tinggi.

Provinsi NTT banyak dihuni oleh orang-orang yang malu untuk berwirausaha dalam skala kecil dan menengah.

Kita malu pada apa kata orang, bagaimana kata tetangga.

Selain membenahi kurikulum kewirausahaan di perguruan tinggi, mentalitas para sarjana kita harus dirombak.

Ya, mentalitas jadi PNS, mentalitas kerja kantoran, mentalitas tidak mau kerja kotor, mentalitas harap gampang, mentalitas malu berusaha.

Ini yang harus dibuang. Selain itu, pemerintah harus semakin gencar menciptakan kesempatan kerja dengan berbagai terobosan positif.

Jangan melulu memberikan janji angin surga yang akhirnya sulit direalisasikan. 

Perayaan Ketidakpastian

Di NTT kita mempunyai cukup banyak perguruan tinggi. Setiap tahun terjadi puluhan momen wisuda.

Ada euphoria, pesta, sukacita atas keberhasilan menyelesaikan kuliah.

Wisuda itu dirayakan dan dipestakan walau selepas itu para yubilaris yang diayubahagiakan itu masih mencari kerja ke mana-mana, masih harus menganggur dulu, pusing mencari peluang kerja ke sana ke mari.

Pesta wisuda itu semacam perayaan ketidakpastian setelah kuliah. Tantangan terberat itu bukan menyelesaikan kuliah. Tetapi bagaimana bisa mendapatkan kerja, bisa menciptakan peluang kerja sesaat setelah selesai kuliah.

Maka tidak heran jika banyak sarjana kita itu sarjana tidak laku. Mereka sulit mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah dalam praksis nyata.

Ada banyak faktor penyebab. Salah satunya ketidakmampuan pemerintah dengan segala sumber daya dan sumber dana yang dimiliki untuk membuka kesempatan kerja.

Pengangguran intelektual yang begitu tinggi itu terjadi karena tidak adanya link and match antara apa yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan konkrit dalam masyarakat atau dunia kerja.

Maka, sarjana yang laku adalah sarjana yang bisa membongkar rasa malunya untuk berusaha walaupun tidak sesuai bidang ilmunya. Kemauan untuk berusaha itu penting.

Where is a will, there is a way (di mana ada kemauan, di situ ada jalan).

Tanpa itu, seberapapun dana yang mengalir ke NTT, masyarakat akan tertatih-tatih untuk mencapai kesejahteraan.

Malah kucuran dana itu justru masuk ke kantong-kantong rekan-rekan dari luar NTT yang sudah berani “membuang rasa malu”-nya demi perbaikan taraf hidup.

Peran pemerintah, swasta dan perguruan tinggi di NTT saat ini adalah menata ulang manajemen kewirausahaan dengan mulai membongkar rasa malu pada generasi muda NTT saat ini.

Buanglah paradigma job seeker dan beralihlah menuju paradigm job creator.

Semakin banyak sarjana tidak laku bisa jadi mengindikasikan kampus yang tidak laku. Itu juga cermin dari pemerintah yang tidak laku.

Maka, sarjana tidak laku harus jadi noumenon yang menggelisahkan kampus dan pemerintah itu sendiri.

Saya teringat pernyataan almarhum Pastor Bernard Beru, SVD setiap kali menyinggung tentang para sarjana.

“Katanya sarjana pertanian, tetapi mau makan cabe harus minta di tetangga sebelah. Katanya sarjana peternakan, tetapi tak ada seekor ternak pun yang dipelihara. Katanya sarjana ekonomi, usaha kios bangkrut melulu.”

Ini mungkin guyonan, tetapi realitas kita. Maka pernyataan Gubernur bahwa banyak sarjana tidak laku itu benar, sekaligus membenarkan bahwa pemerintah memang belum banyak berbuat untuk menjadikan para sarjana itu laku. (Ketua Paguyuban Soverdia Timor)

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved