Berita Ende Hari Ini

Simposium Pembumian dan Penggeloraan Pancasila di Ende

pembaharuan dirinya sendiri. Bahwa seorang muslim kalau ngomong soal pembaharuan, harus memulai dari dirinya sendiri

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Simposium Pembumian dan Penggeloraan Pancasila di Aula Universitas Flores, Ende, Selasa 31 Mei 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti 

POS KUPANG.COM, ENDE - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar Om simposium Pembumian dan Penggeloraan Pancasila di Aula Universitas Flores (Uniflor), di Ende Senin 30 Mei 2022.

Simposium ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila, 1 Juni Tahun 2022 ini. Simposium dibagi dalam dua sesi yang mana, sesi pertama oleh Pater Philipus Tule, SVD, Rikard Bangun dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu.

Sementara sesi kedua, secara spesifik mengulas, "Sisi Filosofis: Ende sebagai Rahim Intelektual Pancasila Sukarno oleh P. Leo Kleden SVD, dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero) dan Aloysius B. Kellen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Simbiosis Ende.

Baca juga: Goris Mimpi Bertemu Jokowi

Selanjutnya, 'Sisi Historis: Genealogi Pemikiran Pancasila Sukarno' oleh Dr. Anhar Gonggong, M.A., Sejarawan dan Syaiful Arif Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila (PSPP).

Lalu 'Sisi Dialektika: Merayakan Pemikiran Genial Bung Karno, "Menyelami Ethico-Religious Ketuhanan yang Berkebudayaan" oleh Dr. Muhammad Sabri, M.A. Direktur Pengkajian Kebijakan PIP
serta refleksi oleh Aris Heru Utomo, S.H., MBA., M.Si. Direktur Pengkajian Materi PIP.

Pater Philipus Tule, mengatakan, hal yang perlu diketahui oleh masyarakat NTT dan Ende khususnya Ende, bahwa Bung Karno, pernah tinggal di Ende, diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda selama empat tahun sembilan bulan empat hari (1934 - 1938).

Dia menyebut, masa pengasingan Bung Karno di Ende jauh lebih lama jika dibandingkan pengasingan di tempat lain, seperti Bengkulu dan Suka Miskin.

Baca juga: Matahari Departemen Store Lippo Plaza Kupang Sediakan Layanan Shop dan Talk

Selama berada di Ende, kata Pater Philipus, Bung Karno bergaul akrab dengan masyarakat Ende, berdiskusi dengan para pastor, bruder SVD, tokoh masyarakat, adat muslim.

Soekarno juga rajin membaca dan menulis, melatih dan memainkan drama - drama Tonil bertema perjuangan.

"Soekarno menghasilkan karya besar sebagai seorang filsuf, pemikir, seniman. Dia menulis 12 surat islam dari Ende, dia menulis 12 tonil. Dia juga melukis beberapa lukisan yang indah," kata Pater Philipus.

Pater Philipus merincikan, 12 Tonil yang ditulis Bung Karno, antara lain, Rahasia Kelimutu, Rendo Rate Rua, Nggera Ende, Amuk, Dokter Syaitan, Kut-Kutbi, Aero Dinamit, Djula Gubi, Maha Iblis, Anak Haram Jadah, Sang Hai Roemba, dan 1945.

"Semua itu dia kerjakan selama empat tahun sembilan bulan empat hari selama di Ende, itu kemudian dikritalisasikan dan dipidatokan pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI dan PPKI. Jadilah Pancasila seperti kita miliki senayan," ujar Pater Philipus.

Baca juga: Selama Bulan Mei NTT Alami 300 Gempa Bumi

Terkait surat - surat Islam, kata Pater Philipus, intinya adalah soal pembaharuan islam.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved