Berita NTT Hari Ini
Hari Buruh : Ini Tanggapan Akademisi Terkait Tenaga Kerja
tentu akan ada banyak risiko tidak berkembang dan nantinya menjadi pragmatis dan apatis. Bahkan, apa yang dapat diidentifikasi
Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS- KUPANG.COM, Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM, KUPANG -Pada hampir seluruh segmen lapangan kerja mengalami kendala serius dari Pandemi Covid-19 sejak tahun 2020-2021.Banyak tenaga kerja informal dengan perjanjian kerja yang dirumahkan oleh perusahaan tidak sedikit jumlahnya.
Hal ini disampaikan Dosen FISIP Unwira Kupang, Drs. Mikael Thomas Susu, M. Si Jumat 29 April 2022.
Menurut Tommy, sapaan akrab Mikael Thomas Susu, selama kurang lebih dua tahun tenaga kerja di NTT mengalami suatu kondisi akibat Pandemi Covid-19.
Selain itu ada juga bencana alam Badai Siklon Tropis Seroja di tahun 2021.
"Tetapi, seperti juga yang kita tahu bahwa perusahaan besar yang menyerap tenaga kerja besar sangat sedikit (untuk menyatakan sama sekali tidak ada)," katanya.
Baca juga: Siswa SDK Maria Ferari Maumere, Ikut Retret Sebelum UASBN
Dijelaskan, pada saat yang sama dikenali juga ada tenaga kerja (usia produktif) yang sesungguhnya bekerja (informal, tanpa perjanjian kerja serta tanpa upah), berkembang dan tumbuh begitu saja dalam komunitas masyarakat kita (sebagai saudara/keponakan/hubungan pertalian darah/hubungan perkawinan dan lain sebagainya.
Dengan demikian, lanjutnya, konsep buruh' dalam makna regulatif UU ketenagakerjaan menjadi rumit dan sulit terurai dalam mendeskripsikan fakta.
"Lapangan kerja menjadi konsep yang jauh dari praktik kehidupan, yang sering menjadi isu, tetapi tidak mudah dielaborasi dan dipahami. Kelompok angkatan kerja produktif, mungkin juga cerdas dan pekerja keras, pada gilirannya masuk dalam pasar kerja serabutan yang situasional dan tidak berkelanjutan," katanya.
Baca juga: Polisi Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terhadap Sembilan Gadis NTT Nyaris Jadi Korban Sindikat
Dikatakan, tentu akan ada banyak risiko tidak berkembang dan nantinya menjadi pragmatis dan apatis. Bahkan, apa yang dapat diidentifikasi sebagai peluang kerja.
"Banyak dari komunitas tersebut di atas tidak lagi perduli terhadap standarisasi keterampilan apalagi keahlian. Karena pekerjaan tanpa standar seperti demikian masuk saja pada ojek online-cukup dengan SIM-Motor (standar dengan kelengkapannya), banyak orang bisa bertahan dan meneruskan hidup ini, dengan langsung dapat uang riil dan cash," jelasnya.
Karena itu, lanjut Tommy, apakah perlu kompetensi Ijazah, Sertifikat Bahasa Inggris, IT, dan lainnya tidak diperlukan. Banyak komunitas masuk begitu saja dan semakin menjadi pragmatis, murah dan mudah.
Adakah, mereka kembali berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih permanen dengan kompetensi keterampilan dan keahlian tertentu!? Jika tujuannya adalah memperoleh pendapatan dan memenuhi kebutuhan minimal, nampaknya sudah cukup.
Baca juga: Pdt. Emmy Sahertian: Aktivis Kemanusiaan Nilai Modus Baru Dalam Trafficking di NTT
"Fighting spirit menjadi pekerja cerdas dan pekerja keras perlahan pudar dan menjadi minimalis.
Mimpi-mimpi menjadi lebih baik di luar daerah (dengan merantau) akhirnya jadi menggiurkan dan pada saat yang sama menghindari menyaksikan kondisi sosial dalam habitatnya yang miskin terus menerus yang sangat sedih untuk dikonstruksikan," katanya.
Dikatakan, saat ini pemerintahan sekelas Jokowi saja 'kehabisan akal' menyaksikan para menteri yang pragmatis dan bermimpi melanggengkan kekuasaan untuk kenikmatan meteka sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Drs-Mikael-Thomas-Susu-M-Si.jpg)