Setahun Seroja Terjang NTT
Setahun Seroja, Warga Amakaka Lembata Gelar Misa di Lokasi Eks Banjir Bandang
sebagian penduduk di Desa Amakaka harus direlokasi ke beberapa kawasan yang dianggap aman
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG-- Warga Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata, menggelar misa, pasca setahun badai siklon Seroja menghantam wilayah Nusa Tenggara Timur, termaksud Amakaka dan sekitarnya. Misa dilakukan di gereja Santa Maria Stelamaris, dan dilanjutkan di kuburan umum yang berada dilokasi bekas banjir bandang.
Kepala Desa Amakaka, Ambrosius Boyang, dihubungi dari Kupang, Selasa 5 April 2022 membenarkan adanya misa yang dilakukan. Dia menyebut, tempat eks banjir itu kini dibangun sebuah tugu, untuk mengenang para pendahulu dalam tragedi April 2021 lalu.
Tugas manusia yang masih berziarah di bumi, menurutnya, memberikan doa untuk ketenangan para orang-orang yang meninggal saat kejadian nahas itu.
"Tugu untuk mengenang pristiwa itu," katanya.
Baca juga: Dinkes Deteksi Dini Penyebaran HIV/AIDS di Lembata
Desa Amakaka sendiri mencatat korban paling banyak di Kecamatan Ile Ape dalam bencana itu, dengan 29 orang. 10 orang hingga selesai masa tanggap darurat dicabut, belum berhasil ditemukan. Salah satunya adalah imam masjid di desa Amakaka, Mansur Mangu. 10 korban itu hingga kini tidak ditemukan jasadnya.
Banjir bandang yang menerjang wilayah itu telah mengakibatkan puluhan rumah, termasuk bangunan gereja, sekolah dan satu fasilitas kesehatan rusak berat.
Bangunan ditempat itu kini tidak bisa lagi digunakan, kecuali gereja yang direnovasi dan dikembali digunakan. Selain itu, hampir sebagian penduduk di Desa Amakaka harus direlokasi ke beberapa kawasan yang dianggap aman.
Mantan Kepala Desa Amakaka, Thomas Tiro, waktu itu menyampaikan dirinya tidak berdaya. Thomas sempat menggunggah tulisannya dalam laman Facebook-nya. Thomas juga korban dalam kejadian itu. Rumahnya dihantam banjir dan tidak bisa ditempati lagi.
Baca juga: Video Perzinahan Warga Amabi Oefeto Timur Masih Diperiksa Tim Ahli
Informasi yang dihimpun, warga di desa Amakaka usai misa di Gereja, kemudian menuju ke tugu dan melaksanakan doa dan bakar lilin bersama. Isak tangis warga mengiringi suasana Senin siang itu. Anak-anak hingga orang tua, ikut dalam acara ini. Semua orang, tanpa kecuali.
Selain berdoa, ragam foto dan video seputar kejadian setahun lalu itu juga ramai di bagikan di jagat Maya. Warga menyebut, kejadian itu menjadi trauma panjang yang tidak berkesudahan. Rumah yang baru dibangun hilang sektika, disapu banjir besar. Begitupun nyawa manusia yang harus menjadi korban dari ganasnya malam awal April itu.
“Di mana bencana banjir bandang di Kabupaten Lembata ini korbannya paling banyak. Sampai siang hari ini total korban di Nusa Tenggara Timur ada 163 yang meninggal dan masih dalam pencarian 45 orang. Ini yang akan kita terus usahakan agar yang dalam pencarian tadi bisa segera ditemukan,” kata Presiden Jokowi dalam keterangan pers di desa Amakaka, 9 April 2021 lalu.
“Kalau kita lihat di lapangan memang keadaannya bebatuan, batu-batu besar yang menyulitkan alat-alat berat kita tetapi tadi sudah saya perintahkan agar terus dicari dan ditemukan yang masih hilang, 45 orang,” tambahnya waktu itu ketika berkunjung ke desa Amakaka, Ile Ape Kabupaten Lembata.
Baca juga: Wabup Rote Ndao Sebut Sinergitas Pemkab dan TNI Penting demi Percepatan Vaksinasi
Jokowi juga bertemu dengan sejumlah warga yang berada di lokasi pengungsian di kantor kecamatan Ile Ape, dan memastikan kebutuhan logistik para pengungsi terpenuhi.
“Untuk pengungsian saya juga sudah pastikan bahwa karena memang tidak begitu banyak yang mengungsi tapi ada, memastikan untuk logistiknya sudah cukup hanya tadi ada dari masyarakat menyampaikan bahwa BBM-nya mahal” kata Jokowi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kenangan.jpg)