Cerpen

Anak Angu

Kawin tidak harus menunggu kaya. Tua baru kaya lalu kapan kawinnya? Sengsara menahan cinta. Cinta itu anugerah, hadiah istimewa abadi pencipta alam

Editor: Agustinus Sape
DOK POS-KUPANG.COM
Ilustrasi 

Dengan penuh semangat Paul berjalan ke arah Iren. Ketika berpapasan, Paul menyatakan 'halo' dan menyorong tangan untuk salam perkenalan. Iren melihat mata Paul semacam bulan purnama bercahaya indah. Ia tersenyum bahagia karena alam bawah sadarnya berkata.

“Inilah laki-laki terbaik yang akan bersamamu sampai akhir hayat.”

Ketika Paul menyentuh telapak tangan Iren, ada aliran darah cinta persaudaraan. Keduanya berjalan ke arah warung terdekat untuk minum dan cerita lebih rapi. Di warung itulah Paul menyatakan cinta yang sesungguhnya.

Herannya, tanpa pikir panjang kepada lelaki asing yang belum pernah ditemui dan dikenal sebelumnya Iren menyatakan dengan penuh gairah: “I love you so much”. Mereka saling menatap dalam waktu yang agak lama.

Bayang-bayang Iren terlihat dalam bola mata Paul. Sebaliknya bayang-bayang Paul terlihat dengan jelas dalam bola mata Iren. Tanpa saling mengajak keduanya berdiri dan berpeluk-cium bahagia dengan disaksikan pendatang lain di warung itu.

Begitulah cinta pertama Paul dan Iren. Ketika dikenang kembali macamnya tidak masuk akal makhluk yang belum pernah saling mengenal spontan bercinta tanpa pertimbangan. Itulah sebabnya, maka disebut cinta Paul dan Iren atas suruhan leluhur.

Di balik cinta abadi Paul dan Iren, ada misi perdamaian yang wajib dilaksanakan. Leluhur sudah bosan dengan kelakuan anak-cucu-cece yang bermusuhan begitu lama. Leluhur juga sudah sangat malu melihat anak-cucu-cece yang berantakan hidup dalam sekat perbedaan yang penuh dengan dendam, benci, iri, dan dengki.  

“Berhenti! Berhenti! Berhentilah bermusuhan! Loda wee maringi pada wee malala menegur engkau dalam perkara-perkara kecil. Seandainya engkau juga belum paham, maka jangan marah engkau akan ditampar dengan perkara-perkara besar. Apakah harus keok baru sadar?”

Tambolaka, 21 Maret 2022

Catatan:

1. Katanga ngenge: kendali (makna denotasi), tidak berhak (makna konotasi)

2. Anguleba: sapaan/sebutan untuk anak om.

3. Loda wee maringi pada wee malala: wilayah subur nan indah.

Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990),  Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain:  Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 , Tanah Langit NTT tahun 2021,  Gairah Literasi Negeriku tahun 2021 .

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved